My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Ungkapan


__ADS_3

Disebuah kamar dengan nuansa putih, terlihat seorang pria muda yang sedang terbaring lemah diranjang rumah sakit tersebut.


Sungguh sangat memperhatinkan melihat keadaan pria tersebut, melihat banyaknya alat yang menempel pada bagian tubuhnya saat itu.


Disebuah kursi terlihat wanita paru baya sedang terisak dalam diam, dia tidak lain adalah Mama Chinta, ya mama Chinta mengetahuin apa yang sedang Renof alami beberapa harinya lalu.


Dia sangat menyesal karena telah menyalahkan putra sulungnya itu, tampat tau alasannya.


"Maafkan mama sayang, andai saja kamu jujur, mungkin semua akan lebih mudah!!" ucapnya disela sela isaknya.


Tiba tiba pintu terbuka, Disana papa Bima sedang berdiri dengan kantong plastik ditangannya saat itu.


"Makan dulu, kamu belum makan apa apa sejak tadi siang?" perintah papa Bima sambil memberikan kantong plastik itu ke sang istri.


Mama Chinta mengambilnya dan berajak menuju sofa yang tersedia tidak jauh dari sana.


Sebenarnya dia tidak nafsu makan, tapi karena lambungnya sudah perih, akibat belum terisi sejak tadi siang, sehingga membuatnya memilih untuk mengisi perutnya saat ini.


"Ma, ada lihat Sinta?" tanya Papa Bima


"Tadi katanya mau pulang mandi pa." wajab mama Chinta sambil memasukan nasi kedalam mulutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dipagi hari


Dinda baru saja membuka matanya karena cahaya mantari yang mulai masuk dari sela selai gorden kamarnya itu.


Berlahan Dinda melirik kesamping kasurnya yang mendapati Dean yang masih terlelap disampingnya saat itu.

__ADS_1


Dinda tersenyum sambil memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan sang suami.


Berlahan dia mulai menyentuh rambut, hindung dan bibirnya.


"Aku mencintaimu?!" ucap Dinda setengah berbisik namun masih bisa didengar.


Dinda pun mengecup kilas bibir Dean sambil beranjak kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sepeninggalan Dinda, Dean membuka matanya, sebenarnya dia memdengar apa yang Dinda ucapkan tadi.


Sehingga membuat bibir tipisnya tertarik membentuk senyum, ya walaupun madih datar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa menit kemudian


Dean terlihat sudah duduk dimeja makan sambil membaca majalah MotoGP ditangannya saat itu.


Dinda memberikan secangkir kopi untuk suaminya itu, kemudian berlalu untuk meneruskan aktivitasnya tadi.


Beberapa menit kemudian


Dinda sudah menyelesaikan masakannya


Kini sudah siap untuk disantap.


Diapunmulai menyajikannya, dan memberikannya untuk sang suami.


Dean hanya diam sambil mulai menikmati spaghetti yang ada dihadapannya saat itu.

__ADS_1


Melihat sikap sang suami membuat Dinda menyengit heran, namun ia enggan menanyakannya dan memilih memakan spaghettinya dalam Diam.


"Hari ini kau masuk kuliah jam berapa?" tanya Dean memecahkan keheningan yang menyeliputi mareka berdua saat itu.


Dinda melirik Dean, sambil meletakkan sedok dan garpunya.


"Jam 11 siang ini, ada apa?" tanyanya dengan matanya tak lepas manik coklat Dean.


"Ikut aku pagi ini?" pinta Dean sambil menyerbut kopinya pelan.


"Kemana? belanja, aku udah belanja kemaren?" sahut Dinda karena memang dia sudah belanja kemaren bersama Wina.


"Bukan!!" jawab Dean sambil menggeleng pelan.


"Trus?" tanya Dinda makin penasaran dibuatnya.


"Nanti juga tau?" jawab Dean sambil mulai membaca lagi.


Dinda hanya menghela nafas pasrah, sebenarnya dia sangat penasaran, namun diam memilih untuk diam dan mulai melanjutkan makannya sampai habis.


Sesakali Dean melirik kearah Dinda saat itu yang terlihat cemberut.


Sehingga membuatnya tampa sadar tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.


"Apakah dia milikku? ataukan hanya titipan?" ucapnya dalam hati dengan masih melihat Dinda dalam diam.


Bersambung


Hay jangan lupa vote dan likenya ok😉😉

__ADS_1


__ADS_2