
⚠PLEASE ! JANGAN BOOMLIKE UNTUK SESAMA AUTHOR SALING MENGHARGAI. KALAU MEMANG TAK INGIN BACA LEBIH BAIK LIKE 1-2 BAB SAJA. KARENA BOOMLIKE ITU BISA MEMPENGARUHI PENILAIAN KARYA DARI SISTEM DAN DIANGGAP CURANG. TERIMA KASIH.
#Hana Pov
Aku masih berpelukan bersama Johan. Meski mataku sudah tak lagi meneteskan cairan bening itu. Tapi sesekali aku masih sesenggukan menahan isak tangisku sendiri. Bagiku yang terpenting saat ini, aku tak ingin kehilangan lelaki manisku.
Tapi aku merasakan bebannya pada tubuhku semakin berat dan bertumpu pada tubuhku yang lebih kecil darinya. Dan pelukan Johan pada tubuhku pun semakin mengendur.
Apa jangan-jangan ? Tidak ! ini tidak boleh terjadi. Aku belum siap menerimanya. Aku belum sanggup !
Dan benar, aku merasakan debaran maupun detak jantung Johan semakin melemah bahkan hampir tak terasa olehku. Pelukannya pada tubuhku sudah benar-benar terlepas.
"Johan.. Jo ! Kamu masih bisa mendengarku Jo ?" panggilku panik.
Matanya sudah terpejam. Namun bibirnya tersenyum seolah ia tak merasakan sakit pada tubuhnya yang sudah kehilangan banyak darah. Wajahnya tampak semakin pucat bahkan bibir casual miliknya semakin membiru. Kurasakan kulitnya yang menyentuh kulitku juga semakin dingin.
Aku pun terhuyung ke belakang karena tak mampu menahan beban tubuh Johan yang tidak ringan secara perlahan.
Jantungku berdebar kuat, bahkan saking kuatnya membuat dadaku merasa sakit yang menghimpit.
Dengan perlahan ku baringkan tubuh Johan ke lantai yang dingin. Dan ku periksa denyut nadi di pergelangan tangan dan tengkuknya.
Tidak ! Ini tidak mungkin !
Aku sudah sering melihat para pasienku menghembuskan nafas mereka untuk terakhir kali. Akan tetapi kali ini begitu terasa menyakitkan saat itu terjadi pada orang terdekat kita.
Aku kembali kehilangan orang yang berarti dalam hidupku. Tuhan ! Kenapa Engkau tega mengambil orang-orang baik di sekelilingku ?
"Johan ! please bangun Jo, jangan tinggalin aku sendiri di dunia ini !"
Tangisku kembali pecah. Aku tak mampu lagi menahan kesedihanku. Aku pastikan penampilanku saat ini sudah sangat berantakan, rambut tampak kusut, mata bengkak dan air ingus yang meleleh bersamaan. Namun aku sudah tak peduli.
Aku merasa menjadi seorang dokter yang tak berguna saat menyaksikan orang terdekatku sekarat dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ini begitu mengingatkanku kepada kematian seluruh keluargaku yang sudah-sudah.
Dan kini ternyata baru ku sadari, aku telah mencintai sahabatku sendiri. Dulu aku sempat berfikir ini terlalu konyol, aku cemburu kepada sahabatku sendiri. Kala itu saat salah seorang teman kuliah kami menyatakan cintanya kepada lelaki manis ini.
Saat itu aku hanya berfikir mungkin karena ini hanya perasaan takutku akan kehilangan perhatian dari seorang sahabat saja.
Kalian tahu sendiri bukan? Dia selalu berlebihan jika itu menyangkut tentangku. Bahkan dulu berulang kali ia mengaku pacarku kepada pria yang ingin mendekatiku. Haha..itu lucu !
Jika mengingatnya kembali membuatku ingin mengulang masa-masa itu. Ternyata kita memang saling menyukai. Namun kala itu tali persahabatanlah yang menjadi alasan kita untuk tidak menuruti ego kita masing-masing. Belum hatiku masih dihantui masa laluku bersama Kenzi.
__ADS_1
Dan aku tak menyangka ia mencintaiku sedari dulu saat aku masih berpacaran dengan Kenzi. Bagaimana bisa seorang laki-laki menyimpan rasa selama itu ?
Ku pandangi wajah damai lelaki manis itu. Ternyata ia menuruti permintaanku untuk tersenyum. Bahkan saat rohnya meninggalkan raganya ia masih sempat mengukir senyum di wajah pucatnya.
Aku memeluk erat wajah yang sepertinya pergi dengan membawa kedamaian. Senyum terakhir yang lelaki manis itu berikan padaku.
"Johaaaaaaan !!" teriakku parau memanggil namanya.
Tuhan kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Jika aku bisa, ingin rasanya ku putar kembali waktu agar semua ini tak terjadi.
Tapi biarlah rasa cintaku ini menjadi penghantar untukmu menuju surganya. Biarlah doaku ini mengiringi kepergianmu wahai lelaki manisku.
Aku masih berharap jika ada keajaiban itu bisa terjadi padanya. Namun kepalaku tiba-tiba terasa begitu berat bahkan pandangan mataku terasa menggelap. Setelahnya, aku tak mampu mengingat apapun lagi.
Pov End
Hana pun pingsan disamping tubuh Johan yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Buliran air asin itu tampak masih mengalir di wajah cantiknya tanpa sadar.
Tap !
Tap !
Tap !
"Johan ! Hana !" teriak Kenzi dan Darren bersamaan.
"Eonni !" teriak Sona dibelakangnya.
Dengan tergesa-gesa menghampiri 2 orang itu. Sona pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Dokter tampan," ucap Sona bergetar.
Terlihat Kenzi memeriksa denyut nadi Hana dan rivalnya secara bergantian.
"S*al ! kita terlambat ! Johan sudah tak bernyawa sedangkan Hana sepertinya ia sedang pingsan," tutur Kenzi pelan.
Sona hampir terjatuh lunglai mendengar penjelasan yang barusan Kenzi lontarkan. Darren dengan sigap menangkap tubuh ramping Sona dan membawanya ke dalam pelukan.
Gadis itu masih menatap tak percaya kepada jasad Johan yang sudah mulai terbujur kaku dan membiru akibat kedinginan.
Darren mengusap pelan bahu gadis itu untuk memberinya kekuatan. Pasti gadis dalam pelukannya itu merasa bersalah karena gadis itu yang sudah mengajak temannya Johan ikut ke dalam misi berbahaya mereka.
__ADS_1
"Darren tolong kejar pria tua bangka itu ! Gue yakin ia belum jauh. Gue akan memanggil tim medis kesini untuk membawa tubuh Johan pulang ke tanah air. Loe harus bisa dapetin dia Darren !" perintah Kenzi.
"Baik, tapi loe harus tetap siaga barangkali ada anak buah mereka yang luput dari pandangan kita dan itu bisa mengancam nyawa loe! Bagaimana pun loe masih target mereka !" pesan Darren.
"Loe tenang aja, gue bisa jaga diri," balas Kenzi menyakinkan.
Darren pun melepas dekapannya pada tubuh Sona dan mulai melangkah, namun sebuah cekalan menghentikan langkah kakinya.
"Aku ikut ! please !" pinta Sona dengan raut wajah sedih.
"Ini terlalu berbahaya Sona, kau lihat Johan teman kita sudah tak bernyawa karena ulah tua bangka itu. Aku tak ingin terjadi sesuatu kembali di antara kita."
"Sejauh ini kamu meragukanku ? Baiklah...aku tak ingin mengenalmu lagi !" rajuk Sona sambil memalingkan wajahnya.
Darren merasa frutasi dibuatnya. Ia hanya tak ingin kehilangan salah satu anggota temannya kembali. Tapi mau bagaimana lagi gadis yang ada dihadapannya saat ini sungguh keras kepala.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji padaku. Kau tak boleh mati disini, masih banyak yang ingin ku bicarakan padamu. Jika sesuatu terjadi padamu nanti, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri," pesan Darren sebelum mereka pergi.
Darren yang kini tanpa sadar sudah merubah aksen bicaranya kepada Sona, mengikuti gaya bicara gadis itu dan entah sejak kapan ia mulai melakukannya tanpa sadar.
Sona pun mengangguk patuh. Dan sebelum pergi, Darren mengusap puncak kepala gadis itu penuh sayang. Lalu meraih jemarinya gadis itu dan membawanya pergi untuk memburu pria tua bangka yang sudah merenggut nyawa teman mereka.
Sedangkan Sona terkesiap dengan perlakuan manis lelaki crocodilenya. Dan mulai mengikuti langkah lelaki crocodilenya itu tanpa berkata lagi.
Petugas medis yang dipanggil Kenzi sudah datang dan mulai memasukkan tubuh Johan yang sudah memucat bahkan membiru ke dalam sebuah kantong jenasah berwarna orange.
Sedangkan Hana, wanita itu sudah dibawa dengan menggunakan tandu menuju rumah sakit terdekat untuk dilakukan pertolongan pertama.
Lalu Kenzi pun turut bergegas menyusul Darren dan Sona untuk memburu pelaku pembunuh Johan. Berani-beraninya orang itu membunuh rival abadinya. Padahal setelah ini ia ingin bersaing secara fair dengan rivalnya itu. Kini ia tak memiliki rival lagi.
Setelah menaklukkan Lee dan anak buahnya bersama Darren dan Sona ia merasa lebih tenang. Bahkan ia berhasil melubangi kaki lelaki sipit itu dengan senjata pamungkas Desert Eagle miliknya hingga hancur. Dan polisi setempat sudah mengamankan anggota mereka yang tersisa.
Namun kenyataan membuatnya shock. Karena salah satu diantara rekannya telah tiada itu sangat memacu amarahnya yang sempat redam.
Dengan sorot mata yang merah yang menyala bagaikan elang. Ia meraih senjata pamungkas Desert Eagle miliknya dan mengisinya dengan amunisi penuh.
"Gue tak akan melepaskan siapa pun yang sudah berani membunuh Johan! Karenanya, gue jadi tak memiliki rival lagi. Awas kau brengs*k ! Sampai ke lubang semut pun gue akan memburumu !"
Jangan lupa tinggalkan dukungannya dengan cara like, koment, Gift dan vote (jika berkenan) ☺️
Terima kasih kepada readers yang masih setia mendukung karya receh author amatir ini🤗
__ADS_1
Saranghae_😘😘