My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Kedatangan Mama


__ADS_3

Dinda hanya diam merasa tak enak dengan wajah frostasi dari sang suami, walaupun tak dia pungkiri


Ada perasaan lega dan bersyukur karena sungguh sebenarnya dia belum siap, ya walaupun itu adalah kewajiban semua istri untuk memenuhi kebutuh biologis suami mareka.


Dinda memasang baju santainya, setelah selesai dia berniat keluar untuk menyusul Dean yang sudah terlebih dulu membuka pintu.


Sayup sayup Dinda bisa mendengar suara khas dari mama mertuanya dan itu sangat jelas sekali.


Sehingga Dinda mempercepat langkahnya kearah sumber suara, dan benar saja saat ini mama Chinta sedang berdiri diambang pintu apartemen mareka dengan papa Bima disampingnya.


"Mama?" ucap Dinda senang sambil berjalan melewati Dean yang berada disamping pintu saat itu, untuk menghampir sang mertua, sedang kan mama Chinta hanya melebarkan kedua tangannya menyambut menantunya itu.


"Kok gak bilang, mau kesini?" tanya Dinda lagi.


"Kalau mama bilang bukan kejutan dong namanya?" jawab mama Chinta sambil mencubit pipi tirus menantunya itu gemes.


"Tapikan Dinda gak ada nyiapin apa apa ma?" kata Dinda lagi, dengan wajah tak enak.


"Tidak apa apa!" jawab mama Chinta lagi sambil tersenyum ramah.


"EHM, papa gak dibutuhkan nih?" kata papa Bima dengan mimik wajah yang dibuat sedih, sehingga membuatnya menerima cubitan sayang dari sang istri, sedangkan Dean hanya diam dengan wajah datar, berbanding terbalik dengan Dinda yang saat itu Tertawa lepas.


Membuat Dean terpesona melihatnya.


"Iya, maaf pa? Dinda salah,," maaf Dinda dengan wajah menyesal dan memeluk sang mertua pelan.


Membuat papa Bima tersenyum menang, sedangkan mama Chinta hanya mencibirkan bibirnya merasa ada saingan.

__ADS_1


Dinda melepas pelukannya dan mempersilahkan Kedua mertuanya itu untuk masuk. Papa Bima pun masuk meninggal kan sang putra yang masih betah berdiri disamping pintu saat itu, tampa menyapanya. Tersirat kesedihan dari raut wajah kriputnya saat itu melihat sikap dingin dari sang putra , sungguh membuat hatinya sedih.


Mama Chinta yang melangkah dibelakang sang papa tau akan perasaan sang suami, dia hanya menatap sedih putranya itu, putra yang dulunya mudah senyum dan ramah, selalu perduli dengan orang disekelilingnya, kini berubah menjadi dingin dan egois, sungguh mama Chinta sedih melihatnya.


Mama Chinta membelai lembut pipi sang putra, apa kabarmu nak?" tanyanya sedih


Sedangkan Dean hanya mengaguk tanda bahwa dia baik baik saja.


Tapi mama Chinta bisa melihat banyak luka ditangan dan pergelangan kaki putranya itu.


Membuat mama Chinta menyengitkan keningnya


"Kamu balapan lagi?" tebak mama Chinta tepat sasaran. Dean hanya diam tampa mengubis tebakan sang mama, seakan itu sudah biasa baginya, berbanding terbalik denga Dinda yang menjadi pucat pasi mendengarnya.


Bagaimana tidak, dia ikut adil dalam kebohongan Dean, karena tak mengabar Mertuanya itu kemaren.


Walaupun tak sepenuhnya salahnya, tapi tetap saja bukan?.


Papa Bima hanya memandang Dean dingin dengan emosi tertahan sehingga membuat wajah tuanya menjadi merah padam.


Papa Bima menghela napas dalam bagaimanapun juga dia tak mau menambah kebencian dihati putranya itu untuknya, sehingga membuat keadaan semakin keruh nantinya.


"Mama kan sudah ngelarang nak? tapi kenapa selalu kamu langgar?" ucap mama Chinta sedih.


Sehingga membuat Dean merasa bersalah dibuatnya.


"Maaf, gak akan Dean ulangi deh ma?" ucapnya sambil menatap menyesal sang mama.

__ADS_1


"Dari dulu kamu sudah janji nak? tapi apa buktinya?" jawab mama Chinta sambil berjalan memasuki kamar dengan perasaan sedih.


Dan itu sukses membuat Dinda merasa sedih sambil menatap iris coklat Dean garang.


Sedangkan dean hanya mengakan bahunya.


Karena dia juga tau bila akan menjadi begini.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


Sampai sini dulu ya guys?


author mau berangat kerja dulu soalnya.


Jangan lupa

__ADS_1


like ❤ komen n bintang limanya.


Makasih😘😘


__ADS_2