
Sudah dua hari sejak kejadian itu, Dinda memilih untuk diam. Ia mencoba untuk berdamai dengan hatinya.
Melihat betapa Dean begitu memperdulikan Cesya, melebihi dirinya, yang berstatus istri dari seorang Dean sendiri.
Membuat Dinda kadang tertawa miris, "Bila tidak ada aku dihatinya, lantas apa kata cinta yang Dean ucapan kepadanya waktu itu?" tak terasa cairan bening membasahi pipinya.
Hampir setiap hari Dinda mendapat sms, yang berisi foto Dean yang sedang memeluk Cesya sayang, entah siapakah yang mengirimnya, Dinda pun tidak tau, dan hampir dua hari pula ia tak pernah melihat batang hidung suaminya itu, sungguh miris memang.
Dinda memandangi jam yang membalut pergelangan tangannya saat itu, lirih.
Dipandanginya koper besar yang ia siapkan tadi malam.
Perih ya itu pasti, bagaimana pun juga Dean sudah ada di relung hati nya yang paling terdalam.
Dinda mencoba menghubungi nomor suaminya, yang entah sejak kejadian itu menjadi susah sekali untuk dihubungi.
__ADS_1
"Aku tau bila aku bukan proritasmu, tapi apakah tidak ada sedikitpun rasa khawatir untuk, dibenakmu?" pikir Dinda sedih.
Sambil menarik koper besar yang sejak tadi hanya dipandanginya itu.
Ya Dinda memutuskan untuk ikut ke Singapura, dimsna teman-temannya yg sudah lebih dulu berangkat kesana, untuk melakukan magang selama tiga bulan.
"Maaf bila aku tidak pamit padaku, hari ini aku ingin berangkat ke Singapore, sampai jumpa..." ketik Dinda di ponsel yang sedari tadi ia genggam.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Ditempat lain saat ini Dean tengah menemani Cesya diruang bernuansa putih itu, ya dua hari yang lalu Cesya masuk rumah sakit, ia menabrak pembatas jalan, untung hanya cidera ringan, hanya pergelangan tangan dan dahinya saja yang terluka ringan. Namun berhasil membuat dahinya bengkak dan bagian mata kiri Cesya memerah, akibat terbentur ster mobil.
Dean yang sedari tadi duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur Cesya pun menoleh menatap sahabatnya itu.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan mu sendiri disini,dengan kepadamu yang seperti ini?" jawab Dean Tampa mengalihkan tatapannya dari koran yang ia baca sejak Tadi.
__ADS_1
Ya Cesya hanya sendiri disana, karena Siska sedang kekampus, sedangkan suaminya sendiri, ia tidak mengabarinya.
"Maafkan aku Dean, gara-gara sikapku, kamu jadi susah.!" ucap Cesya penuh sesal.
Dean menatap Cesya intens, "Tidak apa, aku yakin Dinda akan mengerti, dia sangat dewasa!" jawabnya lirih, ya begitulah yang Dean seimpulkan untuk istrinya itu selama ini.
Dengan sikap Dinda yang mandiri, dewasa,dan pengertian terhadapnya, sekalipun Dinda tidak pernah bersikap egois, seperti dua harinya lalu. Dan itu memang berhasil membuat Dean sedikit kaget, dibuatnya.
Namun karena mengkhawatirkan sahabat nya itu ia mengabaikan kemarahan Dinda, karena ia tau Cesya lagi lebih membutuhkan dirinya saat itu.
"Tunggu apa kah ini benar?" pikirnya sambil memegang dagunya, dan berpikir sejenak.
Dua hari ini,ia tak pernah ngobrol dengan istrinya itu, karena ia pulang selalu larut malam, dan pagi-pagi sekali ia sudah berangkat menjenguk sahabatnya itu, dimana sang istri masih tidur.
Dan terbesit rasa tak enak hati, dibenaknya karena seakan mengabaikan istrinya sendiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nanti akan ku jelaskan semuanya."pikirnya lagi.
bersambung