
Malam makin larut kini mareka memutuskan untuk pergi kekamar masing masing yang memang sudah Moren sediakan untuk para sahabatnya itu.
Dean membawa istrinya ke kamar mareka, Dinda yang memang sudah sangat lelah langsung melepas sepatunya dan merebahkan dirinya disana tampa mencuci wajahnya.
Dean hanya memandang istrinya itu heran, karena istrinya itu tidak mengucapkan sepatah katapun untuknya.
Dari tadi Dinda seakan enggan untuk menyapanya, Dean menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat lelah.
Selesai membasuh wajah iapun mengeringkannya menggunakan handuk, sambil berjalan keluar dan melihat istrinya itu sudah tertidur pulas.
Dean pun merebahkan diri disamping sang istri, dan memeluknya erat tubuh Dinda, darah Dean seakan mengalir lebih deras, saperti ada yang menariknya untuk melakukan lebih lagi saat kulit mareka bersentuhan.
Dia menatap wajah tidur Dinda dengan seksama, "cantik." itulah kata kata yang melintas pikirannya saat itu.
Ia membelai pipi tirus Dinda pelan, sehingga sekali lagi dia merasakan bagaikan tersengat listrik kala jari tangannya menyentuh kulit wajah Dinda yang harus itu.
"Apakah kamu takut padaku?" gumannya sambil membelai halus kulit wajah Dinda.
Dan Dean pun memejamkan matanya dengan masih memeluk Dinda penuh kasih.
💐💐💐💐💐
Paginya Dinda terbangun ketika sinar mentari mulai masuk dari balik tirai gorden kamar hotel itu.
Dan merasakan kakinya keram, karena tertimpa sesuatu yang terasa berat, dan pinggangnya yang terasa berat juga, membuatnya mulai mengeliat untuk melunggarkan otot ototnya yang terasa pegal.
Berlahan dia mulai membuka matanya, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tidur suaminya yang damai seperti tidak ada beban sehingga membuatnya tersenyum tipis melihat wajah damai Dean kala itu.
Dean tak mengenakan baju, sehingga Dinda bisa dengan jelas melihat otot otot keras di dada suaminya itu, yang entah mengapa membuatnya merasa teransang, dan dadanya seakan bergetar ketika menatap wajah tampan suaminya itu.
__ADS_1
Dinda melirik ke kakinya yang masih terasa keram, ternyata kakinya tertindih kaki Dean, sedangkan pinggangnya disana bertengger manis tangan Dean yang memeluknya posesif.
Berlahan Dinda menyingkirkan tangan Dean dari atas pinggangnya, saat ia hendak memindah kakinya, Dean terbangun kaget, sehingga membuat manik mata mareka berpadu sangat lama dengan bibir bungkam karena canggung.
"Maaf aku mengganggu tidurmu, tapi kakiku sangat keram?" guman Dinda sambil menunjuk kakinya yang masih tertindik kaki Dean saat itu
"Sorry!" balas Dean sambil memindahkan kakinya dan berjalan memasukin kamar mandi meninggalkan Dinda yang kala itu masih mematung, melihat sikap Dean kepadanya.
Yang entah mengapa membuat dadanya terasa nyeri.
"Ada apa dengannya?" guman Dinda pelan sambil memijat kakinya yang masih terasa keram.
Tak berselang lama Dean sudah keluar dengan hanya mengenakan handuk yang meliliti pinggangnya.
Sehingga membuat tubuhnya terekspos sempurna membuat Dinda tampa sadar meneguk salivanya pelan.
Namun dengan cepat ia menepisnya dikala teringat rasa sakitnya ia rasakan sehabis melakukan itu.
Dean memang sengaja memperlihatkan tubuhnya yang exsotis, karena dia ingin Dinda yang menyerahkan diri dengan suka rela tampa ada paksaan darinya.
Dinda berajak kekamar mandi dengan tergesa gesa karena merasa ada yang aneh pada tubuhnya kala melihat tubuh indah sang suami.
Dean hanya tersenyum sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk.
"Sampai kapan kau akan tahan, dengan tubuhku ini." ucapnya sambil tersenyum tipis
💐💐💐💐💐
Siangnya Dean membawa Dinda pulang ke apartemen mareka ketika sudah berpamitan dengan ketiga sahabatnya melaluin grup Chat WA mareka, karena sahabatnya yang belum terlihat, jadi Dean memutuskan untuk pulang terlebih dulu.
__ADS_1
Setelah memasuki pintu apartemen tiba tiba ponsel Dean berdering dengan nyaring sehingga membuat Dinda yang tadinya berjalan lebih dulu, menghentikan langkahnya untuk melirik suaminya itu penasaran.
"Hallo?"
.....
"Iya."
.....
"Kamu jangan kemana mana, tunggu aku disana ok?" perintah Dean dengan wajah khawatir dan berlari tampa berpamitan kepada Dinda yang masih menatapnya dengan seribu pertanyaan di dalam otaknya saat itu.
"Siapa? apakah perempuan?" pikirnya mulai menerka nerka sendiri, sehingga membuat hati terasa nyeri kala membayangkan bila yang menelepon suaminya itu adalah seorang perempuan.
Karena bisa dia tebak bila orang itu pasti orang yang spesial dihati suaminya.
💐💐💐💐💐
Bersambung
.
.
.
.
Hay guys maaf yang karena author gak bisa bikin mareka bahagia untuk sekarang
__ADS_1
Karena diepisode yang akan datang banyak sekalu penghalangnya, jadi tahan mental ya😘😘😘😊😊😊😊