
Dinda sudah menyelesaikan ritual mandinya, dan kini dia hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Mama chinta sudah keluar dari kamarnya, membuat Dinda bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa menghindar untuk saat ini.
Dinda berjalan menuju lemari, tapi belum sempat dia membuka pintu lemari. Dia dikagetkan oleh kehadiran Dean yang datang tampa mengetuk pintu.
Sesaat manik lejelnya terpaut dengan mata coklat Dean. Sesaat manik dean menatap diam tubuh dinda yang mulus nan mengoda itu, membuatnya dengan susah payah meneguk salivanya sendiri.
"Kau? untuk apa kau kesini?"
Tanya Dinda panik refleks dia menutup bagian dadanya dengan tangannya menyilang,
"Kaukan istriku, bukankah wajar bila aku disini?" jawab Dean santai.
"A....apa?" sakras dinda tak percaya dengan apa yang didengarkanya barusan. "Pria dingin seperti batu itu mengatakan hal demikian, dimana rasa malu pria itu sebenarnya?" pikir Dinda tak mengerti.
"Orang tua bilang, tidak baik sepasang suami istri tidur terpisah, pamali katanya." ujar Dean tenang, tampa menghiraukan dinda yang mulai panik dibuatnya.
"Bisakah, kau keluar? aku mau mengenakan baju?" guman dinda sambil menunduk malu.
Dean yang kini sudah masuk. melirik kearah Dinda yang hanya mengenakan handuk sepaha, mempertontonkan kaki jenjangnya yang putih dan mulus itu.
"Hey, apa yang kau lakukan? apakah kau sedang menggodaku?" tanya Dean dengan tampang sok polos,.
Dinda yang tidak terima mendengar kata MENGGODA memberanikan diri menatap mata coklat Dean, sesaat manik lejelnya bertemu mata coklat Dean.
"Apa kau bilang, kau yang masuk tampa permisi, mengapa kau malah menuduhku?"
jawab Dinda tak terima.
__ADS_1
Dinda menutup matanya, ketika melihat Dean membuka kemeja yang dia kenakan saat ini, sehingga mempertonton kulit coklat Dengan perut sixpack yang sangat menggoda iman.
"Hey? apakah kau tak malu? membuka bajumu dihadapan seorang wanita!" teriak Dinda panik sambil menutup matanya erat
Dean yang kala itu hendak mengganti bajunya,
menyipitkan matanya,
"Kau takut melihat tubuh suamimu sendiri, nyonya Anggara?" ucap Dean dengan nada menggoda. Dean tak bisa menyembunyikan senyumnya kala melihat tingkah lucu Dinda saat ini. Timbul pikiran usil yang menariknya untuk menggoda sang istri lebih jauh lagi.
Kini Dean sudah ada dihadapan Dinda, Dinda yang sadar Dean mendekat, memundurkan tubuhnya refleks.
Tapi dia kalah cepat, karena kini tangan Dean sudah mendarat manis ditangannya. Disentuhnya pipi, hingga Turun kelehernya Dinda yang mulusnya.
"Halus?" ucap Dean tampa sadar.
Dean menyentuh bibir Dinda yang merah merona alami. Ditatapnya wajah cantik dinda. "Cantik"? ucapnya dalam hati tampa sadar bibirnya sudah mendara dibibir Dinda lembut.
"Cup!"
Dinda yang kaget tiba tiba dicium itu refleks mendorong kuat tubuh Dean.
"BUGH!"
Dinda berhasil mendorong tubuh Dean sehingga Dean yang tak siap jatuh tersungkar dilantai marmer.
"Kau, apa yang kau lakukan? mengapa kau mendorong tubuh suamimu sendiri?" sunggut Dean kesal sambil memegang bokongnya yang terasa nyeri itu.
__ADS_1
"Kau yang mengapa? kita bahkan tidak saling mengenal, tapi mengapa kau melakukan itu?" Teriak dinda kesal.
Ucapan dinda membuat Dean bungkam seketika. "Baiklah, maafkan aku!" ucap Dean dengan wajah canggung.
Diapun melewati tubuh Dinda menuju lemari untuk mengambil baju, dan berlalu menuju kamar mandi.
Sesaat Dinda terpekik kaget. Melihat tubuh toples Dean yang terekpos dihadapanya membuatnya spontan menutup matanya lagi.
"Mama mata anakmu telah ternoda?" Teriaknya nyaring, membuat Dean yang mendengarnya tersenyum geli, melihat tingkah polos sang istri saat itu
.
.
.
.Bersambung
Hay guys? maafkan ya..? bila ada kesalahan disetiap kata.
maklum author masih berajar.
jangan lupa like,❤n komentarnya ya.
Biar author semangat nulisnya.
he,eh.
__ADS_1