
Hari ini Hana berangkat agak tergesa-gesa menuju tempat kerjanya. Karena ia ingin segera memastikan sendiri bahwa apa yang ia lihat kemarin bukanlah sebuah mimpi atau halusinasinya semata.
Setibanya ia kerumah sakit, Hana langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan sesuatu yang sedari kemarin sangat mengganjal hatinya.
"Selamat pagi dokter Hana, ada yang bisa saya banting? ehh...maksud saya ada yang bisa saya bantu?" sapa Meta karyawanan nonmedis yang bertugas di bagian resepsionis.
Meta ini orangnya sedikit latah.Tak heran banyak karyawan rumah sakit yang suka menggoda karena kelatahannya.
"Selamat pagi juga Meta, oh..iya saya ingin tau apakah disini ada pasien baru yang bernama Kenzi Abraham?"
"Sebentar ya dok saya cek data pasien dulu."
Jantung wanita berparas oriental itu pun semakin berdebar-debar menanti jawaban dari petugas resepsionis itu.Setelah beberapa menit kemudian.
"Emm...gini dok, benar sekali apa yang dokter Hana bilang barusan, kemarin kita memang kedatangan pasien dari Jakarta bernama Kenzi Abraham. Pasien dijadwalkan operasi kemarin sore dok."
"Apa ??! operasi? tolong beritahu saya lebih jelasnya Meta ," pinta Hana sedikit memaksa.
"Menurut data yang tertulis disini pasien yang bernama Kenzi Abraham sudah melakukan operasi mata kemarin sore."
"Dan siapa dokter yang menangani operasinya kemarin Meta?"
"Dokter Johan yang mendapat tugas menangani pasien kali ini dok."
(Johan ? jadi Johan mengetahui keberadaan Kenzi ? Kenapa dia tak memberitahuku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kenzi ? Kenapa ia sampai harus melakukan operasi mata ?)batin Hana sedikit panik.
"Yasudah...lalu dimana kamar pasien yang bernama Kenzi sekarang ditempatkan Met ?"
"Kamar VVIP nomer 04 lantai 15 dok."
"Terima kasih atas bantuannya Meta, maaf mengganggu waktumu ,"ucap Hana mengakhiri.
"Sama-sama dokter Hana ini juga sudah menjadi tugas saya."
Hana pun berlalu dari meja resepsionis menuju pintu lift yang terbuka dan memasukinya. Selama di dalam lift Hana tampak panik dan kawatir, tanpa sadar sudah menggigit ujung kukunya hingga habis.
Hatinya berdebar-debar jantungnya pun berdetak tak beraturan. Banyak pertanyaan dalam benaknya yang ingin ia ketahui. Ada apa gerangan yang sebenarnya terjadi ?
Setelah ia sampai dilantai tujuan pintu lift pun terbuka. Saat ia mulai melangkahkan kaki terlihat ruangan pasien ini terlihat agak sepi berbeda dengan ruangan pasien yang ada dilantai bawah. Karena memang ruangan pasien ini hanya diperuntukan bagi pasien kelas VVIP keatas.
Hati Hana semakin berdebar-debar. Jantungnya berdegup kencang. Hana terlihat sesekali menarik nafas dalam dan menghembuskannya sebelum langkahnya menuju pintu kamar rawat yang ditempati oleh Kenzi.
Pintu itu pun terbuka sedikit, saat ia mengucapkan salam tak ada yang menyahuti. Lalu tanpa pikir lagi Hana mencoba masuk kedalam ruangan itu. Begitu masuk Hana pun terdiam mematung ditempatnya.
Rupanya saat ia didalam terlihat Johan dan dokter senior Agus sedang melepas perban mata Kenzi.Karena semua perhatian tertuju pada Kenzi jadi tak ada satupun yang menyadari kedatangan Hana.
"Buka matanya pelan-pelan ya...jangan terburu-buru Ken," titah Johan sebagai dokter yang menangani Kenzi.
"Sepertinya aku mengenal suaramu dok ? Apakah aku pernah mengenalmu ?"
"Kita lihat saja nanti."
Kenzi pun mulai membuka kelopak matanya dan mengerjapkannya beberapa kali.
"Bagaimana ? coba lihat sini ini angka berapa?" tanya Johan seraya menunjuk jemarinya membentuk sejumlah angka.
"Angka dua."
__ADS_1
"Lalu ini ?" tanya Johan lagi.
"Angka lima dok."
"Bagus, coba perhatikan warna-warna di sekelilingmu apakah sudah fokus atau belum ?"
Kenzi pun mulai memperhatikan orang-orang yang mengelilinginya.
"Kau ?? bukankah kau kapten futsal di sekolah dulu ? Rupanya kau sudah menjadi dokter sekarang," tunjuk Kenzi kearah Johan.
"Haha...kau masih mengingatku ?" tanya Johan kemudian.
"Tentu saja...Bagaimana kabarnya Clara sekarang apakah kalian sudah menikah ?"
Johan pun tampak menggaruk-garukan tengkuknya yang tidak terasa gatal. Pasalnya Clara dulu memang sempat menjadi kekasihnya.Tapi itu tak berlangsung lama. Dan kejadian itu sudah sangat lama yaitu awal mereka memasuki sekolah Menengah Atas. Johan pun sudah lama melupakannya.
"Dan ini apakah wanita cantik yang ada dihadapanku ini adalah mamaku ?" tunjuk Kenzi kearah mama Laura.
Mama Laura pun tak kuasa menahan air mata bahagianya karena kali ini putranya sudah dapat melihat dunia kembali. Lalu ia pun langsung memeluk Kenzi dengan erat.
"Kau tahu ken, mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu siang dan malam. Alhamdulillah...doa mama terkabul sekarang kau bisa melihat kembali," ungkap mama Laura dengan air mata yang mengucur deras dari kedua matanya.
"Lalu ini apakah papa? kenapa papa Kenzi terlihat berbeda, dulu rambut papa tidak putih seperti ini ?"
Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa.
"Asal kau tahu, papa bekerja keras mengurus perusahaan sendirian akhir-akhir ini. Papa harus bolak balik Korea-Indonesia setiap akhir pekan. Sedangkan mamamu memilih menemanimu, kau tahu betapa mamamu sangat mencemaskan keadaanmu setiap waktu ?"
"Maafkan Kenzi ma..pa jika selama ini Kenzi telah banyak menyusahkan kalian."
"Tidak mengapa anaku, mulai saat ini mari kita bekerja sama mengurus perusahaan kita yang terbengkalai itu," ucap papa Kim sambil terkekeh.
"Oh...kakakmu sedang keluar membeli balon untuk Keisha karena tadi anak itu sempat rewel minta balon."
"Begitu...lalu siapa wanita itu ma ?"tunjuk Kenzi kearah Hana yang sedari tadi diam mematung dekat pintu masuk kamarnya.
Semua mata pun tampak menatap kearah Hana.Pandangan Kenzi pun menatap dalam kearah Hana mencoba mengingat siapa wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya itu.
Tiba-tiba suasana menjadi hening seolah hanya ada dirinya dan Kenzi dalam ruangan itu. Ketika pandangan mereka saling beradu. Hana masih diam mematung ditempatnya. Air mata pun tak lagi dapat ia bendung. Ia menangis tanpa suara.
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih yakin nanti milikmu
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu, ku yakin kau tau
__ADS_1
Tanpa batas waktu, ku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Aku masih di dunia ini
Melihatmu dari jauh bersama dia
Walau pasti ku terbakar cemburu
Tapi janganlah kau ke mana-mana
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, ku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya, ooh
Aku merindu, ku yakin kau tau
Tanpa batas waktu, aku terpaku
Aku meminta walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Sesaat Kenzi pun dapat melihat kesedihan yang mendalam dari wanita yang yang menatapnya dengan uraian air mata itu.
"Oh...iya, maaf ia adalah dokter Hana partner kerja saya," ucap Johan memecah kesunyian yang mendera ruangan itu.
Sebelumnya Johan sudah membaca riwayat medis Kenzi yang ternyata selain mengalami kebutaan dirinya juga mengalami amnesia sebagian.
Yaitu hilangnya memori ingatan beserta kenangan yang tersimpan diotaknya karena benturan benda keras. Maka tak heran penderita akan melupakan sebagian kejadian yang pernah ia lewati.
Hana pun kembali tersadar dengan segera ia menghapus air mata yang membasahi pipi mulusnya.
"Maaf...ternyata saya salah ruangan, saya permisi dulu."
Setelah menutup pintu Hana pun terburu-buru berlari dari tempat itu. Hatinya sakit. Kenzi sama sekali tak mengingatnya ? Tapi ia mengingat keluarga dan juga Johan. Ada apa sebenarnya? Apa yang sudah terjadi dengan lelaki itu? fikiran Hana pun berkecamuk.
Sedangkan diruangan rawat Kenzi.
"Maaf dok saya harus keluar sebentar, maaf ya ken,maaf juga ya tante, om nanti jika terjadi sesuatu dengan Kenzi segera saja hubungi saya," pamit Johan kemudian.
Johan pun berjalan agak tergesa-gesa. Ia mengkhawatir Hana. Johan tahu ia sudah berbuat kesalahan. Wanita itu pasti akan membencinya karena sudah menyembunyikan kenyataan yang baru saja wanita itu lihat dengan kepalanya sendiri. Setelah dirinya mengetahui bahwa pasiennya kali ini adalah Kenzi.
__ADS_1
Johan berniat tak ingin memberitahukan Hana. Karena Johan takut jika wanita itu tahu pasti akan membuatnya bersedih kembali mengingat bagaimana hubungan mereka dulu berakhir. Johan tak ingin semua itu terjadi maka dari itu ia memutuskan untuk menyembunyikannya dari Hana. Akan tetapi ternyata kini wanita itu sudah mengetahuinya terlebih dahulu.