
Sebelumnya
"Terima kasih!" jawab Renof dengan wajah penuh haru karena bahagia, terlihat ada kelegaan diwajahnya saat itu.
Karena apa yang ia impikan selama ini sudah terwujud.
Dean hanya tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya pelan.
"Maaf ya? rasanya kakak, sangat lelah, apa boleh kakak tidur?" ucap Renof pelan terlihat begitu pucat dan lemah itu.
Dean hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan kakaknya itu saat itu.
Renof sudah memejamkan matanya yang terasa sangat berat.
Terlihat ada senyum tipis yang terlihat di bibir pucatnya saat itu.
Dean menatap wajah kakaknya sedih, ia sangat menyesali sikapnya selama ini yang bertindak begitu egois atas kakaknya itu.
Ia yang merasa seakan ia lah orang yang paling terluka atas kelakuan papanya itu.
__ADS_1
Tampa pernah memikir perasaan sang kakak saat itu, membuat Dean mengutuk dirinya yang begitu egois itu.
"Maafkan aku kak?" ucapnya dalam hati sambil menggenggam erat tangan Renof, dan berkali kali mencium punggung tangan sang kakak penuh sesal.
Namun tiba tiba Dean merasa ada yang tidak beres, karena tangan Renof yang terasa kaku, dan mulai terasa dingin, ia pun mencoba untuk membangunkan sang kakak, dan berkali kali memencet tombol darurat dengan wajah panik.
Tidak butuh waktu lama dokter dan beberapa perawatan datang menghampiri mareka, dan menyuruh Dean untuk keluar untuk menunggu diluar ruangan.
Dean pun menurutinya dengan wajah cemasnya saat itu.
"Ada apa?...apa yang terjadi dengan kakakku?: tanya mama Cinta dengan nafas ngos-ngosan saat itu, karena mama Chinta tadi sedang keluar bersama dengan papa Bima dan Sinta, namun mareka dikagetkan oleh Dean yang tiba tiba meminta mareka untuk bergegas datang ke RS.
Melihat reaksi Dean seketika membuat lutut mama Chinta menjadi lemah, seakan mengerti akan apa yang sedang terjadi saat itu.
Tubuh mama Chinta seketika ambruk, untung saja Dean memeluk dengan erat sehingga tidak membuat tubuhnya jatuh mengenai lantai saat itu.
"Mama?" teriak papa Bima yang baru saja sampai dengan Sinta dibelakangnya saat itu.
Mama Chinta memandang sang suami dengan pandangan sendu, tiba tiba tangisnya pecah.
__ADS_1
"Renof pa!" ucap mama Chinta terhenti saat dokter keluar dari ruangan Renof dan menghampiri mareka saat itu.
"Maafkan kami bapak, ibu, kami tidak bisa menyelamati putra kalian!" ucap dokter bayu sedih.
Yang bagaikan tersambar petir disiang bolong bagi mareka yang mendengarnya sehingga membuat tangis mama Chinta semakin tidak bisa ia bendung, dan tiba tiba kesadarannya hilang seketika sehingga membuat Dean dan papa Bima menjadi panik.
Sementara Sinta hanya menutupi mulutnya dengan tangannya, ia seakan sudah menduga bila saat ini akan tiba, namun ia tidak menduga bila waktu itu sangat cepat.
Ia mencoba untuk bersikap tegar, karena teringat dengan kata kata Renof padanya saat itu. Namun tetap saja air matanya mengalir dengan begitu deras sehingga membuat dadanya sesak, dan membuat kepalanya menjadi pusing.
"Dinda?" ucapnya sambil meraih benda pipih yang ada di tas jinjingnya saat itu.
Dengan tangannya yang bergetar ia mencoba mencari nomor kontak Dinda dan menghubungi nomor tersebut.
Namun tidak ada jawaban dari sang empu saat itu, membuat Sinta hanya menghela nafas berat, dan memilih untuk mengirim pesan untuk Dinda saat itu, dan mulai menghampiri jenazah sepupunya itu, dangan air mata berderai.
Bersambung
Maaf ya, gak bisa update tiap hari?😊😊
__ADS_1