My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Kau tidak sendirian


__ADS_3

Dean hanya diam mendengar sindiran Remy untuknya itu.


Chalvin hanya menatap sahabatnya itu intens, ia bisa melihat pancaran. kesedihan diwajah tampan itu, sehingga ia hanya bisa menghela nafas berat, sebenarnya mareka sudah tau dengan apa yang sedang menimpa Renof.


Dan alasan dari Renof meninggalkan Dinda dialtar waktu itu.


Masalahnya setelah tau alasan dari Renof meninggalkannya, apakah Dinda akan kembali kepadanya, lantas bagaimana dengan nasip Ardean? apakah ia akan terluka lagi?.


Itulah yang Chalvin takutkan, karena ia menyadari bila sahabatnya itu sudah menaruh hati kepada istrinya itu.


"Lagi ada masalah Dean? bilang ama kita kita, jangan dipendam sendiri?" guman Morren sambil melangkah mendekati sahabatnya itu.


Dean masih diam, didalam hatinya sangat bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat perduli kepadanya itu.


"Ya, jangan dipendam, nanti kamu bisa stress loe?" sambung Remy dengan wajah sok bijaknya saat itu.


"Kami sudah tau semuanya, jadi tidak ada yang perlu kau sembunyikan dari kita kita!" timpal Chalvin


"Ya walaupun menceritakan pada kami tidak bisa mengubah apapun, tapi semoga bisa mengurai bebanmu!! ucapnya. lagi dengan wajah serius .


Dean hanya tersenyum dengan wajah kusutnya itu.


"Aku tidak apa apa, yang perlu kalian cemaskan sampai seperti ini koq!" jawab Dean sambil memaksakan senyumnya saat itu.

__ADS_1


"Tapi?" ucapnya Remy terhenti dikala manik coklat Dean berpadu dengan manik hitam kelamnya itu.


"Tidak perlu dibesar besarkan, aku tidak apa apa!" jawabnya lagi.


"Ok bila memang kau merasa begitu!" jawab Remy sambil mengangkat kedua tangannya keatas, terlihat ada rasa kecewa diwajahnya mendengar penolakan Dean.


Sedangkan Chalvin dan Morren hanya diam dengan tatapan tampa ekspresi itu.


"Tapi aku sangat berterima kasih atas perhatian kalian, bagaimana pun ini masalah pribadi, dan aku ingin menyelesaikannya sediri, dan aku harap kalian mengerti itu." jawab panjang lebar.


"Ya kalau memang itu keinginannya, kami bisa apa?" ucap Chalvin pasrah.


"Iya Dean, tapi ingat jangan memendamnya sediri, perlu kau ingat bila masih ada kami tempatmu untuk beradu cerita!" timpal Morren juga.


"Iya betul, kamu tidak sendiri!" ucap Remy membenarkan ucapan Morren.


"Iya makasih ya guys?" jawab Dean terlihat ada sedikit aura cerah diwajahnya saat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sementara ditempat lain, kini Dinda sedang berada di kampus sedang bergulat dengan dibeberapa tugas kampus yang diberikan oleh salah satu dosennya tadi, begitu banyak sekali catatan dan tugas yang harus ia selesaikan.


Namun untuk pertama kali pula didalam hidupnya Dinda merasa bersyukur dengan tugasnya yang menumpuk itu dengan harapan bisa mengalihkan pikirannya yang sedang berkecamuh itu.

__ADS_1


***


Ditempat yang bersamaan kini Renof mulai sadar, dan itu sangat membuat mama Chinta dan papa Bima merasa bahagia, begitu pun dengan Sinta.


Renof merasa kaget dengan kehadiran sang mama, wanita yang sudah mengasihinya layatnya anak kandung, walaupun bukan darah dagingnya sendiri, dan kini wanita itu sedang mengelus kepalanya dengan sentuhan sayang.


"M..ma..ma.?" ucap Renof terbata bata dengan suaranya yang tidak teramat jelas, namun masih bisa Chinta pahami saat itu.


"Ia anakku ini mama?" jawab Mama Chinta sambil terisak haru.


Renof bersusah payah menarik bibirnya agar dapat membentuk sebuah senyuman itu.


Namun usahanya itu malah membuatnya semakin terlihat menyedihkan, dimata Mama Chinta, papa Bima, dan Sinta saat itu.


"Maafkan mama sayang?" ucap mama Chinta sambil mencium tangan Renof yang ada digenggamnya saat itu.


Renof hanya menggeleng keras, dengan wajah pusatnya itu.


"Apakah kau mau sesuatu?" tanya mama Chinta saat itu, namun Renof hanya menggelengkan kepalanya.


Bersambung


Jay jangan lupa vote dan likenya ya guys?😊

__ADS_1


__ADS_2