
Disinilah Dean sekarang dikamar dengan nuansa putih, dan aroma obat obatan yang begitu pekat, di indra penciumannya, ya saat ini Dean sudah ada di RS, tepatnya dikamar rawat Renof.
Dan saat ini ia hanya berdua saja dengan kakaknya itu, karena Renof ingin berbicara empat mata pada dirinya.
Namun sampai detik ini hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
Karena berdua seakan asyik dengan pemikiran mareka sendiri.
Dean sebenernya bingung bagaimana cara menyapa sang kakak, karena mereka tidak pernah dekat selama ini.
Dan hanya hening yang menyelimuti kedua kakak beradik itu saat ini.
Renof menarik sudut bibirnya hingga membentuk seules senyum disana. Ia sangat memahami sikap adiknya itu, meskipun mareka tidak dekat, namun ia sangat memperhatikan Dean tampa sepengetahuannya pria itu.
"Terima kasih!." ucapnya dengan suara yang tidak terlalu jelas, namun masih dapat Dean baca dengan gerakan bibirnya itu.
Dean hanya Diam tampa menjawab dan menyela ucapan kakaknya itu.
"Terima kasih, karena mau menggantikan aku!!" ucapnya lagi dengan susah payah untuk menyelesaikan kalimatnya tersebut.
Dean hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang dimaksud dari kakaknya itu.
"Apakah kau bahagia bersamanya?" tanya Renof lagi, dengan suara bergetar.
__ADS_1
Dan sekali lagi Dean hsnya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk pertanyaan Renof padanya saat itu.
Dan jawabannya sukses membuat Renof menghela nafas legah mendengarnya.
"Tolong kau jaga dia, anggap saja sebagai permintaan maaf dariku, atas segala kekacauan yang terjadi oleh diriku selama ini!?" ucapnya lirih, entah mengapa ia merasa sangat bersalah terhadap adiknya itu selama ini.
Dean hanya Diam sambil menatap Renof binggung dengan apa yang baru saja ia dengar itu.
"Maafkan aku!! aku tau kehadiranku membuatku tidak senang, bahkan membuatmu hampir kehilangan sosok mama yang penyayang, tapi semua itu akupun juga tidak menghendakinya!" ucap Renof dengan raut bersalah sehingga membuat Dean menjadi binggung harus berbuat apa saat itu.
"Ini bukan salahmu!!" Dean menghentikan perkataannya sambil menatap Renof sedih.
"Ini takdir, bahkan kamu, dan akupun tidak bisa menghindarinya!" ucapnya lagi sambil memaksakan tersenyuman dibibirnya saat itu.
"Tidak ada yang perlu ku maafkan? dan seharusnya akulah yang meminta maaf padamu, maukah kau memaafkan aku?" tanya Dean balik membuat Renof terharu mendengarnya.
"Aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf sekalipun!" jawab Renof sambil tersenyum bahagia.
Dean hanya Diam dengan rasa bersalah, menyesali perlakuannya selama ini terhadap kakaknya itu.
Ia yang selalu menganggap Renof musuh, dan begitu membenci pria tersebut, bahkan sudah memaafkan perbuatannya dimasalalu.
Dean hanya tersenyum malu saat ini.
__ADS_1
" Boleh kah aku meminta sesuatu?" tanya Renof lagi dengan wajah lemahnya saat itu.
"Hmm, apa?" tanya Dean penasaran sambil menatap wajah kakaknya itu yang masih terlihat begitu pucat.
"Bisakah kau memanggilku, kakak, seperti yang kau lakukan dulu?" ucap Renof pelan dengan wajaglh penuh harapnya.
Jantung Dean sedikit nyeri mendengarnya, ia begitu menyesali perbuatannya selama ini terhadap kakaknya tersebut. Berkali kali ia mengutuk tidak kan bodohnya yang seakan tak mampu melihat kasih sayang tulus yang terpancar jelas dimata kakaknya itu.
"Kakak!! maafkan aku!?" guman Dean penuh sesal sambil memeluk tubuh lemah Renof saat itu.
Renof hanya mengangguk bahagian, karena kalimat yang sejak dulu ingin ia dengar dari bibir Dean kini bisa ia dengar.
"Tolong ucapkan sekali lagi?" pintanya
"Kakak!! tolong cepat sembuh ya?" ucap Dean lagi sambil melepaskan pelukannya ditubuh sang kakak.
Yang terlihat sesak oleh tubuhnya saat itu.
"Terima kasih!!" jawab Renof dengan wajah penuh haru karena bahagia, terlihat ada kelegaan diwajahnya saat itu.
Bersambung
jangan lupa vote dan likenya.
__ADS_1