My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Alasan


__ADS_3

Ditempat lain


kini tengah berbaring seorang pria dengan alat medis memenuhi beberapa bagian tubuhnya.


Hanya alat itu yang mampu mempertahankan hidupnya saat ini, tubuhnyanya yang tegap kini bagaikan mayat dengan wajahnya yang pucat pasi.


Disampingnya ada seorang wanita muda dan cantik, yang hanya menatap sedih pria itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Arenof.


Ya inilah alasan Arenof meninggalkan wanita yang amat dicintainya waktu itu, dia tak mau menjadi beban yang akan membuat Dinda menderita nantinya.



Renof menderita kanker otak, dimana dokter sudah memberi vonis bila hidup dari seorang Renof tak akan lama lagi.



Tapi itu tak menyurutkan niat Renof untuk sembuh, terbukti dengan kemo Therapi yang sedang ia jalani sekarang, walaupun itu membuat tubuhnya drop, hingga terbaring lemah seperti sekarang.


.


.


.


Keluarga Anggara kini sedang berkumpul diruang keluarga, sambil menonton TV yang tersedia disana.


Mama Chinta duduk tak jauh dari papa Bima.


Sedangkan sang putra sedang berbaring manja dipangkuan Dinda saat itu, membuat wanita itu merona malu akibat godaan sang mertua yang mengatakan ingin cepat cepat menimang cucu karena melihat kemajuan dari kedua anak anaknya saat itu.



Dean iya iya saja, mendengar keinginan sang mama, berbanding terbalik dengan Dinda yang kini menjadi pucat pasi mendengarkan keinginan dari sang mertua.



Bukanya Dinda tak mau memberikan keturunan, Dinda ingin pokus dengan kuliahnya yang hanya tinggal setahun lagi.



"Sayang, kamu maukan memberi mama cucu?" tanya mama Chinta dengan wajah berharap.

__ADS_1


Sehingga membuat Dinda hanya mengangguk lemas, Dinda tak tega melihat wajah berharap dari sang mertua.


"Sungguh?" tanya mama setengah berteriak membuat papa Bima yang duduk manis disampingnya hanya mengelengkan kepalanya sambil melihat kearah sang istri.


"I...iya!" jawab Dinda ragu sambil menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal.


Membuat Dean yang berbaring sambil menonton dipangkuannya, menatap manik lejel Dinda seakan meminta penjelasan akan ucapan wanita itu.


Dan itu sukses membuat pandang mareka bertemu, sehingga membuat keduanya merasakan getar aneh yang memenuhi hati mareka saat itu.


"Asyik?" teriak girang mama Chinta sambil memeluk papa Bima senang, membuat papa Bima ikut merasa senang.


.


.


.


.


Diwaktu yang bersamaan.


Saat ini Cesya tengah melangkahkan kakinya masuk kesebuah aparteman miliknya, dimana hanya kegelapan yang menyapanya saat itu, yang membuatnya merasa hampa.


Tapi dia kagetkan dengan suara pria diruangan itu sambil menyilangkan tangan memeluk dirinya sendiri.


"Kamu baru pulang?" tanya seorang pria dengan suara khasnya yang serak.


Membuat Cesya gemetar takut, karena dia sangat mengenal suara itu.


Cesya menekan tombol lampu sehingga dia dengan jelas melihat pria itu.


Ya pria itu adalah suami Cesya, Noel Adipati, pria yang pernah membuat seorang Cesya merasakan apa itu cinta, sehingga membuatnya memimpikan manisnya hidup berumah tangga.


Namun semuanya tak semanis hayalan, pria yang baik dan lembur itu, kini tega mengakat tangannya untuk menyakiti dirinya, dan perlakuan kasar Noel sukses membuat wanita itu gemetar ketakutan melihatnya.


"B...bagaimana kau ma..ssuk..?" tanya Cesya takut dengan genangan air mata dimata indahnya seakan siap menetes saat ini juga.


"Apakah begini, sikapmu dengan suamimu sendiri?" sindir Noel sambil berjalan mendekat kearah Cesya, membuat wanita itu seketika memundurkan tubuhnya takut.


"Jangan mendekat?" pinta Cesya takut membuat air matanya seketika jatuh membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


"Jangan takut sayang, aku hanya ingin memelukmu?" Jelas Noel sambil menghentikan langkahnya agar bisa menghilangkan ketakutan dari wanita yang saat ini memandangnya dangan perasaan takut.


Cesya mengeleng tak percaya sambil terus mundur sampai kini tubuhnya bersentuhan dengan tembuk sehingga dia hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya berharap agar pria yang ada dihadapannya tak menyakitinya lagi.


Noel tersenyum senang melihat Cesya tak bisa menghindarinya lagi.


Santak saja dia berjalan mendekat untuk memeluk wanita yang amat dia rindukan dengan lembut dan sayang, dan pelukannya yang lembut itu berhasil membuat tubuh Cesya berhenti bergetar takut.


"Apa kabarmu?" tanyanya setelah lama memeluk rindu wanita itu.


Diusapnya lembut pipi wanita itu, sehingga membuat Cesya memejamkan matanya, memang tidak Cesya pungkiri ada perasaan rindu didalam hatinya untuk suaminya itu.


"Maafkan aku ya?" guman Noel lagi membuat Cesya memandang wajahnya dengan tatapan sendu, dan melihat ada aura kesedihan terpancar dimata pria itu sehingga membuat Cesya menganggukan kepalanya sambil tersenyum indah, membuat pria itu memecium punggung tangannya sambil mengucapkan terima kasih.


Sebenarnya Cesya ragu, tapi apa salajnya memberi sebuah kesempatan, karena tak ada manusia didunia ini yang luput dari kesalahan.


.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


Hay guys maaf ya bila banyak kesalahan dinovel ini, mohon dimaklumi karena author masih pemula.


Jangan lupa like ❤ komen n


bintang limanya.


Makasih


__ADS_1



__ADS_2