My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Semakin Drop


__ADS_3

Malamnya Dinda baru saja menerima telepon dari mama Chinta yang memintanya untuk pergi ke RS.


Dinda yang saat itu masih berada ditempat tidur cepat cepat bangun menuju kamar mandi mareka.


Terlihat Dean masih tidur dengan lelap karena aktivitas panas mareka beberapa jam yang lalu.


Tidak sampai 10 menit, Dinda sudah selesai mandi.


Dinda memakaikan pakaian dengan tergesa gesa saat itu.


Sambil melirik suaminya yang masih tidur sangat pulas itu.


Dinda tampak berpikir, dan akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan suaminya itu walaupun sebenarnya ia tak tega.


Dinda mencek duel pipi Dean pelan, namun mampu membuat Dean terganggu karena tangan Dinda yang dingin karena habis mandi itu.


Berlahan Dean membuka manik coklatnya, dan langsung disuguhkan dengan pemandangan indah diharapkannya saat itu.


Bagaimana tidak saat ini Dinda sedang tersenyum manis padanya.


Dean berlahan membelai pipi tirus Dinda, dan tangan nakalnya mulai menjalar kemana mana.


Namun saat ia mulai memasukkan tangannya dibalik baju yang Dinda kenakan saat itu.


Dinda lebih dulu menghentikannya.


Dengan cara memegang tangan Dean erat.


Dean menatap manik lejel Dinda dengan tatapan memelas, namun Dinda menggelengkan kepalanya.


Membuat Dean hanya bisa menghela nafas kecewa saat itu.


"Mama meminta kita untuk ke RS, ayu cepat siap siap?" pinta sambil menatap suaminya yang masih bertelanjang dada itu.


Dean menyengat dahinya heran tampak berpikir saat itu.


Beberapa saat kemudian iapun beranjak turun dari tempat tidur tampa mengenakan pakaiannya.

__ADS_1


Membuat manik lejel Dinda melorot, sehingga membuat kedua pipinya bersemu merah dibuatnya.


Depannya memang sengaja menggoda istrinya itu hanya tersenyum gemas.


Dan terlintas pikiran usil dibenaknya saat ini untuk mengerjai istrinya tersebut.


Dinda menutup kedua matanya panik melihat Dean tiba tiba berjalan menghampirinya saat itu.


"Dean, apa yang kau lakukan?" teriak Dinda panik dengan jantungnya yang hampir copot saat itu.


Dean berhenti dihadapan Dinda, membuat wanita itu spontan menahan nafasnya.


Dean tersenyum sambil menyetujui pipi istrinya yang sudah memerah padam itu..


"Apa?" tanya Dinda panik sambil membuka matanya menatap apa yang Dean lakukan saat itu.


Dean hanya tersenyum simpol sambil mengambil handuk yang terletak disamping Dinda saat itu.


Kemudian beranjak masuk ke kamar mandi, meninggalkan Dinda yang hampir jantungan dibuatnya.


"Jantungku?" ucap Dinda sambil merentangkan tubuhnya diatas tempat tidur saat itu, sambil mencoba mengatur nafasnya saat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dinda dan Dean baru saja memasuki RS, banyak pasang mata yang menatap kagum kearah mareka saat itu. Terutama kepada Dean, karena banyak perawat wanita disana, membuat Dinda yang menyadarinya, menjadi kesal dibuatnya.


Dean yang menyadari perubahan aura istrinya itu pun, dengan sigap menggandeng tangan Dinda sambil menatap lembut manik lejel itu,


Seakan berkata.


"Aku hanya mencintaimu!" Dindapun hanya tersenyum membalas senyuman suaminya itu.


***


Kini Dinda dan Dean sudah ada didepan pintu, terlihat keraguan diwajah Dean saat itu, Dinda yang sadar akan perubahan raut wajah dari suaminya itupun berkata.


"Tidak apa apa." Dinda tau bila hubungan Dean dan Renof kurang baik.

__ADS_1


Sebenarnya Dean ragu, namun akhirnya iapun masuk juga.


Terlihat Disana Sinta yang masih setia ada disamping Renof saat itu.


Sinta. memandang searah pintu, dimana keberadaan Dinda dan Dean saat ini.


"Kau sudah datang?" tanya Sinta ramah sambil menatap Dean dengan tatapan mengintai.


"Iya, mana mama, dan papa Bima?" tanya Dinda basa basi saat itu.


"Oh tante dan om, lagi keluar cari makan!" jawabnya masih menatap Dean dengan tatapan meneliti.


Membuat Dean yang menyadarinya sedikit risih dibuatnya.


Dean duduk disidangkan yang tak jauh dari sana, sedangkan Dinda ia memilih menghampiri ranjang rawat Renof saat itu.


"Gimana, apakah ada perkembangan?" tanya Dinda ke Sinta yang masih curi curi pandang kepada suaminya saat itu.


Sinta mengarahkan pandangannya pada Renof saat mendengar pertanyaan Dinda tadi, Sinta hanya diam sambil menghela nafas berat saat itu.


Pikiranya sangat kacau saat itu, karena didunia ini hanya Renof lah satu satunya keluarga yang dia punya.


Saat mendengar penuturan Dokter yang mengatakan bila umur sepupunya itu tidak akan lama lagi.


Kata kata itu bagaikan tamparan keras yang Sinta rasa saat itu.


Dinda hanya diam dengan perasaan kacau berantakan.


Tak terasa cairan bening kembali membasahi pipi mulusnya saat itu.


"Ya Tuhan, apakah ini memang jalanmu, bila memang benar, bolehkah aku meminta padamu? bila memang Renof bisa sembuh, tolong kau sembuhkanlah dia, tapi bila memang kau ingin ia lebih cepat menghadapinya, tolong bebaskanlah segala penderitaan yang ia rasakan saat ini." ucap Dinda dalam hati, Dinda sudah ikhlas melepaskan Renof saat ini, karena Dinda sungguh tak tega melihat penderitaan Renof saat ini.


Yang tubuhnya dipenuhi alat medis, seakan alat itulah yang mempertahankan nyawanya untuk bertahan selama ini.


Bersambung


Hay, jangan lupa vote dan likenya ok?

__ADS_1


Kalau ada typo tlg kasih tau, karena tadi author tergesa gesa mulusnya.


__ADS_2