
Siangnya Dinda dan Wina sedang nongkrong dikantin sambil menikmati secangkir kopi.
Sebenarnya Wina masih tak percaya bila Renof tega ninggalin sahabatnya itu.
Karena Wina tau sendiri bila Renof cinta mati sama Dinda, terbukti dengan apa yang dia lakuin selama ini. Wina tau semua itu bukan palsu.
Terbukti selama ini Renof toh menjagain Dinda dengan tulus, Jangankan nyakitin Dinda, menolak permintaannya saja dia tak tega, bagaimana bisa Renof menyakiti Finda coba?.
Tapi Wina memilih untuk diam dan gak mau membahasnya, karena tak tega melihat kesedihan sahabatnya itu, Dia tak mau membuat sobatnya itu bersedih.
"kekelas yuh?" ajak Dinda yang kala itu sedang duduk disamping Wina.
Sontak saja membuyarkan lamunan sahabatnya itu.
"Yuh.?" jawab Wina sambil berdiri dari tempat duduknya kala itu dan berjalan lebih dulu meninggalkan Dinda yang masoh duduk manis dibangkunya.
Dinda menyipitkan matanya, melihat wajah serius sobatnya itu.
"Ada apa? kok kaya gak mood?" tanya Dinda yang kala itu sudah ada disamping Wina.
"Tidak ada, mungkin terlalu lelah aja, kamu tau kan menjaga orang sakit sangat melelahkan?" sautnya panjang sambil meneliatkan pelan karena otot otonya yang sakit semua.
Membuat Dinda mengaguk paham.
"Gimana abis pulang kuliah kita nyalon?"
usul Dinda semangat,
"Boleh kamu yang bayar?" jawab Wina manja, dengan tatapan berbinar binar, persis aman kucing, membuat
Dinda tertawa kecil melihat tinggah sobatnya itu.
__ADS_1
"Gila...Bayar sendiri sendiri lach?" jawab Dinda sadis.
"Kamu tuh ya, tega banget sama teman sendiri?" kata Wina sambil mengembukkan kedua pipinya, pura pura marah.
Membuat Dinda menatapnya jengah, baiklah nanti aku pikirkan deh. kamu tau kan ini bulan tua, gajih pensiun ortu aku belum masuk. jelas Dinda lagi.
"Loh, emg kamu gak dikasih Duit ama suami kamu Nda?" tanya Wina Heran.
Dinda menggeleng kan kepalanya.
"Gila banget tuh cowok, pelit sama istri sendiri!" cerocos Wina kesal.
Sedangkan Dinda hanya diam tak perduli, menurutnya itu wajar, karena diakan bukan suami Dinda yang sebenarnya, melainkan adik dari suami Dinda jikalau saja suaminya itu tidak kabur.
"Mungkin dia lupa, soalnya kemaren dia terburu buru berangkat." bela Dinda tak tega mendenger sumpah sarapah sobatnya itu, yang diarahkan Kepada Suaminya itu.
.
.
.
.
Karena rapat bulanan yang biasa di ada kan perusahan sudah selesai, jadi ia berniat untuk mengurus usahanya yang ada di jakarta.
Ya sebelum menggantikan Renof Dean dulu tinggal Di jakarta sendiri, karena sikap papanya yang terkesan lebih menyayangi Renof ketimbang dirinya membuatnya memilih keluar dari rumah orang tuanya.
Dari kecil papa Bima terus membanding bandingkan ia dan kakaknya itu, Sehingga apapun yang Dean lakukan selalu salah dimatanya.
Itulah yang membuat Dean muak, dan memilih
__ADS_1
pergi.
Kini Dean sudah memiliki usahan sendiri, Sebuah Bengkel yang mulanya kecil namun kian beranjak naik. Bahkan kini dia sudah memiliki kariyawan tetap,
Suara Hape Dean berdering sontak Dean melirik benda pipih persegi itu, dan melihatnya pelan. tertara nama Cesya disana, sehingga Dengan cepat Dean memencet tombol hijau.
"Halo?..Ada apa? baik kamu jangan kemana mana ya? tunggu aku?" Jawab Dean panik sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Tiga puluh menit kemudian Dean sudah sampai disebuah apartemen Ditekannya pin aparteman itu dan masuk kedalam, dilihatnya ruangan yang Gelap, iapun menghidupi lampu dan terkejut melihat seorang wanita sedang menangis dengan wajah memar membiru.
Sehingga membuat Dean mengepalkan tangannya menahan emosinya yang sudah naik hingga keubun ubun saat itu.
"Apa kah dia menyakitimu lagi?" tanya Dean sedih sambil memeluk wanita itu iba.
"T...tidak ini bukan salahnya." jawab wanita itu berbata bata oleh isaknya.
"Sudahlah Cesya, kau tak perlu membelanya, karena aku tidak buta?" bentak Dean kesal sambil memegang pipi biru wanita itu.
Wanita yang bernama Cesya itu hanya Diam mendengar kemarahan Dean saat itu.
.
.
.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.Hay guys Termakasih udah mampir.
Jangan lupa like n komentarnya ya?