My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Tak akan mengecewakanmu


__ADS_3

Sebelumnya


Membuat Dean tersenyum genit kearah sang mama.


Sehingga mama Chinta hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang putra, Senyum yang entah kapan terakhir ia melihatnya, mama Chinta sudah lupa, dan kini ia bisa melihatnya lagi.


Sehingga membuatnya tampa sadar menitikan air mata haru, melihat senyum sang putra yang sudah sejak lama ia rindukan itu, dan kini bisa ia lihat lagi, dan ini semua berkat Adinda putri, wanita yang seharusnya menjadi istri sesulung Anggara itu.


Mampu menerbitkan mentari cerah dikeluarga kecilnya saat ini.


"Mama? mama kenapa nangis?" tanya Dinda kaget melihat linangan air mata ditelupak mata keriput mertuanya itu.


Mama Chinta mengeleng pelan sambil mengenggam tangan Dinda sayang, "Mama senang sekali, terima kasih sudah hadir dikeluarga kami?" jawab mama sambil mengelus lembut pipi Dinda.


Membuat menantunya itu hanya bisa mengagukkan kepalanya bingung.


Dengan ucapan sang mama yang tiba tiba itu.


Sementara Dean hanya mampu memandang lekat wajah kedua wanita yang paling berharga dalam hidupnya saat ini.


Sesaat mama memandang tajam manik coklat Dean, dan berkata "Dean berjanjilah, hargailah istrimu seperti kau menghargai mama, dan cintailah dia demikian juga?" Ucap mama tulus dan bersungguh sungguh, dengan nada memohon.


Dean mengenggam tangan sang mama pelan, dapat ia rasakan getaran tubuh sang mama akibat tangis sedihnya yang tertahan.


Membuat Dean mencium tangan keriputnya sayang agar bisa menghentikan rasa sedih yang ada dibenak sang mama saat ini.


"Mama aku tak akan menyakiti seorang wanita, walaupun tak ada cinta sekalipun, aku tidak akan mengingkari janjiku kepada tuhan, seperti seseorang!" jawab Dean sambil memandang kearah sang papa, yang entah sejak kapan sudah ada disana.

__ADS_1


Papa Bima hanya berdiri mematung, tampa bisa mengucapkan kata kata, didalam hatinya terdalam sangat hancur melihat tatapan benci dari sang putra untuknya.


Dengan raut wajah sedih merah padam papa Bima pun memutuskan untuk masuk kamar lagi, sebelum menantu dan istrinya menyadari keberadaannya saat itu.


Dean masih menatap sang papa tajam, rasa sakit dan kecewa yang papa Bima tanam masih membekas dilubuk hatinya yang terdalam.


Dean tau ini semua takdir yang tak bisa ia hindari, namun penghianatan papa Bima kepada sang mama masih belum bisa ia terima.


"Terima kasih sayang?" ucap mama Chinta sambil memeluk sayang sang putra, kemudian menarik Dinda pelan agar bergabung disana.


Membuat tubuh mareka saling memberikan kehangatan satu sama lainnya.


.


.


.


Namun mama Chinta dikejutkan oleh raut wajah sang papa yang terlihat sangat sedih kala itu, sambil duduk disofa yang tersedia dikamar mareka.


"Papa? kenapa pa?" tanya mama Chinta penasaran sambil menghampiri papa Bima pelan.


"Sampai kapan?" tanya papa Bima pelan dengan suara bergetar.


"Sampai kapan Dean akan terus bersikap dingin kepadaku?" tanya papa Bima dengan wajah sedih pilu, melihat tembok kokoh yang telah putranya ciptakan untuknya selama ini, tak bisa ia pungkiri membuat hatinya remuk berkeping keping.


Deg

__ADS_1


Seketika mama Chinta terdiam mematung, mendengar ucapan sang suami saat itu dengan jantung berdekup kencang.


"Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya?" ucap papa lagi sambil menatap sang istri meminta tersetujuan.


Mama Chinta hanya diam, sambil membalas tatapan sang suami sedih, sebenarnya semua ini bukan salah sang suami sepenuhnya, takdirlah yang seakan mempermainkan mareka.


"Jelaskanlah! karena Dean bukan anak kecil lagi, sekarang dia sudah menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, jadi jangan biarkan kebenciannya padamu! berlarut larut" ucap sang mama mantap.


Papa Bima berdiri sambil menarik sang istri haru, wanita yang pernah ia sakiti, kini dengan tabah memaafkan dosanya yang begitu besar.


Sehingga membuat papa Bima merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


.

__ADS_1


Hay guys jangan lupa like❤komen dan bintang 5nya oke?


__ADS_2