
Siangnya Dinda masih ada diruang Renof yang tampangnya sungguh sangat memperhatinkan itu.
"Dinda ayu kita cari makan?" ajak Sinta yang saat itu ada dibelakangnya.
"Iya sayang, makanlah dulu!!" suruh mama Chinta yang juga ada disana saat itu.
Sedangkan papa Bima masih diposisi semula.
"Baiklah." jawab Dinda sambil berajak dari tempat duduknya mengikuti Sinta yang berjalan lebih dulu.
...
Mareka makan dikantin RS saat itu,
tiba tiba teringat akan suaminya saat itu, diapun meraih handpone yang ada ditas salempang miliknya.
Untuk menghubungi suaminya tersebut.
" tut....tut....tut...." suara sambungan telepon tersambung.
"Hallo," jawab Dean pelan
"Dean kau dimana?" tanya Dinda lagi.
"Aku ada dibengkel." jawab Dean
"Oh...apakah kau sudah makan?" tanya Dinda dengan nada cemas.
"Sudah." jawab Dean berbohong
__ADS_1
"Oh. baiklah, aku hanya ingin menanyakan itu saja," jawab Dinda
"Ok. sudah dulu ya?" balas Dean sambil mematikan telepon itu sepihak.
Sinta menatap Dinda instens sambil memakan makanan yang ada dihadapannya saat itu.
"Pasti sulit ya?" tanya Sinta tiba tiba.
Dinda menatap wanita dihadapannya saat itu, dia mengerti apa yang dimaksud oleh Sinta, membuatnya hanya bisa tersenyum hambar.
"Kalau boleh jujur, aku lebih suka Renof pergi dengan wanita lain, jadi aku tidak sesulit ini." ucap Dinda sedih.
"Dasar bodoh!! sebenarnya apa yang ada diotaknya saat itu?" ucap Dinda lagi terlihat jelas bila senyum yang ada terlukis dibibirnya saat itu hanyalah palsu.
Sinta menghela nafas berat.
"Sebenarnya Renof melakukannya dengan penuh pertimbangan." katanya sambil meminum jus wortel yang ada dihadapannya saat itu.
Dinda hanya terdiam dengan perasaan sangat barentakkan saat itu.
"Kamu jangan membencinya, Renof hanya ingin memastikan kau aman dengan orang yang baik..." Sinta menghentikan ucapannya yang terhenti oleh isaknya saat itu.
"Kamu harus tau bila ini semua tidak mudah untuknya..." guman Sinta lagi sambil menghapus air matanya yang terjatuh begitu saja, saat membayangkan begitu menderitanya Renof selama ini tampa Dinda.
Dinda hanya bisa bungkam, entah mengapa disini dia merasa dialah penjahatnya.
"Aku tak butuh belas kasihan, apakah aku sesedih itu? sampai patut untuk dikasihanin?" jawab Dinda sambil menyerka air matanya.
Dadanya tiba tiba terasa sesak, sampai sulit untuk bernafas.
__ADS_1
***
Sementara ditempat lain
Dean sedang duduk diruangannya dengan jiwa pergi entah kemana.
Dia merasa bersalah terhadap kakaknya itu, karena selama ini, Dean tak pernah memperlakukannya dengan baik.
Meskipun begitu, Renof selalu tersenyum dan berkata, bila Dean adalah adik kesayangannya.
"Apakah aku salah? apa ini alasan papa lebih mengutamakan Renof?" pikir Dean menerka nerka.
Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Dean saat ini.
"Masuk?" teriaknya sambil mengusap wajahnya kasar saat itu.
Pintu terbuka, tetlihat seorang wanita cantik, dengan Dress warna biru tua yang membaluti tubuh indahnya saat itu, masuk kedalam, tidak lupa dengan senyum manis yang tidak lepas dari bibir indahnya.
Membuat siapa saja yang melihatnya akan meleleh dibuatnya.
"Hay, apa kabar?" ucapnya sambil mendudukan diri dihadapan Dean, tampa disuruh oleh pemiliknya tersebut.
"Cesya!! ada apa kau kesini?" tanya Dean dengan tatapan kaget, melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Aku hanya mau melihatmu, kenapa kau tak pernah menghubungiku?" tanyanya dengan wajah cemberut.
"Maaf aku beberapa hari ini sangat sebuk!." jawab Dean saat itu.
"Bahkan membalas pesanku saja kau tidak bisa, apakah istrimu melarangmu?" Tanya Cesya dengan raut wajah tak suka bila memang itu benar.
__ADS_1
Bersambung
maaf ya pendek otak author sudah mampet bisanya cuma segini.