My Ice Girl,Saranghae...

My Ice Girl,Saranghae...
Bersitegang


__ADS_3

Johan termangu di tempat dengan sigaret yang sudah hampir habis diujung jemarinya. Dia bukanlah perokok akan tetapi masalahlah yang memaksanya untuk menikmati benda beraroma tembakau itu.


Lelaki manis itu tampak lelah. Kini ia tak lagi memperhatikan penampilannya yang sekarang terlihat mulai tumbuh bulu-bulu halus di sekitar rahang kokohnya. Bahkan rambutnya pun sudah memanjang hampir melebihi daun telinganya.


Sudah berbulan-bulan ia mencari keberadaan Hana tapi tak kunjung ia temukan dimana pun. Ia hampir putus asa untuk mencari wanita itu. Harus kemana lagi ia mencarinya ? Apakah Hana sedang berada diluar negeri ? Rasanya tak mungkin. Karena barang-barang pribadi milik wanita itu masih ada padanya. Sedangkan untuk keluar negeri pastilah membutuhkan identitas.


Sebenarnya ia masih mencurigai Kenzi, akan tetapi ia tak ada bukti apapun untuk menuduh lelaki itu.


" Hana, kamu sekarang ada dimana ? aku hampir lelah mencarimu. Aku mohon kembalilah...," gumam Johan berharap Hana mampu mendengarnya.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari bayi.


Oeekk....Ooeekkk...Ooeekk !


" Cckk ! apalagi ini ? wanita itu benar-benar tidak becus mengurus anaknya sendiri !" gerutu Johan lalu beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam apartemen.


Tap !


Tap!


Tap!


"Kenapa lagi ?!" tanyanya dengan ketus kepada wanita berambut pirang yang sudah menghancurkan masa depannya itu.


"Gue tidak tahu Jo, sedari tadi ia terus menangis padahal sudah gue kasih ASI tapi tak kunjung berhenti," tutur wanita berambut pirang siapa lagi kalau bukan Clara.


Lalu Johan mengulurkan tanganya untuk menyentuh bayi laki-laki yang ia beri nama Raider itu.


"Astaga ! ia panas sekali ! kenapa loe tak berbuat sesuatu untuk menurunkan panasnya ?!" geram Johan karena Clara tak pandai merawat anaknya sendiri.


Ia bukannya tak peduli, hanya saja jika melihat wajah wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu, semakin hari semakin bertambah rasa bencinya kepada wanita berambut pirang itu. Akan tetapi segala kebutuhan Clara dan bayinya selalu Johan penuhi. Hanya satu yang tak bisa ia beri yaitu hatinya.


Seperti yang sudah ia bilang sebelumnya, ia tak bisa menikahi Clara karena ia tak bisa menikahi seseorang tanpa cinta. Jadi lelaki manis hanya bertanggung jawab terhadap anaknya saja tidak lebih.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit, gue enggak mau ia kenapa-napa !" seru Johan seraya membopong bayi itu dalam dekapannya.


Hati Clara menghangat mendengar nada khawatir dari lelaki manis itu. Meski Johan selalu ketus terhadapnya, setidaknya lelaki manis itu masih mencurahkan kasih sayang kepada anaknya.


"Baiklah.."


Clara pun mengangguk dan mulai menyiapkan kebutuhan bayinya takut jika saja anaknya akan diminta untuk opname oleh dokter.


Lalu mobil Johan pun pergi meninggalkan pelataran apartemen Clara. Sejak sebulan yang lalu mereka pindah ke apartemen karena merasa tak nyaman tinggal dirumah Johan. Selama tinggal perumahan, Clara menjadi bahan pergunjingan para tetangganya dan mereka menganggap kedua orang itu sebagai pasangan kumpul kebo. Tinggal serumah tanpa adanya ikatan.


Padahal selama ini Johan sama sekali tak menyentuh wanita berambut pirang itu. Dan lelaki manis itu pula bersumpah untuk tak akan menyentuh minuman s*alan itu lagi mau seberat apapun masalah hidupnya. Gara-gara minuman itu pula ia harus berakhir dengan wanita yang sangat ia benci.


Saat tiba di rumah sakit dengan segera Johan membawa bayi montok itu ke ruang UGD untuk diberikan pertolongan pertama.


"Dokter tolong anak saya dok, badannya panas dan tidak mau meny*su. Ia menangis terus menerus," pinta Johan.


"Bapak yang tenang ya, biar saya periksa dulu."


Dokter spesialis anak itu mulai memasangkan stetoskop pada telinganya dan memeriksa kondisi fisik dari bayi itu. Tak lupa ia memeriksa suhu panas dari bayi Raider.


"Astaga ! panasnya hampir 40°c pak sebaiknya diinfus saja ya pak takutnya dehidrasi karena tidak mau minum ASI dan saya akan berikan penurun panas juga agar panasnya cepat menurun," jelas dokter yang bernama Sinta itu.


"Apa saja dok, yang penting ia bisa ceria kembali."

__ADS_1


Jujur Johan pun merasa khawatir dengan bayi itu. Mungkin ini memang karena nalurinya sebagai seorang dokter. Dan juga rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Untuk Clara, wanita itu benar-benar seorang ibu yang buruk.


##


Seorang wanita cantik tengah mematut dirinya didepan cermin nan besar yang dipenuhi oleh lampu-lampu rias.


Ia memakai gaun cantik yang pas di body rampingnya. Tak lupa sebuah blazer ia kenakan untuk menutupi bahu mulusnya yang terbuka. Malam ini ia akan berkunjung ke mansion keluarga Abraham. Ia bertekat untuk mengambil hati calon mertuanya terutama mama Laura.


"Loe harus jadi milik gue Ken, apapun caranya meski gue harus pakai cara kotor sekalipun !" gumamnya seraya menampilkan seringai smrik yang misterius.


Setelah mendapat undangan makan malam dari calon ayah mertuanya yaitu papa Kim, ia sangat senang dan antusias. Ia bertekat akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian Kenzi kembali.


Masalah yang tengah dihadapi oleh perusahaan KBA Beauty sangat menguntungkan bagi wanita model itu. Ia bisa menawarkan bantuan akan menghapus semua jejak digital tentang produk KBA Beauty yang sudah terlanjur tersebar luas di media dengan imbalan suatu pernikahan dan papa Kim pun menyetujuinya.


Bagi keluarganya itu bukanlah hal yang sulit mengingat ayahnya pemilik saluran televisi terbesar di negeri ini. Management SA entertaiment yang dibangun keluarganya itu sangat berpengaruh terhadap kelangsungan publik. Mereka bisa saja dengan mudah membekukan media yang memberitakan permasalahan yang tengah dihadapi oleh perusahaan KBA Beauty karena itu sangat mempengaruhi daya tarik konsumen.


Kini mobil merah menyala miliknya terparkir rapi di pelataran mansion Abraham. Kaki jenjangnya pun mulai menapaki anak tangga dengan anggun. Tangan mulusnya terulur untuk memencet bel yang ada dihadapannya.


Ting ... tong!


Ting ... tong!


Pintu pun terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya berpenampilan khas asisten rumah tangga.


"Nona Luna silahkan masuk, tuan dan nyonya sudah menunggu nona di meja makan," ucap bi Inem dengan ramah.


"Baik bi ," balas Luna singkat.


Sampainya ia di ruang makan , wanita model itu langsung menyapa calon mertuanya dan semua orang yang sudah berada ditempat itu.


"Malam om, tante, kak Kanza dan juga....Sona ya ?" tanyanya kearah gadis cute itu.


"Kau masih mengingatku eonni ?" tanya gadis cute itu tampak berbinar.


"Tentu saja kau kan yang waktu itu dikenalkan Kenzi kepadaku sebagai kekasihnya, dan untung saja itu hanya sebuah kebohongan karena calon istri yang sebenarnya kan cuma aku," ucap Luna dengan mengubah aksen bicaranya lebih sopan didepan calon mertuanya.


'Astaga! percaya diri sekali wanita ini,' batin mama Laura dan kak Kanza. Kedua wanita itu hanya melemparkan pandangan satu sama lain sebagai telepati.


Sedangkan Sona, gadis cute itu sudah menekukan wajahnya untuk menahan malu.


Sela beberapa menit Kenzi dan rombongannya pun datang. Siapa lagi kalau bukan Hansel dan Darren. Sesaat pandangan mereka bertubrukan. Jika dulu Darren memandang wanita model itu dengan tatapan memuja kini pandangannya berbeda berganti menatap jijik kearah wanita model itu.


Bukan tanpa suatu alasan, lelaki macho itu cukup mengetahui banyak tentang wanita model itu karena temannya yang di LA adalah teman kencannya. Ia cukup mengenal dunia malam wanita itu.


Dan kini ia merasa kasihan kepada sahabatnya yang harus kembali dihadapkan dengan perjodohan. Apalagi dengan wanita yang sangat tidak cocok kepribadiannya dengan sahabatnya itu. Ia pun merasa heran kenapa keluarga ini sangat doyan sekali dengan perjodohan.


Sedangkan disisi lain Luna menatap tak suka kepada teman-teman yang Kenzi bawa.


"Ayo Kenzi ajak teman-temanmu duduk, kita akan memulai makan malamnya mama sudah memasak


sup gurita kesukaanmu," ajak mama Laura.


Dari duduknya Sona tampak berbinar menatap kearah Hansel.


"Handsome....handsome ! sini duduk dengan denganku !" ucap Sona setengah berbisik.


Hansel pun menurut dan mulai menduduki kursi disamping wanita cute itu akan tetapi tiba-tiba seorang bertubuh kekar menggeser tempatnya.

__ADS_1


"Loe pindah aja sebelah sana biar gue disini ," titah lelaki macho dan lagi-lagi Hansel menurutinya.


"Apa yang kau lakukan ?!" tanya Sona dengan tatapan tak suka.


"Hai manis, kita belum sempat berkenalan kan ? Kenalin gue Darren Ferguso, kalau loe ?"


"Aku sudah tahu siapa dirimu, tapi maaf aku tak berminat untuk berkenalan denganmu," balas Sona ketus.


'S*alan ! gue ditolak dua kali sama gadis ini. Apa berewok gue sudah tak menarik lagi ya? Apa perlu gue cukur biar mulus seperti dua lelaki pencinta skincare itu ?' gumam Darren seraya menatap kearah Kenzi dan Hansel yang ada dihadapannya bergantian.


"Ohh..iya pa ini kenalin teman Kenzi Hansel namanya dan yang itu papa tak perlu tahu dia tak penting ," ujar Kenzi memperkenalkan pria kecil yang tiba-tiba ia bawa ke mansion mereka seraya menunjuk Darren yang ada dihadapannya.


Papa Kim hanya membalasnya dengan senyuman. Kalau mama Laura sudah mengenalnya saat tengah memergoki pria kecil itu bersembunyi di apartemen Kenzi tempo hari.


Darren pun hanya memberengutkan wajahnya kesal. Sudah ditolak wanita, tak dianggap pula oleh temannya. Kenzi memang benar-benar teman luc to the nuct 'lucnut'. Lalu lelaki macho itu pun mengambil sepotong paha ayam dan memakannya dengan kesal.


Diruang makan suasana tampak hening hanya terdengar dentingan dari sendok yang beradu dengan piring. Kak Kanza sudah selesai lebih dulu untuk mengajak tidur putrinya kekamar.


" Ken...pernikahanmu akan dipercepat beberapa minggu lagi, papa harap kamu dan Luna segera fitting gaun untuk pernikahan kalian," titah papa Kim.


Sedangkan mama Laura hanya diam tak menimpali karena sebenarnya ia menentang keras keinginan suaminya itu. Dan Luna menarik sudut bibirnya senang karena sebentar lagi ia akan menjadi nyonya muda keluarga Abraham.


Lelaki maskulin itu pun tampak menghentikan aktivitas makannya dan menaruh kembali sendoknya dengan pelan.


"Please pa, Kenzi tak ingin membahasnya sekarang."


"Kalau tidak sekarang kapan lagi Kenzi !" suara baritonnya membuat suasana meja makan berubah menjadi menegangkan.


Sedangkan Hansel dan Darren pura-pura tak mendengar. Mereka sibuk makan dan makan berusaha menulikan pendengaran mereka dari ayah dan anak yang tengah bersitegang.


Kini Darren mengambil 2 potong udang tepung dan meletakannya dipiring Hansel.


"Ini buat loe, sudah hiraukan saja mending kita makan yang banyak biar tubuh loe atletis kayak gue mumpung gratis," hibur Darren dengan berbisik.


Yang Darren tahu Hansel dan Kenzi sedang menjalani sebuah hubungan tak normal semenjak ia memergoki kedua lelaki itu tengah berc*uman layaknya sepasang kekasih.


Hansel pun mengangguk dan mulai memakan udang tepung yang sudah diambilkan oleh Darren. Lalu Sona pun ikut hengkang karena tidak enak jika harus mendengar obrolan yang tak seharus ia dengar.


"Eomma..Ajeossi Sona ke kamar dulu ya, Sona sudah kenyang."


"Baik, selamat malam sayang," sahut mama Laura.


Sedangkan Luna tampak kesal. Sedari tadi mama Laura menghiraukan dirinya sedari awal ia datang. Wanita paruh baya itu malah bersikap manis kepada orang selain dirinya.


"Aku udah kenyang ma pa, aku ingin pulang ke apartemen saja ," pamit Kenzi sambil mengintruksi ke kedua temannya untuk berpamitan.


"Maaf Luna, sepertinya pernikahan kita tidak akan pernah terjadi karena gue sudah mencintai seseorang," ujar Kenzi penuh penekanan lalu menghampiri Hansel dan menarik lengan si pria kecil itu.


"Kenzi !" geram papa Kim.


Wanita model itu pun langsung menyorot tajam kearah Hansel. Ia tau sebenarnya siapa dibalik si pria kecil itu. Mungkin inilah saatnya.


"Apa karena dia Ken ?! gara-gara wanita cupu itu !" tunjuk Luna kearah Hansel.


Hai kak..


Tolong tinggalkan like dan koment ya

__ADS_1


Selamat membaca..


Saranghae semuanya..😘😘


__ADS_2