My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Muntah


__ADS_3

Dan disinilah Dinda sekarang tengah dan asyik membuat spaghetti dan segelas susu coklat hangat, untuk sarapan pagi.


''DEG'' Tiba-tiba Dean memeluknya tubuhnya dari belakang, sambil mengelus perut Dinda yang mulai menonjol sedikit.


"Cup" dikecupnya manja pipi kiri sang istri, sambil meletakkan dagunya dibahu kiri Dinda saat itu.


"Lepasin? gerah tau!!" protesnya risih, dan salah tingkah dibuatnya.


Dean hanya diam, tampa memperdulikan, aksi protes sang istri, sambil mengelus-elus perut menonjol itu sayang.


Dinda mencoba meronta, melepaskan diri dari suaminya saat itu, yang sungguh membuat jantung kian tak nyaman, diperlakukan seperti itu.


Namun tak diindahkan oleh suaminya, yang seakan tidak tau malu itu. "Kangen?" ucapnya sembil mencium leher Dinda posesif, membuat bulu-bulu Dinda meremang dibuatnya, dengan dada bergetar semakin hebat tak menentu, entahlah sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.


"Lepasin, nanti aku terlambat?" pinta Dinda sedikit frustasi, sambil menggigit bibir bawahnya, untuk menahan suaranya.


"Gak mau, maafin dulu, baru dilepas, ya?" pintanya manja sambil mengigit kecil leher sang istri gemas, membuat Dinda tak mampu menahan suaranya lagi.


"AAHH" desahnya lolos seketika, tanpa bisa ia kontrol lagi.


Membuat Dean tersenyum tampan, penuh kemenangan, semakin semangat melakukan aksinya itu.


"AAHH" erangnya lagi saat Dean me*r*mas ddnya pelan, replek ia mendorong kepala si pelaku agar menjauh darinya


"Sakit!" protesnya sambil memelototi kedua matanya, gemas.

__ADS_1


"Maaf?" ucap Dean sambil memasang wajah bersalahnya.


Dinda hanya mencibir malas melihat suaminya yang seakan tidak tau malu itu, yang mencoba merayunya itu.


Tampa menghiraukan Dean, ia membawa sarapannya pergi, menuju meja makan yang tak jauh dari sana.


Diikuti Dean yang sejak tadi mengikutinya, bagaikan perangko itu.


Namun belum sepenuhnya Dinda mendaratkan bokongnya dikursi, ia dikejutkan dengan Dean, yang tiba-tiba berlari menjauh.


"Hoek" Dean menutup mulutnya, sambil berusaha menggapai wastafel yang tak jauh dari tempatnya berada.


"Hoek...hoek...hoek..." ia memuntahkan isi perutnya, Tampa tersisa, membuat rasa pahit menari-nari di Indra perasanya saat itu.


Dinda mencoba tak menghiraukannya, Namun saat melihat, muntahnya tak kunjung berhenti iapun tak tega melihatnya.


"Kenapa? masuk angin?" tanyanya dengan nada khawatir.


Dean tak mampu menjawab, dan masih saja memuntahkan cairan bening itu tanpa henti, sehingga membuat dadanya sesak, dan cairan bening berjatuhan, dari manik coklatnya.


Dinda menatap suaminya khawatir, yang tidak bisa ia tutupi.


Setelah beberapa menit kemudian.


Dean terduduk lemah tak berdaya, dilantai marmer itu, dengan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.

__ADS_1


"Yank, cape!" ucapnya sambil memegang perutnya yang terasa sakit, akibat terlalu lama muntah.


Dinda menyerka keringat didahi suaminya lembut, menggunakan kaos yang ia gunakan Tampa sadar, sehingga memperlihatkan perutnya yang sedikit menonjol.


Dean menatap perut itu haru, dengan kedua manik coklatnya yang berkaca-kaca.


"Sarapan dulu ya? mungkin kamu masuk angin?" ucap Dinda sambil mencoba membantu suaminya berdiri, dan mendudukkannya dimeja makan, membuat lamuna Dean buyar seketika.


Dean menutup hidungnya, kala saos spaghetti menyuak masuk di Indara penciumnya kala itu.


"Jauhkan spaghetti ini yank?" pintanya sambil menutup hindung takut.


Dinda menyengit heran, namun segera menjauhkan spaghetti itu dari pandangan suaminya itu, spontan.


Dean menghela nafas legah, "Kamu kenapa sih?" tanya Dinda khawatir, bercampur heran sambil mengoles minyak kayu putih dibadan suaminya itu, yang hanya pasrah saja.


Dean tak menjawab, ia hanya diam sambil memejamkan manik coklatnya, menikmati pijatan istrinya itu, dengan nafas yang belum beraturan.


"Gak papa kok yank, udah biasa, nanti juga sembuh sendiri!" jawabnya lemah, sambil meraih tangan mungil sang istri, menariknya sehingga duduk dipangkuannya saat itu.


"DEG" manik mareka berpadu, membuat mareka diam saling mengunci padangan masing-masing, detak jantung mareka bertalu-talu, seakan seiram bagaikan musik yang syahdu menggetarkan jiwa yang selama ini dipenuhi rindu, yang menggebu-gebu memenuhi kalbu.


Entah siapa yang memulainya, tapi yang pasti kedua bib*r mareka saling bertemu, mengecup lembut, membuat getaran aneh yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.


Cukup lama mareka memadu kasih, dengan saling memberi *******-******* yang mampu meredam rindu yang kian lama mareka rasakan, sehingga membuat mareka lupa akan pertengkaran yang beberapa waktu lalu terjadi, diantara mareka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2