
Malamnya Dinda sudah selesai membuat makan malam, dan kini dia sedang menonton TV dikamarnya sambil menunggu kepulangan sang suami.
Jam sudah menunjuk pukul 20:00 WIB namun Dean tak kunjung muncul, sehingga membuat Dinda teringat kejadian sore tadi.
"Mengapa rasa sesaknya muncul lagi?" gumannya sambil mengelus ngelus dadanya pelan, sambil menghela nafas berat.
Dinda pun meraih benda pipih persegi yang dari tadi ada dimeja sebelah kiri tempat tidurnya.
Ia memberanikan diri untuk menghubungi Dean namun tak ada jawaban dari sang suami.
Setelah sekian kali mencoba, Dindapun menyerah karena yang ada dia hanya menerima omelan dari operator yang menjawab teleponnya.
Ia pun memilih untuk turun dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Ia tak mau seperti istri istri yang ada disenetron yang menunggu suaminya sampai larut malam namun berakhir dengan kelaparan.
Dinda masih sayang dengan tubuhnya dan kesehatan.
.
.
.
Malam semakin larut tapi Dean belum datang, Dinda sebenarnya agak takut tinggal diapartemen seluas ini hanya sendirian jadi iapun memutuskan untuk masuk kekamar dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Namun dia tak kunjung bisa untuk tidur, pikirannya menerawang entah kemana sibuk menerka nerka apa yang sedang suami itu lakukan sekarang.
Dindapun memutuskan untuk menghubungi sang mertua barang kali Dean pergi kesana namun dia urungkan mengingat jam sudah menunjuk pukul 1 dini hari.
Dia hanya duduk sambil memikirkan harus menghubungi siapa, karena sungguh Dinda sama sekali tak tau nomor nomor dari teman suaminya itu.
Yang lebih tepatnya disebut adik iparnya itu.
Deringan telepon membuyarkan Dinda dari lamunannya dan dengan cepat dia meraih benda pipih itu untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya kala itu.
Tertara foto Chalvin disana, Karena Chalvin menghubunginya lewat via WA.
Dinda menyengitkan dahinya dengan jantung berdebar entah kenapa dia merasa ada berita yang tidak baik.
Iapun mengangkat panggilan suara dari teman suaminya itu.
"Hallo?" ucapnya pelan
"Hallo, maaf sudah menganggumu selarut ini, tapi ini dalurat karena Dean mengalami kecelakaan, bisakah kau datang kerumah sakit xxx?" kata Chalvin panjang lebar.
Sementara Dinda hanya mengenggam erat piama yang ia kenakan.
__ADS_1
"Ba...aik!" jawabnya singkat dengan suara terbata bata dan tubuhnya bergetar pertanda betapa takutnya ia saat ini.
Bagaimana tidak Dinda sangat trauma dengan yang namanya kecelakan, karena kematian kedua orang tuanya 2 tahun yang lalu.
Diapun bergegas untuk meraih koper dan mengambil baju Dean dan perlengkapan suaminya tersebut dan bergegas untuk pergi ke alamat yang Chalvin sebutkan tadi.
.
.
.
Dinda kini sudah ada di rumah sakit dan dia kini tengah mencari kamar inap Dean yang sudah dia ketahui tadi dari pesan Chat yang Chalvin kirim kan
Ketika sudah menemukan kamar inap yang dicari tampa mengetuk Dinda pun membuka pintu tersebut membuat orang yang ada didalam tersentak kaget, terutama Dean karena dia sama sekali tak tau bila sang istri akan datang kesana.
Dinda merasa canggung dengan pemandangan yang dia lihat saat ini, yang dimana Cesya sedang asyik menyuapi Dean dengan sangat perhatian dan disana hanya ada Dean dan Cesya saja, Dinda tak melihat keberadaan Chalvin karena pria tersebut sedang pamit untuk keluar tadi.
"Silakan masuk kata Cesya ramah sambil beranjak dari kursi yang terletak disamping tempat tidur rawat Dean kala itu.
Sementara Dean hanya diam.
Sambil membenarkan duduknya kala itu.
"Tidak apa apa, hanya lecet dipergelangan kaki kiri dan tangan kanan!" jawab Dean sambil mengelus lembut pipi Dinda yang masih ada sisa percikan air mata itu.
Dinda menghelan nafas lega mendengarnya.
Sementara Cesya hanya diam menatap tak suka melihat Dean begitu perhatian kepada Dinda saat itu.
"Tadi sama siapa kesini?" tanya Dean sambil melihat Dinda yang sudah duduk ditempat Cesya tadi.
"Aku mengunakan mobilmu!" jawab Dinda pelan sambil meraih makanan yang tadi Cesya suapkan kesuaminya itu.
Dean hanya mengaguk mengerti.
__ADS_1
Chalvin kini sudah ada disana dengan membawa beberapa buah buahan ditangannya.
"Karena Istrimu sudah datang sebaiknya aku dan Cesya pamit pulang?" katanya sambil menatap Dean yang sudah lebih baik ia rasa.
"Ahh...iya...!" ucap Cesya mengiyakan sambil menatap tajam kearah Chalvin.
"Apakah tak apa? ini kah sudah dini hari, aku takut kau kenapa kenapa?" jawab Dean khawatir.
"Tidak apa apa, aku yang akan mengantarnya!" jawab Chalvin membuat Cesya terpaksa untuk mengiyakanya.
"Baiklah, termakasih ya?" ucap Dean lagi sambil tersenyum tulus.
Sehingga membuat Chalvin dan Cesya mengagukkan kepalanya.
Sementara Dinda hanya tersenyum tak lupa mengucapkan terima kasih juga kepada Chalvin karena sudah memberi taunya tadi.
Setelah sampai dilobi Cesya menatap Chalvin dengan tatapan tak senang.
"Ada apa dengan mu? mengapa kau sekarang terlalu suka ikut campur?" sendir Cesya sinis sambil memeluk dirinya sendiri.
Chalvin yang mendengar ucapan Cesya saat itu pun menghentikan langkahnya dan menatap Cesya dingin.
"Apakah kau tak sadar diri nona? biarkan Dean bahagia, bukan kah kau sudah memiliki suami?" Jawab Chalvin pedas sambil menyipitkan matanya.
Membuat Cesya hanya terdiam tampa kata oleh ucapannya dengan wajah merah padam.
.
.
Bersambung.
.
.
.
Jangan lupa like❤ komentar n bintang limanya ya.
Sebenarnya author masih cape, tapi masih author usahain untuk up.
Jadi maaf kalau pendek.
Terima kasih
__ADS_1