
Dean melepas ciumannya, "Sudah Gak Marah?" goda Dean sambil menatap lekat, wanita yang ada dipangkuannya saat itu, sambil tersenyum nakal.
Dinda hanya diam seketika tersadar, dengan kedua pipi yang merah merona dibuatnya, sambil memutar-mutar bola matanya untuk menghilangkan rasa gugup, percampuran malu yang ia rasakan saat ini.
"Oh Tuhan! kok aku bisa lupa ya? aku kan lagi marah!!" ucapnya mengerutuki dirinya yang bisa-bisanya terbawa suasana saat itu.
Malu sudah pasti, sampai rasanya ia Ingin menghilang detik ini juga.
"Hahaha..." Dean tak mampu menahan suara tawanya, yang mulai menggema di ruangan itu, saat melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
Dinda beranjak turun dari pangkuan suaminya itu dengan wajah kesal, dan manik lezelnya melotot sebel, sambil menghentakkan kakinya kesal dengan suaminya itu.
Bukannya takut Dean malah kembali menarik tubuh ramping Dinda, agar kembali terduduk dipangkuannya lagi.
Ditatapnya manik lezel itu dalam, sambil mendekati wajahnya, sehingga kening dan hidung mareka saling bertabrakan, pelan.
"DEG" detak jantung mareka mulai bersenandung ria, saat manik mareka saling terkunci bagaikan magnet yang tidak bisa dihindari.
__ADS_1
"I Love You?" ucapnya tak mengalihkan tatapannya dari wajah cantik istrinya itu penuh damba.
Wajah Dinda kian panas, saat mendengarkan ungkapan suaminya itu, sehingga dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
Untuk menghilangkan getaran aneh yang mampu membuat aliran darah berdesir hebat.
Dean menyentuh dagu istrinya lembut, mencegah agar Dinda tidak memutuskan kontak mata mareka.
"Tatap mataku? dan rasakan jantung ini?!" ucap Dean lembut, sambil meraih tangan lembut itu, dan meletakkannya didada sebelah kirinya, sambil memejamkan kedua manik, seakan menikmati sensasi itu.
Dinda hanya diam, dengan tubuhnya yang kian bergetar hebat, panas dingin mulai melanda, saat kulit mareka saling bersentuhan, bisa ia merasakan, detak jantung Dean yang berdegup sangat kencang, melebihi ritme yang seharusnya.
Dinda mendengus sebel mendengar gombalan receh suaminya itu, "Bohong!!" jawabnya sambil menarik tangan kasar, membuat Dean membuka manik coklatnya pelan.
Melihat wajah cemberut istrinya saat itu.
"Serius, memang aku pernah merasakannya, tapi tidak pernah sedalam ini?" jawabnya seakan tahu, pikiran wanitanya itu, sambil menatap manik lezelnya itu dalam.
__ADS_1
Dinda hanya mencibir bibirnya, mendengarnya, walaupun sebenarnya hatinya berbunga-bunga, namun ia tak mau mengakuinya.
"Sudah besar?" ucap Dean lagi sambil mengelus lembut perut Dinda yang sedikit menonjol itu.
"Berapa bulan?" tanyanya lagi, yang sukses membuat Dinda kaget mendengarnya, karena setahunya, ia tidak pernah memberi tahu suaminya itu.
"Maaf ya?" ucapnya lirih, dengan suara yang mulai bergetar lirih.
Dinda masih diam, memandang suaminya senang bercampur haru, sungguh ia tak menyangka bila suaminya itu akan bersikap seperti ini.
"Maaf?" ucapnya lagi entah sudah yang keberapa kali, sungguh Dinda tidak bisa menghitung jumlahnya.
"Hay, anak papa? sehat selalu ya? ini papa sayang?" ucapnya sambil menyusupkan tangannya ke perut Dinda, membuat rasa geli, sukses membuat bulu-bulu Dinda meremang.
Dinda hanya diam, menikmati sentuhan dari suaminya itu, yang sudah lama ia rindukan.
"Jangan!!" pekiknya kaget kala tangan Dean sudah naik menelusup, masuk dibuah kenyal nan padat miliknya, yang semakin membesar, efek dari kehamilannya, sambil menepis tangan nakal itu.
__ADS_1
"Aku kangen, boleh ya?" ucapnya dengan manik mulai berkabut, tanpa menunggu jawaban istrinya, ia langsung menyambar bibir tipis dihadapannya rakus, sambil menggendong tubuh Dinda ala bridal style, membawanya menuju kamar yang Dinda huni.
Bersambung