My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Apa Ini?


__ADS_3

Sekitar jam 9 pagi Dean mengajak Dinda untuk keluar, terlihat ada perasaan gugup diwajah Dean saat itu.


Dinda menatap Dean heran melihat raut wajah gelisah pria itu.


Dan keringat bercucuran membasahi dahinya, padahal mobil yang mareka pake ACnya menyala.


"Kamu mengapa sech?" tanya Dinda yang sudah tidak bisa menahan keingin tauannya itu.


Dean hanya diam, dengan pandangan lurus kedepan.


Dinda hanya menghela nafas dalam karena tidak mendapat jawaban dari sang suaminya itu.


"Sialan?! nie orang kenapa sich, kesambet kali ya?" pikir Dinda tidak habis pikir dengan tingkah Dean yang berubah drastis itu.


Yang entah mengapa membuat Dinda berfirasat tidak baik akan hal itu, sehingga membuat jantungnya terpacu lebih pecat dari pada biasanya itu.


Dinda membuka hondphone yang dari tadi ada digenggamannya dan melihat ada pesan chat, dan beberapa foto yang masuk dari Wina saat itu, sehingga dengan cepat Dinda membukanya.


Sedetik dua detik, tiga detik, handphone ditangan Dinda jatuh, membuat Dean yang dari tadi fukos mengemudi tersentak kaget, dan refleks menoleh kearah sumber suara.


"Ada apa?" tanya Dean heran, karena tiba tiba wajah Dinda menjadi pucat pasi.


Terlihat cairan bening mulai membasahi pipi mulusnya.


Dengan tubuhnya yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Tolong antar aku ke RS Dharmais!!," jawab Dinda dengan tubuhnya yang masih bergetar.


Tampa menyadari perubahan expresi raut wajah Dean saat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya diparkiran RS Dinda berlari pergi terlebih dulu tampa, mendengar suara Dean yang berteriak memanggil namanya saat itu.


Dia tidak perduli yang ada dibenaknya saat itu hanyalah bagaimana caranya agar cepat sampai ketempat tujuannya.


Tampa berpikir bila dia tidak tau di mana ruang yang ia tuju berada.


"Aduh mana ya?" ucapnya bingung, namun tiba tiba tangan besar menariknya hinga sampai diruangan yang dituju, Dean melirik Dinda dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti itu.


"Kamu pasti mencari ruang ini kan? masuklah?" perintahnya sambil melepaskan genggaman tangannya di tangan mungil Dinda saat itu.


...


Berlahan Dinda membuka pintu, Dan mendapat Papa Bima dan mama Chinta yang terkejut melihat kehadirannya saat itu.


"D...Dinda...?!" ucap mama Chinta gagap, terkejut melihat kehadiran Dinda yang tiba tiba itu.


Dinda berjalan mendekat dengan tubuhnya yang bergetar hebat.


Berlahan namun pasti dia mulai menghampiri ranjang pasien yang ada diruangan itu.

__ADS_1


"Tidak?!" ucapnya sambil menutup mulutnya saat itu.


Lututnya tiba tiba lemah tak bertenaga, untung saat itu Sinta dengan sigap menahan tubuh Dinda yang seakan lemah tak bertenaha itu.


"Ren? R...Ren....of?" ucapnya lemah sambil berusaha untuk menghampir pria yang sedang terbaring lemah dihadapannya saat itu.


Mama Chinta tak mampu menahan air matanya melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini.


Sehingga dia pun menyembunyikan wajahnya dipelukan papa Bima saat itu.


Dinda meminta Sinta untuk melepaskannya, dan berjalan berlahan kearah ranjang Renof saat itu.


"Mengapa? Apa ini? bukannya seharusnya kau kabur bersama seorang wanita?" ucapnya sambil menggeleng kepalanya tidak percaya dengan apa yang Dilihat saat ini.


"Bruk" tiba tiba tubuh Dinda terjatuh, sehingga membuatnya terduduk dilantai marmer ruangan itu.


"Kenapa Ren? apakah aku tak pantas mendampingimu? sehingga kau tak percaya padaku?" teriak Dinda histeris.


Sinta memeluknya pelan dengan air matanya yang sudah tidak mampu ia tahan lagi melihat kesedihan Dinda saat itu.


...


Sedangkan diluar Dean hanya memandang langit langit ruangan sambil bersandar di pintu, dengan raut wajahnya yang sulit untuk diartikan saat itu.


Bersambung

__ADS_1


Hay guys, jangan lupa votenya yang buanyakkk???


Maunya author sich hehehe๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


__ADS_2