
Setelah masuk kedalam kamar, Dinda menutupnya berlahan.
"Ya Tuhan apa yang telah aku lakukan?" gumannya sambil meremas tangannya yang sudah berkeringat dingin dari tadi.
Dinda berjalan menuju lemari untuk mencari bajunya, dengan tubuh masih bergetar, sungguh dia tidak menyangka bila dia akan mengucapkan kata kata yang tidak pernah terlintas dibenaknya itu.
"Sudahlah!" ucapnya sambil menganti bajunya saat itu.
Selesai menganti baju, Dindapun memutuskan untuk keluar, melihat jam sudah menunjuk 10:03 WIB jadi dia menutuskan untuk berangkat kuliah.
Namun sebelum berangkat dia memutuskan untuk menemui suaminya terlebih dahulu.
Dinda berjalan ke perpustakanan mini yang ada disamping kamar tamu itu, namun dia tak menemukan Dean disana.
"Kemana dia?" pikirnya sambil keluar dari sana, kemudian dia melihat bila Dean sedang duduk dibar mini yang tak jauh dari sana sambil asyik menikmati satu kaling bir ditangannya kala itu.
Dean tak menyadari kedatangan Dinda saat itu, sampai Dinda mendudukkan dirinya disana barulah dia menyadari kehadiran istrinya itu.
Mareka hanya diam dalam kecanggungan yang menyelimuti mareka berdua saat ini.
"Maaf?! tiba tiba mareka berduan mengucapkan kalimatnya sama diwaktu bersamaan.
"Hmm, kau duluan?" perintah Dinda sambil menggaruk hidungnya canggung.
"Sebenarnya aku tidak tau bila kau tak suka, karena kau tidak pernah mengatakannya, sebenarnya aku merasa kasihan padanya?
karena dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, dan lebih parahnya, dia menikahi pria yang tidak bertanggung jawab seperti Noel!!" kata Dean panjang lebar saat itu, sambil melirik Dinda yang ada disampingnya saat itu.
Dinda masih setia untuk mendengarkan cerita Dean saat itu.
"Sebelum kita menikah, dia sudah bergantung padaku, bukan karena aku pahlawan, tapi karena dulu papa Cesya pernah menolongku, ya! saat aku memutuskan meninggalkan rumah, Cesya lah yang membantuku dalam berbagai hal, termasuk meminjamkan modal usaha Bengkel yang ku kelola, ya kamu taukan,
Tidak mungkin kita bisa membuat usaha bila tidak memiliki modal. Sebenarnya aku bisa saja meminta kepada nenek dan kakek saat itu, namun aku ingin membuktikan kepada papa, bila aku bisa berdiri walaupun tampa bantuan dari keluarga?!" cerita Dean lagi dengan suaranya yang parau.
Dinda tak bisa berkata kata dia sebenarnya mengertidengan apa yang sedang Dean kisahkan, dan masih setia menjadi pendengar yang baik.
Dean yang mengerti akhirnya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Dinda?! sebenarnya Renof dia bukan lach anak dari mama? tapi melainkan anak dari asil perselingkuhan papa!!." guman Dean lagi.
Dean menyengit heran melihat raut wajah Dinda yang masih biasa itu, diapun memutuskan untuk melanjutkan caritanya.
"Bukan selingkuh, mungkin mama lach yang menjadi yang kedua, bila selingkuhkan, bagaimana mungkin Renof lebih tua dua tahun dariku bukan?" ucap Dean dengan suara getir.
Ya itulah yang sangat membuat Dean terpukul ditambah lagi dengan sikap papanya yang selalu lebih mementingkan Renof dari pada dirinya.
Dinda mengenggam tangan Dean pelan, sambil tersenyum manis kearah suaminya itu.
"Kamu tidak terkejut?" tanya Dean heran.
Dinda hanya menggeleng pelan sambil memeluk tubuh tegap Dean sayang.
"Maafkan ke egoisan ku?" guman Dinda sambil membenamkan wajahnya didada bidang suaminya itu.
Dean mengelus pelan rambut Dinda yang terasa sangat lembut ditangannya saat itu.
"Sebenarnya mama Chinta sudah menceritakannya kepadaku, ya, walaupun tidak semua sech!" ucapnya sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Dean yang kini juga tengah menatapnya.
Dean hanya diam dengan tangannya mulai mengelus lembut pipi tirus Dinda saat itu. Dinda memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suaminya itu.
"Oh iya?." ucap Dinda sambil menepuk dahinya pelan.
"Aku berangkat dulu?!" tamit Dinda pelan sambil melepaskan tangan Dean yang dari tadi ada dipinggang rampingnya itu.
"Biar aku antar?" tawar Dean sambil berjalan mendahului Dinda saat itu.
Di tempat lain mbak Sari pun merasa lega melihat bila kedua majikannya itu telah berdamai itu.
πππππ
Dinda memasuki kampus dengan hati berbunga bunga terbukti dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibir manisnya saat itu itu.
Kala dia memasuki kelas, Dinda sudah disambut hangat oleh sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Wina sahabat baik yang selalu ada untuknya itu.
"Ada yang lagi senang nich?" tebak Wina tepat saat melihat sahabatnya itu tidak henti hentinya tersenyum riang.
__ADS_1
"Mau tau aja sech!" cibir Dinda sambil menjulurkan lidahnya kearah sahabatnya itu.
"Dinda gimana ini, aku sedang mengalami pencurian?" ucap Wina sambil memegang dadanya pelan dengan wajah sendu.
Namun ucapanya itu berhasil membuat Dinda membulatkan matanya karena kaget.
"Rumah mu kemalingan?" tebak Dinda penasaran.
"Bukan!" jawab Wina sedih
Dinda menyengit heran dengan wajah tegang mendengarnya.
"Trus?" tanyanya lagi penasaran.
"Hati aku yang dicuri Din?" jawab Wina yang sukses mendapat jitakkan keras dijidatnya saat itu.
"Auuhhh?" teriak Wina keras saat merasakan jitakkan sayang dari sahabatnya itu.
"Siapa suruh lebay?" ucap Dinda sambil melototkan keduan matanya kesal.
Wina hanya tersenyum pelik melihat wajah kesal dari sahabatnya itu.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hay guys, salamat Tahun baru semuanya semoga kita dibanjiri rezeki di Tahun 2020 ini aminπππ