My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Mencoba menjelaskan 2


__ADS_3

Sore ini Dinda baru saja sampai ke apertemennya.


Namun agak heran melihat apertemen yang sunyi tak berpenghuni, sehingga membuat bertanya tanya akan keberadaan sang mertua.


Dinda berlahan memutar handle pintu kamarnya, melihat sang suami tengah berdiri dibalkon sambil menghisap seputing rokok ditangannya.


Tiba tiba ia teringat akan kejadian malam itu, tampa sadar membuat kedua pipi mulusnya memerah seperti tomat.


"Kamu sudah pulang?" tanya Dean semangat sambil mematikan rokok yang ada ditangannya, dan berjalan menghampiri sang istri, Dinda yang masih belum siap, hanya pasrah ketika sang suami tiba tiba memeluk tubuhnya erat, entahlah? namun Dinda bisa merasakan perasaan sedih yang Dean rasakan.


"Dean a..aku gak bisa nafas?" teriak Dinda karena sudah terlalu lama Dean memeluknya, namun tak juga dilepaskan itu.


"Maaf!" jawab Dean sambil melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri, sehingga membuat sang istri bisa melihat pipinya yag membiru itu.


"Dean...? kenapa dengan pipimu?" tanya Dinda panik sambil menyentuh pipi kiri sang suami pelan.


Dean hanya diam sambil mendudukkan tubuhnya disofa, dan menarik tangan sang istri agar ikut duduk dipangkuannya, Dinda hanya diam dengan suara jantung yang terpacu lebih cepat, sehingga membuatnya merasa pusing.


Dean tersenyum melihat tak ada penolakan dari sang istri, iapun mulai mencium rambut halus sang istri, aroma wanila berhasil membuatnya merasa nyaman dan tenang.


"Dean pipimu kenapa? tanya Dinda lagi, namun Dean hanya diam sambil mengelus pelan bokong sang istri.


"Dean apa yang kau lakukan?" teriak Dinda panik sambil mencoba melepaskan diri, namun percuma karena tenaganya yang tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki sang suami.


"Sudah diam? kalau kamu gak diam, aku gak janji loe?" ucap Dean pelan namun mampu membuat Dinda berhenti meronta karena merasakan junior Dean yang berada dibawahnya mulai bangun.


Dean tersenyum geli melihat wajah panik sang istri. entah mengapa membuat moodnya membaik, "apakah aku sudah jatuh cinta dengannya?" tanya Dean dalam hati sambil memeluk pelan tubuh sang istri yang membuatnya merasakan damai tak ada beban itu.


.


.

__ADS_1


.


.


Mama Chinta tengah duduk disofa ruang keluarga seorang diri, entah apa yang ia pikirkan saat ini sehingga membuat kriput yang ada diwajahnya semakin bertambah.


tak berselang lama ia melihat sang menantu tengah berjalan kearah dapur dengan baskom kecil ditangannya yang berisi air hangat itu.


"Inda?" sapanya pelan, Dinda menoleh ke sumber suara, dan melihat mama Chinta tengah melambai kearahnya.


Dinda melangkah mendekat, "Ada apa ma?" tanyanya pelan sambil duduk disamping sang mertuanya itu.


Mama Chinta hanya diam sambil tersenyum pelan, ada keraguan yang terlihat diwajahnya saat itu, namun ia mencoba menepisnya.


"Ada yang ingin mama bicarakan? kamu gak sibukkan?" tanya mama Chinta sambil mengenggam tangan Dinda.


Dinda menggelengkan kepalanya dengan wajah penasaran dengan apa yang hendak disampaikan mertuanya itu.


"Sebenarnya Renof, dia? bukanlah anakku! Dia adalah anak papa Bima dengan seorang wanita, yang papa Bima pun tak mengenalinya." ucap mama Chinta pelan


Dinda hanya diam masih setia mendengarkan cerita mertuanya itu.


"Dulu mama sama papa adalah teman satu kampus, Papa Bima terkenal playboy dan mama terkenal judes dan jutek, papa Bima suka sekali membuat mama marah, pernah suatu hari papa Bima mengerjai mama, untuk menaktir dia makan direstoran berbintang, dan bukan hanya dia, tapi juga beberapa temannya, entahlah mama lupa berapa, tapi yang mama ingat uang mama abis tak tersisa."


kata mama Chinta sambil tersenyum geli mengingat keusilan sang suami.


"Dulu mama benci banget dengan papa Bima, mungkin karena dia playboy, jadi mama gak mau dekat dekat.


Tapi yang namanya jodoh siapa yang tau bukan? buktinya padahal mama sudah mati matian menghindar, namun tetep saja jodohnya papa Bima?" ucap mama sambil tersenyum pelan.


"Tapi mama tak menyesal kok, papa Bima yang menjadi jodoh mama, karena walaupun papa Bima memilikin anak dari wanita lain, namun ia hanya cinta sama mama seorang.

__ADS_1


Mama tau itu." kata mama Chinta yakin, sambil menatap wajah sang menantu yang kini sudah basah oleh air mata.


"Itulah penyebab Dean dan Renaf tidak terlalu akrab, karena Dean yang merasa tersisihkan mungkin, karena diusianya yang menginjak tujuh tahun, tiba tiba mempunyai seorang kakak yang usianya hanya terpaut dua tahun saja.


Sebenarnya bohong, bila mama bilang mama tidak kecewa, ya? wanita mana yang tidak hancur, mengetahui suaminya memiliki wanita lain.


Tapi suatu hari papa Bima mempertemukan mama dengan mama dari Renof yang ternyata bisa dibilang dia wanita malam, karena terlalu bebas itu.


Dan dia menitipkan Renof pada mama dikarenakan penyakit yang ia derita.


Mama pun mengiyakannya karena mama tak tega melihat wajah polos tak berdosa Renof yang menatap mama penuh harapan itu."


Katanya lagi. Dinda memeluk tubuh mama Chinta haru, walaupun Renof bukan anaknya namun selama ini Dinda tak melihat perbedaannya.


Membuatnya merasa bangga dengan perbuatan mulia sang mertua.


.


.


Bersambung


.


.


.


Hay guys maaf yang lama upnya.


author lagi sakit. ini aja masih pemulihan.

__ADS_1


__ADS_2