My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Mari Kita Akhiri


__ADS_3

Dean meraih tangan lembut istrinya pelan, saat mendengar suara helaan berat nafas istrinya itu.


"Yank maaf!! aku sudah minta maaf, bila sikap ku selama ini begitu membuatmu sakit!!" ucapnya dengan suara serak, dan manik coklatnya yang mulai berkaca-kaca.


Diciumnya tangan lembut itu sayang dan dalam, agar bisa membuat sang empu merasa nyaman.


Dinda menatap manik coklatnya suaminya itu dalam, sungguh sebenarnya Dinda tak pernah bisa membaca manik coklatnya dihadapannya itu, disaat ia merasa manik coklat milik suaminya itu, seolah mengatakannya bila dirinya sangat berarti, namun sikap suaminya yang lebih mementingkan sahabat wanitanya ketimbang dirinya selalu terbayang, dan mampu membuatnya nimbang.


"Yank?!" ucap Dean lagi lirih.


"Hmm." jawab Dinda pelan, sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan suaminya itu, kala sadar dari lamunannya.


Dean melepaskan genggaman tangannya pelan, hening beberapa saat sampai akhirnya, Dinda membuka suaranya.


"Aku...tidak mengerti kamu... begitu juga...kamu juga tidak mengerti akan diriku!" ucap Dinda sambil membuang maniknya kesembarang arah.


Dean hanya diam, dan ikut mengiakan ucapan istrinya itu.


"Aku sudah berusaha untuk mengenal dirimu, namun disaat aku merasa, sudah lebih mengenal dirimu, seketika itu juga aku merasa itu hanyalah semu...!" ucapnya panjang lebar, sambil sesekali mencoba untuk tersenyum, walaupun senyuman itu hambar.

__ADS_1


"Kata cintamu...rindumu...maafmu, entah mengapa aku merasa semuanya hanyalah palsu!" gumannya lagi sembil sesekali melirik suaminya itu.


"Bila itu hanyalah, belas kasihan dan tanggung jawab, sebaiknya hentikan semuanya..." ucapnya lagi sambil mencoba tersenyum manis kepada suaminya itu.


Dean masih bungkam, dengan wajah yang mulai mengeras.


"Hah" Dinda menghela nafas berat, senyum manis masih terukir didalam bibirnya, walaupun terkesan dipaksakan itu.


"Tolong jangan meminta maaf lagi... karena ini bukanlah salahmu..." Dinda menghentikan ucapannya, sambil memejamkan manik lezelnya, rasa sesak mulai menyuak didadanya saat itu, membuat cairan bening mulai jatuh membasahi kedua pipinya yang mulus.


"Ini salahku...akulah yang sebenarnya ada diantara dirimu dan Cesya...Jadi mari kita akhiri semuanya...?" ucapnya Dinda terhenti kala Dean mengebrak meja, sangat keras, membuat tubuh Dinda bergetar hebat, ketika melihat getaran sukses membuat gelas bergeling dan "Prak" pecah seketika itu juga.


Tidak terima dengan ucapan istrinya itu, Dinda meremas dress-nya takut, sambil menatap wajah mengeras suaminya itu, yang sudah berdiri saat ini, bibirnya mungil nya sangat keluh saat ini.


"Apakah pernikahan hanya sebuah permainan bagimu?" tanyanya dengan tatapan nyalang, dan tajam, membuat tubuh Dinda gemetar dan keringat dingin dibuatnya.


"A...aku han.." ucap Dinda terhenti kala Dean sudah pergi meninggalkan saat itu, dan " BRAK" Dean membanting pintu kamar keras.


Membuat wanita hamil itu tersentak kaget melihatnya, karena selama setahun pernikahan mareka, tidak sekali pun suaminya itu bersikap kasar kepada dirinya.

__ADS_1


"Hiks...hiks...hiks..." tangis Dinda pecah seketika itu juga.


"Apakah aku salah?" pikirnya sambil mengusap perutnya pelan.


"Aku hanya mau memberikan ia kebebasan, apakah itu salah?" pikirnya sambil terisak perih.


Ya, sudah dari beberapa bulan terakhir, Dinda memikirkan ini semua, menyiapkan mental dan hati, untuk mengatakan ini semua, bagaimana pun tidak lah mudah bagi seorang Andinda putri.


Dimana rasa sayang dan cinta sudah bertumbuh dihatinya, dimana pikiran dan hatinya hanya terpusat dan tertuju hanya untuk suaminya seorang.


Namun rasa cintanya lah yang membuatnya harus rela melepaskan suaminya itu.


"Benar kah hanya itu alasannya?" pikirnya sambil mencemuh dirinya sendiri, "Rasa takut terluka terlalu dalam, juga jadi pemicu keputusan Dinda saat ini.


Dinda takut bila suatu saat Dean lah yang akan lebih dulu meminta sebuah perpisahan kepada dirinya, maka dari itu sebelum ia lebih kergantungan dengan hubungan ini, lebih baik akhiri saja pikirnya.


Ia berharap itu adalah pertahanan dirinya yang terakhir, walaupun sakit, namun ia mencoba untuk ikhlas, kala mengingat bila Dean memang bukan milik dirinya yang sebenarnya sejak awal, karena Dean hanyalah penganti.


Dinda memejamkan manik lezelnya, sambil sesekali sesegukan, karena rasa sesak yang dari tadi menghimpit sudut hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2