
Dialtar berdiri seorang wanita cantik, dengan gaun warna putih tampa lengan, yang dihiasi manik manik kuning emas, dan bunga warna merah muda, menjuntai indah menutupin kaki jenjangnya, didepan gaunya terbuka, memperlihatkan kakinya yang indah, Sebuket bunga mawar putih bertengger manis digenggamanya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai indah, mahkota mungil bertengger manis diatas kepalanya menambah kesempurnannya pada hari ini.
"Bagaimana, apakah pernikahan ini akan kita lanjutkan?," tanya sang pastur itu bingung, karena hampir 20 menit wanita itu hanya berdiri sendiri tampa didampingi sang mempelai pria.
Wanita itu hanya menundukkan kepalanya malu, tampa berani menatap sang pastur.
Terdengar suara bisik dari para tamu undangan mulai terdengar, mareka sedang memperdebatkan sang mempelai pria yang tak kunjung datang.Hal itu semakin memojokan posisi Wanita itu saat ini. Wanita yang berparas cantik, berhindung mancung dan bodynya bak seorang model itu hanya berdiri mematung tampa berani mengangkat kepalanya, wanita yang akrab dipanggil Dinda itu, hanya mampu tertunduk.
"Maaf, dimanakah sang mempelai prianya?" tanya sang pastur. Membuat Dinda semakin galabakan. iya tertunduk semakin dalam, ingin rasanya ia mengecil dan menghilang. Tak pernah ia bayangkan akan mengalamin peristiwa yang sangat memalukan seperti ini.
Ia mencoba menarik nafas, dan menghembuskannya kasar. Belahan ia mengangkat kepalanya menatap sang pastur. Tiba tiba lidahnya seakan keluh, dan bibirnya yang merah merona seakan kaku untuk digerakkan. Ia menghelan nafas prustasi. "Baiklah dinda, cepat selesaikan, sebelum dirimu semakin kehilangan muka." ujarnya dalam hati, memberi semangat untuk dirinya. Bagaimana tidak ia merasa bagaikan narapidana yang akan hukum mati saat itu juga.
Sekali lagi ia mencoba mengabaikan cibiran dari para tamu undangan, dan berlahan lahan menatap lurus kedepan, saat ia hendak bersuara. Tiba tiba posisi mempelai pria sudah terisi. Ia melirik kearah samping kirinya, dimana ada pria asing sedang berdiri disitu.
Sambil menutup mulutnya, melihat sosok asing yang tak pernah ia kenal, namun ia ketahui itu, berdiri tegap disampingnya.
Adinda hanya diam, dalam seribu pertanyaan Bagaimana tidak pria yang ada disampingnya saat ini adalah, adik dari calon suaminya Arenof Anggara. Pria itu bernama Ardean Anggara adik dari calon suami yang hilang entah kemana.
__ADS_1
"Kau?, Apa yang sedang, kau lakukan disini?." tanya Dinda heran. " Aku akan membatalkan pernikahan ini, jadi sebaiknya kau perg..." belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya Pria itu menutup mulutnya dengan tangan. " Kakak ipar diamlah, ucapkan saja janji dan sumpahmu." jawabnya sambil melepaskan tangannya dari mulut Adinda.
Pastur sedikit menyengitkan dahinya, bingung. Tapi itu tak mengubah pendiriannya untuk menyatukan dua sijoli itu dalam ikatan pernikahan. "Hey, bukankan itu Ardean Anggara? , Adik dari Arenof anggara?" tanya salah satu tamu undangan kepada rekannya. "Ia kau benar, lantas dimana kah Arenof Anggara?" tanya rekan tamu itu balik.
Dinda mendengarnya. ia memejamkan matanya pasrah. "Tuhan bila semua ini mimpi, tolong kau bangunkan aku." ucap. lirih.
"Tidak usah kau hiraukan ucapan mareka, Tak ada satupun ucapan mareka yang bisa membunuhmu!." caup Dean seakan bisa tau isi pikiran Dinda saat ini.
"Baiklah, karena mempelai prianya sudah datang mari kita mulai acara ini." ucap pastur meminta persetujuan dari kedua mempelai.
"Mempelai wanita apakah kau bersedia, meneriman pria ini sebagai suamimu. menjagamu, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam hidup maupun mati?" tanya sang paskor kepada sang mempelai wanita.
Dinda meragu. Ia memandang wajah Dean, Dean melirik ke Dinda, seakan tau apa yang wanita itu pikirkan ia meraih tangan kiri Dinda dan mengenggamnya erat. Membuat dinda sadar, bahwa Dean bukanlah sosoknya telah menggalkannya.
"I...ya....saya bersedia" jawabnya lirih dengan suara bergetar.
"Mempelai pria apakah kau bersedia, meneriama dan menjaga wanita ini sebagai istrimu, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam hidup maupun mati?" tanya pastur kepada Dean.
__ADS_1
"Ia, saya bersedia, menjaga dan mengasihinya, sampai maut memisahkan kami berdua?," jawab Dean mantap, membuat para tamu undangan terkesima oleh apa yang Dean katakan, mareka semua tau bila Dean bukanlah mempelai pria yang sesungguhnya.
"Sakarang kau bisa mencium istrimu?," jelas pastur lagi. Dean mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda, sambil berkata, "May I...?" tanyanya lembut. Dinda mengangguk pelan, seakan tersihir oleh ucapan Dean.
Dean mendekatkan bibirnya ke kening Dinda, dan mengecupnya lembut , membuat para tamu undangan bertepuk tangan.
.
.
.Bersambung.
Hay guys, author baru nie.
salam kenal ya?
mohon like, ❤ dan bintang 5nya ya. dan komentarnya tentunya.
__ADS_1