
Lala yang melihat bila Wina memandangi kakaknya dengan tatapan kagum itu pun hanya tersenyum.
Ya siapa yang tidak tertarik dengan kakaknya itu, sudah tampan tajir pula, pokoknya satu kata untuk Ferry sempurna.
Ya Ferry mempunyai tambang batu bara dan beberapa hotel ternama yang berada dikalsel dan kaltim itu.
Jadi tidak heran bila banyak yang bertekuk lutut dihadapannya.
Namun beda halnya dengan Dinda, Dinda sama sekali tidak pernah tertarik dengan kakaknya itu.
Mungkin itulah yang membuat Ferry penasaran sampai kini.
Wina masih asyik memandangi Ferry dengan seksama, tiba tiba dikejutkan, dengan Ferry yang mengarahkan tatapannya juga kearah Wina sehingga, "DEG" tiba tiba jantung Wina terpacu lebih cepat, dan alhasil Wina menunduk dengan wajah bersemut merah karena malu.
Sehingga membuat Dinda yang ada disebelahnya hanya melungu menatap sahabatnya itu tak percaya.
Bagaimana tidak coba, Wina yang terkenal cuek jutek + judes itu, tiba tiba malu malu beradu pandang dengan pria? bagaimana Dinda tidak heran melihatnya.
"Win, kamu baik?" tanya Dinda polos, dengan khawatir sambil memegangin dahi Wina barang kali sahabatnya itu sakit karena wajahnya yang memerah saat itu.
"G-ak papa Din?" jawab Wina terbata bata sambil menyerbut coffelate dihadapanya dengan cepat.
Dinda yang melihatnya hanya mengangkat bahu tak mengerti dengan sahabatnya itu.
"Din giman kuliah kamu?" tanya Lala dengan antusias saat itu.
"Baik!." jawab Dinda sambil mngalihkan pandangannya dari Wina ke Lala saat itu.
"Kalau kamu gimana? udah jadi perawat yang baik?. tanya Dinda balik.
"Belum Din aku baru saja mengambil S1nya dijogja!" jawab Lala riang.
"Ooo." jawab Dinda pelan
"Oh iya La aku mau pamit pulang dulu, karena kami akan masuk kuliah jam 11:00 WIB siang ini? sorry ya gak bisa ngobrol lama lama?" ucap Dinda dengan wajah tak enak.
"Tidak apa apa Din, tapi sebagai gantinya minta nomor kamu ya?" balas Lala dengan wajah penuh harap.
"Ok, mana ponselmu?" pinta Dinda
Kemudian Lalapun memberi ponselnya ke Dinda, Dindapun kengetik nomornya disana.
Sementara Ferry hanya diam sambil pura pura sibuk dengan ponsel yang ada digenggamannya saat itu.
"Nich, selesai!" ucap Dinda sambil mrnyerahkan ponsel Lala saat itu.
"Ok, makasih ya?" balas Lala sambil mengedipkan sebelah matanya centil.
"Sama sama!" balas Dinda lagi sambil melirik Wina yang masih menundukkam wajahnya, sehingga membuat Dinda menyengitkan alisnya bingung.
__ADS_1
"Wina ayu kita pulang?" kata yang sambil menarik tangan sahabatnya itu pelan.
"Kami pamit pulang dulu ya?" pamit Dinda sambil tersenyum manis kearah adik dan kakak itu.
Di ikuti oleh Wina juga, selesai pamit marekapun pergi meninggalkan Cafe tersebut.
.
.
.
Diperjelanan pulang Wina tak henti hentinya bertanya tentang Ferry ke Dinda membuat Dinda sedikit kewalahan dengan pertanyaan yang diajukkan sahabatnya itu.
Yang sungguh tidak Dinda ketahuin, makanan favorit, hoby dan dll yang memang tidak Dinda ketahui.
"Gila Din, baru kali ini jantungku deg-degan dekat dengan pria?" kata Wina histeris sambil memegang pipi kirinya pelan.
"Kamu suka sama kak Ferry?" tanya Dinda kaget dengan mata membulat mendengar ucapa sahabatnya itu.
"Kayanya aku bukan suka lagi Nda. Tapi aku jatuh cinta, pada pandangan pertama?" ucap Wina sambil tersenyum senyum seperti remaja yang sedang dalam masa fuber itu.
"Hah?!" teriak Dinda kaget sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Kok bisa?" tanya Dinda dengan wajah heran.
"Ya namanya juga cinta!" jawab Wina gamblang
Tiba tiba senyum Wina luntur ketika mendengar ucapan Dinda saat itu.
Dinda yang melihat raut wajah sedih Wina hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Gimana dong Dinda? masa aku harus patah hati, sebelum ditolak sech?" tanya Wina dengan raut wajah ditekuk.
Dinda hanya tersenyum mendengarnya, "Yey, salah sendiri liat pria tampan langsung cinta aja?" cibir Dinda sambil membuka pintu mobil karena mareka sudah sampai saat itu.
"Ok! aku masuk dulu, sampai jumpa nanti?" ucap Dinda sambil meninggalkan Wina yang masih memasang wajah ditekuknya.
💐💐💐💐💐
Dinda memasuki Apartemennya yang terlihat saat sepi itu, kemudian diapun berjalan memasuki dapur, terlihat mbak Sari sedang asyik memasak disana.
"Pagi mbak?" sapa Dinda sambil tersenyum ramah saat itu.
"Eh, non, pagi juga?! jawab mbal Sari sambi menghentikan aktivitasnya, untuk mengambil alih kantongan yanh ada ditangan Dinda saat itu.
"Biar mbak saja non, itu Mas Deannya sudah menunggu?" ucap mbak Sari sambil melirik kearah pintu.
Sehingga membuat Dinda ikut melirik kesana, terlihat Dean sedang menatapnya dengan tatapan datar, dengan tangan bersedekap dada.
__ADS_1
Mbak Sari beranjak meninggalkan Dinda yang masih mematung ditempatnya.
"Dari mana?" tanya Dean datar
"Aku dari tempat Wina, ada tugas kelumpuk!" jawab Dinda berbohong, entah mengapa tatapan Dean saat ini berhasil membuat bulu kuduknya merinding.
"Trus mengapa tidak memberi kabar?" tanya Dean lagi sambil berjalan mendekat ke Dinda yang terlihat ketakutan itu.
"Bukankah kamu bisa memberi tau dengan menelepon atau mengirim pesankan?" ucapnya dengan nada sedikit membentak.
Sehingga membuat Dinda sersentak kaget dibuatnya.
"Kamu itu sudah menikah? setidaknya kabari aku, agar aku tidak khawatir." Teriak Dean lagi, sehingga membuat Dinda menutup matanya karena takut dibuatnya.
Mbak Sari yang mendengarnya buru buru pergi meninggalkan dapur, dengan menatap iba kepada Dinda saat itu.
Namun apa daya diapun tadak bisa berbuat apa apa untuk Dinda saat itu.
"Dinda mengangkat kepalanya untuk menatap Dean yang masih menatapnya datar saat itu.
"Kenapa kau marah?!" tanyanya pelan
"Ya karena kau adalah istriku?" jawab Dean lagi.
"Tapi kau juga pernah melakukan hal yamg sama? dan lebih parahnya kau menemani wanita lain?" jawab Dinda lagi.
Dinda merasa tak terima dengan kemarahan Dean saat ini.
Dean hanya diam mendengar ucapan Dinda saat itu, dia tak tau harus menjawab apa.
"Bahkan kau lebih mementing dia dari pada aku, lalu tiba tiba kau marah hanya karena aku tidak mengabarimu?" cibir Dinda sambil tersenyum sinis.
"Cesya adalah sahabatku, saat itu aku tidak memgabarimu karena ponselku tertinggal dimobil!" ujar Dean membela diri.
Dinda hanya tersenyum sinis saat itu, "Aku tidak bodoh, aku tau kau melihatnya dengan pandangan lebih bukan?" tebaknya sambil memejam matanya karena kesal.
Dean hanya diam lidahnya seakan keluh saat itu, untuk menjawab ucapan istrinya itu.
Melihat Dean yang masih bungkam, Dinda pun pergi meninggalkannya.
Namun ketika sudah didepan Dean,Dinda menghentikan langkahnya.
"Setidaknya aku tau bila sahabatmu itu, lebih berharga dari pada aku?!" katanya dan pergi meninggalkan Dean yang masih membungkam saat itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung