
Darren dan Sona pun terlibat saling tembak dengan mister Donny Tan. Pria paruh baya itu terus memutahkan seluruh peluru dari pistolnya kearah Darren dan Sona. Beruntung mereka berdua masih bisa terus menghindar.
Pria paruh baya itu pun terpojok. Ia sudah kehabisan amunisi. Lalu dibuangnya pistol itu dan berlari dengan cepat menaiki tangga yang curam sebuah menara.
Meski diusianya yang sudah senja, semangatnya masih seperti pria berumur 30 tahunan. Hanya nafasnya yang memburu karena terlibat kejar-kejaran dengan musuhnya yang jauh lebih muda.
"S*al ! tua bangka itu lari kemana ?! kita kehilangan jejak !" geram Darren sambil mengisi amunisinya kembali.
"Sepertinya ia lari kearah tangga itu kak, ayo kita kesana !" balas Sona.
"Oke kita harus terus bersama jangan sampai berpencar."
Gadis Korea itu pun mengangguk. Lalu dengan hati-hati mereka melangkahkan kaki di anak tangga yang sedikit curam dengan tetap menodongkan pistol mereka ke segala arah.
Saat sampai diatas, mereka menemui sebuah pintu besi satu-satunya yang sudah sedikit usang.
"Sepertinya ini jalan menuju keluar, karena aku mampu mendengar suara angin dan deburan ombak. Sepertinya di balik dinding tinggi bangunan ini sebuah lautan. Jadi tetaplah waspada dan berhati-hati."
"Iya kak, Sona juga bisa mendengarnya."
"Ssstt! kau tetap disitu dan aku disini, kau harus bersiap aku akan hitung sampai 3 untuk membukanya," ucap Darren menginstruksi.
Sona pun menghirup udara di sekitarnya lalu menghembuskannya pelan. Ia memegang erat pistol yang berada dalam genggamannya dengan kedua telapak tangannya.
Saat pintu sudah terbuka tampak tak terlihat seorang pun. Lalu dengan masih waspada kedua muda mudi ini mulai menapakan kaki melewati pintu besi itu.
Udara dari laut lepas pun berhembus dengan kencang dan hawa dingin khas lautan menerpa wajah mereka. Namun tiba-tiba sebuah tindakan mengejutkan keduanya.
Duuaaakk !!
Seseorang telah menendang tangan Darren, membuat senjata lelaki itu melambung ke atas. Dengan sigap lelaki bertatoo kapak pada wajahnya itu menangkap pistol milik Darren.
Greep!
Darren yang masih terkejut pun terpaku saat lelaki tua itu menodongkan senjata miliknya tepat di kepalanya. Dan menjadikan dirinya tawanan.
"Menyerah saja bocah ! Dan kita akhiri semua permainan ini !" gertak lelaki paruh baya itu.
Sona pun terkejut, kejadiannya begitu cepat. Dengan segera ia ikut menodongkan pistol miliknya kearah Darren dan lelaki paruh baya itu.
Jika seperti ini, membuat gadis itu bingung. Ia masih ragu untuk menembak karena takut pelurunya malah mengenai lelaki crocodilenya.
"Hei gadis! Jika kau berani menembak maka aku akan lubangi kepala temanmu ini ! Cepat turunkan senjatamu dan lempar kearah sini !" teriak mister Donny Tan dengan menyeringai.
Darren pun mengangguk meminta Sona untuk menuruti kemauan pria paruh baya yang sedang menawannya itu.
Karena ia tidak ingin bertindak ke gabah. Senjata yang musuhnya pegang ini adalah senjata andalan miliknya yaitu Desert Eagle. Ia tidak ingin mengambil resiko karena ia sudah melihat sendiri seperti apa hasil dari senjatanya itu.
Seperti saat senjata itu menembus kaki Lee hingga hancur. Membayangkan saja ia sudah bergidik ngeri.
"Gue belum siap buat mati sekarang, gue pengen tobat dan pengen hidup normal bersama wanita yang bakal menjadi pacar gue yang ke 500," gumam Darren dalam hati.
Sona pun bergetar. Jika sudah seperti ini, ia tak bisa berbuat apa-apa. Baginya nyawa teman lebih berharga.
Lalu ia menaruh pistol miliknya di lantai yang hanya beralaskan semen dan menggeserkannya hingga mengenai mata kaki pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Cepat berbalik dan masuk kembali melalui pintu itu ! cepat ! Dan jangan sekali-kali berani menengok ke belakang maka kepala temanmu itu akan ku lubangi jika kau berani memberontak !" perintah mister Donny Tan kembali.
Pria paruh baya itu tahu bahwa gadis yang ada dihadapannya saat ini bukanlah gadis biasa. Gadis itu menguasai ilmu bela diri dan mahir dalam menggunakan senjata tajam seperti kunai, suriken bahkan katana.
Dan ia masih bisa mengingat beberapa waktu lalu, saat seluruh anak buahnya dulu babak belur oleh gadis kecil itu. Dulu ia memang tak percaya, tapi kini ia sudah melihatnya meski baru melihat dari layar cctv.
Mister Donny Tan pun menunduk dengan masih menodongkan pistol Darren ke arah lelaki itu. Lalu, dengan cepat ia mengambil pistol milik Sona dan membuangnya ke laut di belakangnya.
Darren pun berfikir, melihat ada sedikit celah untuknya. Lelaki macho itu langsung menyikut tubuh si pria paruh baya dan menendang tangan lelaki itu hingga pistol dalam genggamannya melayang jauh dan ikut terjatuh ke dalam laut di belakangnya.
"S*al ! dengan terpaksa gue harus melawannya pakai tangan kosong. Dia tua bangka yang menyebalkan !" gerutu Darren di hati.
Kini baik Darren maupun mister Donny Tan terlibat baku hantam. Mereka terus memukul dan saling memberikan bogem mentah kepada lawannya.
Tiba-tiba pria tua itu mengambil sebilah belati yang ia sembunyikan dibalik jubah tebalnya.
"Sekarang tamatlah riwayatmu bocah s*alan! Aku akan mengirim kepalamu ke ayahmu Albert Ferguso yang bodoh itu !" umpat Donny sambil menyeringai.
"Jangan harap! " geram Darren sambil meringsek maju.
Sat set !
Sat Set !
Beberapa kali Darren masih bisa menghindar, namun kali ini sepertinya sedang sial. Belati itu berhasil menusuk punggung lelaki macho itu membuatnya bersimbah darah.
Seketika tubuhnya bergetar, ia tengah merasakan sensasi terbakar mengalir dari punggungnya yang terkena sayatan belati itu. Nafasnya memburu.
"Haha...nyawamu sebentar lagi mampus bocah! Belati ini sudah ku lumuri dengan racun dari hewan yang mematikan yang akan langsung melumpuhkan syarafmu! Itu pelajaran untuk ayahmu berani-berani mencari perkara denganku ! haha" teriaknya sambil tertawa.
Mendengar ada suara tertawa, Sona kembali lagi keatas dan mendapati Darren sudah lemah dengan luka tusuk dipunggung.
"Pria tua bangka kurang ajar! Berani-beraninya kau melukai crocodile ku !" umpat Sona.
Tanpa banyak bicara, gadis kecil itu pun maju dan mulai mengeluarkan jurus-jurus bela dirinya. Namun s*al ternyata pria paruh baya yang ia lawan mempunyai keahlian yang sama dengan dirinya.
Tiba-tiba sebuah suara menginsterupsi membuat keduanya berhenti melakukan perlawanan.
"Donny Tan berhenti !!" teriak sebuah suara wanita tak jauh dari mereka.
Wanita itu muncul bersama laki-laki dari tangga darurat yang berada di luar menara itu.
"Aku bilang berhenti Donny! kita akhiri semua dendam masa lalu antara kita bertiga !" teriak wanita paruh baya itu lagi.
Meski wanita itu sudah berumur, namun kecantikan masa mudanya tak pernah luntur dimakan usia.
"Ajumma! Ahjussi" pekik Sona tertahan.
Tanpa pikir panjang pria tua itu langsung menarik tubuh gadis itu dan menjadikannya tawanan sambil menodongkan belatinya kearah leher gadis itu.
"Tidak semudah itu Laura ! dendam tetaplah dendam lebih baik kalian pergi atau ku gorok leher gadis ini!" ancamnya sambil menyeret tubuh gadis itu menuju anak tangga.
"Donny, ini bukan masa kita lagi. Please lupakan saja dendam masa lalu antara kita, aku akan memaafkan semua salahmu dan tak akan menuntut," tutur papa Kim dengan tenang.
Mama Laura pun hanya bisa menangis. Saat di bawah tadi ia melihat tubuh dokter Johan sudah tak bernyawa. Tapi ia tak menemukan Kenzi beserta teman-temannya.
__ADS_1
"Diam kau bed*bah ! ini semua gara-gara dirimu sudah berani merebut Laura dariku dan membuatnya pergi melupakanku !" teriak Donny sambil mengingat luka masa lalunya.
"Donny, kau sudah tau kita tidak akan mungkin bisa bersama ! karena ayah kita saling bermusuhan ! Dan kita tidak saling mencintai, itu mustahil Don," ungkap mama Laura dengan derai air mata.
Ternyata penolakan saat Donny muda melamarnya kala itu, menimbulkan dendam dihati pria yang dulunya berkaca mata.
"Kau tau Laura ! aku harus menghadapi perjodohan yang memuakkan ! Aku harus menikah dengan seorang janda tua yang tidak pernah aku cintai. Aku harus melalui hari-hariku penuh dengan tekanan. Melihat hidup kalian berjalan mulus dan bahagia bahkan bisnis kalian pun sukses membuat iri dihatiku mencuat !" jelas Donny.
"Ini karena kau lebih memilih pria s*alan disampingmu itu daripada aku. Padahal aku dulu yang mengenalkan dirinya kepadamu," imbuhnya lagi.
Melihat ada celah sedikit, Sona langsung menendang bagian sensitif pria itu dan merebut belati dalam genggamannya. Lalu menusukannya tepat pada perut pria itu.
"Aaaargh !"
Mama Laura pun menjerit-jerit sejadi-jadinya melihat pemandangan mengerikan didepannya.
Lalu datanglah Kenzi dari pintu dalam sambil menodongkan Desert Eagle miliknya kearah pria paruh baya yang tengah meringis kesakitan.
"Minggir Sona ! gue harus habisi pria tua bangka s*alan ini !" teriak Kenzi dengan raut muka memerah menahan amarah.
Sona pun langsung menyingkir dan berlari menghampiri mama Laura beserta papa Kim.
"Hei tua bangka, aku akan memberi hadiah untukmu!" serunya.
Door !
"Ini untuk teror-teror yang sudah kau lakukan ke keluargaku !"
Kenzi mengarahkan pistolnya ke kaki kanan pria itu.
"Aakh !"
Door !
"Ini untuk Hana, berani-beraninya kalian menculik Hanaku !"
Kini giliran kaki kirinya yang ia tembak.
"Akh !"
Door !
"Ini untuk Johan, berani-beraninya kau membunuh rival abadiku ! dan melukai teman-temanku !" tatapnya ke arah Darren yang meringkuk menahan sakit.
Tembakan terakhir bersarang di dahi pria bertato kapak di wajahnya itu. Menyisakan lubang menganga di tempurung kepalanya membuat semua yang ada disitu menganga menyaksikan kebrutalan seorang Kenzi.
Bahkan mama Laura pun sudah tak sadarkan diri dan jatuh di pelukan suaminya. Begitu pula Sona yang terkejut tak percaya melihat sisi lain dari pria yang selama ini ia kenal hanya anak rumahan.
Karena kini Kenzi terlihat bukan lagi seorang lelaki bisnis yang manis melainkan menjelma seperti seorang mafia yang suka membunuh.
Jangan lupa tinggalkan dukungannya dengan cara like, koment, Gift dan vote (jika berkenan) ☺️
Terima kasih kepada readers yang masih setia mendukung karya receh author amatir ini🤗
Saranghae_😘😘
__ADS_1