
Tak terasa waktu pun cepat berlalu. Sudah lima tahun terlewatkan. Setelah Hana dan Johan sukses melalui masa Internship mereka dan mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi) kini mereka memutuskan untuk memperdalam ilmu kedokteran yang mereka peroleh dengan melanjutkan pendidikan mereka ke bidang spesialis.
Hana memilih melanjutkan pendidikannya ke bidang Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) mengingat dulu ibu dan kakaknya menderita penyakit yang sama yaitu jantung. Sedangkan Johan mengambil pendidikan bidang spesialis mata(Sp.M) karena cita-citanya ingin bisa mengadakan operasi mata massal gratis untuk warga yang kurang mampu guna memberantas katarak.
Saat ini keduanya menjalani pendidikan lanjutan ke bidang spesialis masing-masing sambil bekerja. Berkat STR(Surat Tanda Registrasi) yang mereka miliki dan nilai kelulusan yang memuaskan, mereka pun direkomendasikan bekerja di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Jawa Tengah yang berada di kawasan Karanganyar Solo.
Sore ini mereka duduk berdua di taman tengah kota menikmati secup es boba yang barusan mereka beli di jalan sebelum arah ke taman tersebut. Jam tugas mereka sudah usai kini sudah waktunya pulang dan beristirahat.
"Hana...kamu masih ingat enggak?"vtanya Johan memulai.
"Emmm...tentang apa Jo?"
"Dulu sekali waktu kamu baru akan pindah kesini, aku pernah mengatakan sesuatu padamu."
Hana terlihat mencoba mengingatnya kembali. Tapi Hana tak ingat karena sudah terlampau lama. Sudah hampir lima tahun lebih. Hana sulit mengingatnya.
"Maaf...jujur saja aku tak mengingatnya Jo,memangnya apa yang kamu katakan padaku waktu itu?" tanya Hana balik.
Johan menghela nafasnya perlahan. Maklumlah waktu itu sudah sangat lama wanita disampingnya mana mungkin mengingatnya.
"Waktu itu aku pernah berucap padamu, jika suatu saat kita berjumpa kembali aku berharap hubungan kita bukan lagi jadi seorang teman."
"Maksudnya? Maaf aku tidak mengerti Jo."
Johan pun langsung berlutut dihadapan Hana dan mencoba mengeluarkan sesuatu dibalik saku jasnya.
"Maukah kau menikah denganku Luthfia Hana?"
Hana pun terperangah dibuatnya. Laki-laki yang selama ini ia anggap teman sekaligus sahabatnya itu tiba-tiba melamarnya tanpa pernyataan cinta terlebih dahulu. Hana masih diam membisu antara shock dan speechless. Jujur Hana pun bingung harus menjawab apa.
"Maaf...mungkin ini terlalu cepat Hana, tapi aku sudah yakin akan perasaanku ini."
"Tapi sejak kapan Jo ? Kenapa selama ini tidak kau utarakan saja padaku?"
__ADS_1
"Sejak kita masih SMA, aku tidak ingin pacaran seperti yang lain aku hanya ingin langsung serius melamarmu Han?"
Hana bingung. Masalahnya bukan karena perasaan. Jujur Hana pun sama halnya memiliki perasaan ke Johan. Lelaki baik hati ini telah banyak mengorbankan segala waktu yang ia miliki untuk dirinya. Menemani kemana pun ia berada susah senang sudah mereka lewati bersama. Hingga sampai dititik saat ini.
Johan pun sudah merasa yakin kalau Hana tidak memiliki seorang kekasih, karena Johan tahu betul seperti apa Hana.
Sedangkan Hana merasa bimbang. Ada satu rahasia yang selama ini ia tutupi rapat-rapat dari siapapun termasuk lelaki yang ada didekatnya saat ini. Hana takut jika lelaki itu tahu fakta sebenarnya akankah lelaki itu masih meneruskan perasaan terhadapnya ?
Karena alasan itu pula selama ini Hana menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk lelaki manapun. Hana takut kecewa. Sudah pasti mana ada laki-laki yang mau menerima wanita cacat seperti dirinya. Cacat karena sudah tidak suci lagi.
"Jo...sebenarnya aku juga memiliki rasa padamu,tapi aku memiliki rahasia yang belum kamu ketahui."
"Katakan lah Han, aku siap mendengarkannya," bujuk Johan lagi.
"Ini tidak seperti yang kamu fikirkan Jo, aku..aku bukanlah wanita baik-baik. Saranku lebih baik kamu memilih wanita yang lebih segalanya daripada aku.Semisal Desi dia terlihat sangat menyukaimu."
"Kenapa Han ? katakanlah jujur padaku. Hatiku sudah terlalu lama tertambat padamu. Kamu ingat tujuan aku kesini untuk apa? aku hanya ingin menjagamu,melindungimu dan slalu berada didekatmu." tutur Johan jujur.
"Tolong jujurlah Hana apapun akan aku terima kekuranganmu ,"ucap Johan seraya menghapus air mata Hana.
"Jo aku takut kamu akan ninggalin aku jika kamu tahu yang sebenarnya."
"Tidak akan, aku sudah sangat lama mengenalmu Hana, susah senang sudah kita lewati bersama selama disini."
Hana pun terlihat mengambil nafas dan menghelanya secara perlahan. Mungkin ini saatnya ia jujur kepada laki-laki di hadapannya. Dipandanginya lelaki itu lekat-lekat ada perasaan bersalah dihatinya.
Lelaki itu terlihat tampan dan manis dengan kemeja biru yang lenganya digulung setengah. Banyak suster dan orang-orang yang bekerja dirumah sakit terang-terangan mengejarnya, kenapa lelaki manis itu malah memilih dirinya yang gak sempurna ini.
"Jo...sebenarnya..aaku.....akuu...akuu,"ucap Hana terbata.
"Katakanlah Hana..aku akan siap mendengarnya," desak Johan seraya menggenggam jemari Hana di kedua tangannya.
"Jo...sebenarnya aaku....aaku sudah tidak suci lagi aku gagal menjaga kehormatanku, aku bukan wanita yang sempurna Jo, aku ini wanita kotor dan aku juga pernah mengalami keguguran," ucap Hana dengan bergetar menahan isak tangis.
__ADS_1
Johan pun merasa hatinya ditusuk ribuan jarum infus. Wanita yang ia jaga selama ini ternyata sudah melakukannya dengan lelaki lain. Hatinya perih dia bukanlah yang pertama untuk wanita itu.
"Katakanlah Hana..dengan siapa kamu melakukannya?" tanya Johan berusaha setenang mungkin.
"Dengan Kenzi."
Bagai disambar petir disiang bolong Johan terkejut akan pengakuan Hana. Waktu dimana Hana masih berpacaran dengan Kenzi kan sudah sangat lama semenjak mereka masih SMA dan lagi saat itu Kenzi sudah bertunangan dengan Luna. Bagaimana bisa laki-laki itu melakukan hal setega itu kepada Hana seperti ini ? Hana wanita yang baik.
Selama mengenal Hana dirinya tak pernah menjumpai wanita itu menggoda laki-laki lain. Bahkan untuk berbincang-bincang dengan lawan jenis pun jarang.Karena Hana terang-terang menjaga jarak dari mereka.Hanya Johan seorang laki-laki satu-satunya yang dekat dengan Hana. Johan pun mengusap wajahnya kasar.
"Apa Kenzi mengetahui ini,bmaksudku tentang kehamilanmu dulu ?"
Isak tangis Hana pun semakin menjadi. Ia pun terlihat menggelengkan kepalanya tanda bahwa Kenzi tidak mengetahuinya. Lalu Johan pun meraih Hana dalam pelukannya. Hana menangis tersedu-sedu di dada bidangnya.
Air matanya pun membasahi kemeja lelaki itu. Johan pun mengelus lembut kepala Hana untuk menenangkan dan mendekapnya penuh kasih.
Ini kali kedua dirinya mendapati wanita yang ia cintai itu menangis seperti sekarang.
Dulu sekali waktu ibunya meninggal dunia dan sekarang kenyataan pahit yang ia terima.Hati Johan ikut merasakan perih betapa tersiksanya wanita dalam dekapannya selama ini menahan luka sendirian.
"Waktu itu tidak sengaja Jo, aku dan Kenzi dalam pengaruh obat waktu acara prom night dulu, entahlah siapa yang sudah memberi kami obat itu, aku pun tidak sadar sudah melakukannya."
Pantas saja waktu itu dirinya tak menjumpai Hana dan Kenzi usai dirinya meninggalkan mereka berdua. Dan keesok harinya saat ia datang kerumah Hana, wanita itu terlihat tergesa-gesa meninggalkan kota.Ternyata ini semua jawaban atas pertanyaan yang dulu pernah mengganggu fikirannya.
"Aku tahu Hana kamu wanita baik-baik, itu hanya sebuah kecelakaan. Aku bisa mengerti, aku akan terima kamu apa adanya."
"Benarkah ?" tanya Hana seraya mendongak keatas untuk melihat wajah lelaki itu.
Johan pun menganggukan kepalanya mantap.
"Terima kasih Johan."
Mereka pun kembali berpelukan. Kali ini Hana membalas pelukan Johan dengan erat. Ia bersyukur masih ada lelaki yang mau menerima kekurangannya ini. Dan laki-laki dihadapannya ini adalah laki-laki terbaik yang pernah ia temui. Meski sampai sekarang hatinya masih tersisa untuk Kenzi.
__ADS_1