
Dilain tempat lain, kini Dinda baru saja pulang keapartemen.
Iapun langsung memasuki kamar. mandi untuk membersihkan badannya yang terasa sangat lengket itu.
20 menit kemudian Dinda sudah selesai dengan ritual mandinya, dan terlihat lebih fras dengan aroma lemon yang memenuhi ruangan itu saat itu.
Yang berasal dari tubuh dinda saat itu.
Dinda berjalan kearah meja rias, sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk saat itu.
Ia mendudukkan tubuhnya dibangku, sambil menatap pantulan dirinya dicermin tersebut.
Entah apakah yang ia pikirkan sekarang tentang dirinya saat itu.
Dinda mengambil hairdryar dan mulai mengeringkan rambutnya saat itu.
***
Saat ini Dinda sedang duduk manis di meja makan, sambil menyantap spaghetti dengan lahapnya.
Entah mengapa ia merasa sangat lapar sore ini, sehingga tidak butuh waktu lama, spaghetti diharapkannya sudah habis tak tersisa.
"Ohw, kenyang!!" ucap Dinda sambil memegang perutnya.
Selesai makan Dinda pun memutuskan untuk berangkat ke RS, untuk menemui Renof saat itu.
Namun sebelum berangkat ia pun meraih tas punggung miliknya sambil mengecek handphone miliknya.
__ADS_1
Manik lejel Dinda terbelalak kaget saat melihat begitu banyak panggilan masuk dihandphonenya itu.
Namun tiba tiba handphone yang ada digenggamannya saat itu terjatuh ke lantai.
Bersamaan dengan butiran kristal yang terjatuh dari kelupak matanya saat itu.
"R...renof?" ucapnya terbata bata saat itu, lututnya menjadi lemah tak bertenaga, seakan tak mampu memikul berat badannya sendiri, sehingga membuatnya terduduk lemah di lantai.
"Dinda, kamu kenapa?" teriak. Dean panik sambil berlari untuk menghampiri sang istri yang terduduk lemah di lantai kamar itu.
Dinda memeluk tubuh Dean yang sudah berada dihadapannya dengan sedih.
"Dean...Renof?.." ucapan Dinda terhenti oleh isaknya yang semakin deras, sehingga membuat nafasnya tak beraturan dan menyebabkan sesak di dadanya saat itu.
"Isshtt...!! aku tau, yang sabar ya?" ucap Dean sambil menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Dinda saat itu.
"Tidak perlu, karena setengah jam yang lalu papa sudah membawa jenazahnya pulang.
"Jadi sebaiknya kita menyusulnya sekarang!" kata Dean lagi yang langsung dianggukkan oleh istrinya itu.
***
Rumah Dean sudah dipenuhi oleh kerabat dan para tetangga yang ikut melayat alm Renof saat itu.
Tangisan mama Chinta tidak dapat ia hentikan, meskipun ia sudah mencoba untuk mengiklaskan kepergian Renof, namun tetap saja cairan bening itu jatuh dengan sendirinya.
Sementara Sinta berusaha untuk menenangkan mama Chinta yang sangat terpukul akan kepergian si sulung.
__ADS_1
Sedangkan Dinda ia terlihat tenang sekarang setelah melihat jasad Renof.
Entah mengapa ia merasa bila Renof sangat bahagia saat itu, terbukti dengan bibirnya yang membentuk sebuah senyuman.
"Selamat jalan Renof, semoga kau tenang disisi Tuhan untuk selama lamanya?" ucap Dinda sambil mencoba untuk tersenyum dalam tangisnya saat itu.
Berbeda halnya dengan Dean yang hanya Diam tampa ekspresi saat itu.
Sebenarnya Ia merasa sangat terpukul saat itu, namun ia tidak ingin memperlihatkannya.
Rasanya baru saja ia berdamai dengan sang kakak, namun kini ia harus merelakan kepergian sang kakak menghadap sang pencipta untuk selama lamanya, hanya rasa sesal yang tertinggal dihatinya saat itu.
Ya begitulah penyesalan selalu datang belakangan seperti yang Dean rasakan sekarang ini. Andai ia dapat memutar waktu, mungkin ia akan memperbaiki sikapnya kepada Arenof saat itu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiga bulan sudah berlalu, sejak kepergian Renof untuk menghadap sang pencipta saat itu.
Namun Dean masih tenggelam dalam rasa sesalnya saat itu.
Berbeda dengan Dinda yang sudah mulai mengkilaskan kepergian Renof.
Namun tidak sebaliknya dengan Dean, yang masih hidup dengan rasa sasal yang mendalam.
Namun Dinda tidak menyerah untuk menghibur suaminya itu dengan sabar, agar mau mengiklaskan kepergian Renof.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa vote dan likenya ya?😊😊