My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Surat


__ADS_3

Beberapa jam berlalu Sinta membawa Dinda ke taman RS tersebut, Sinta mengajak Dinda duduk disalah satu bangku kosong yang tak jauh dari sana.


Sesaat hening menyelimuti suasana pada malam itu, hanya suara binatang malam yang saling bersahutan memecahkan keheningan yang mareka rasakan saat itu.


"Ini ambillah?," pinta Sinta sambil memberikan Dinda sebuah amplop warna putih.


Dinda menyambutnya dengan wajah bingung tak mengerti.


"Maaf Dinda, baru memberinya sekarang...?" ucap Sinta lagi sambil tersenyum ramah.


Dinda hanya mengangguk pelan sambil menatap amplop yang ada ditangannya itu penasaran, sehingga membuatnya ingin melihat isinya saat itu juga.


Namun Sinta mencegahnya dengan berkata.


"Buka saat kau sudah pulang?!" cegahnya membuat Dinda semakin dibuat penasaran dibuatnya.


"Apa bedanya?" tanya Dinda heran


Sambil merobek ujung amplop tersebut.


Sinta hanya diam, membiarkan Dinda membuka amplop itu.


From ARENOF ANGGARA To ADINDA PUTRI


Begitulah yang tercantum didalam surat itu,


Dinda menatap Sinta ragu, jantungnya mulai berkerumun tak menentu saat mengatahui orang yang telah memberikan dirinya surat itu.


Sinta yang sadar akan keresahan yang dirasakan Dinda saat itu, hanya mengunggulkan kepalanya sambil mengusap pelan punggung Dinda saat itu.


"Bacalah dengan tenang." ucapnya sambil. berjalan meninggalkan Dinda seorang diri saat itu.


Dinda mencoba mengatur nafasnya untuk menormalkan detak jantungnya saat ini.


Saat merasakan lebih baik, iapun mulai membuka surat itu dengan tangan bergetar.


From ARENOF ANGGARA To ADINDA PUTRI


"Maafkan aku, aku tau saat ini kau pasti sangat membenci diriku bukan?"


Namun percayalah aku melakukan semuanya untukmu.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kau meratapi saat aku pergi menghadap Tuhan nanti.


Dan aku tak ingin menjadi penyebab ketidak bahagiaanmu nanti.


Aku tau bila kau tulus mencintaiku, maka dari itu aku tidak bisa membiarkanmu terluka lebih dalam.


Aku sadar bila tindakanku sangatlah kejam, dengan meninggalkannya dialtar sendirian.


Maafkan aku, aku tau tindakkanku salah, dan akan membuatmu terluka.


Namun aku tak punya pilihan lain, saat itu.


Karena aku tau, bila kau tak akan mau menikah dengan adikku bila aku jujur tentang penyakitku saat itu bukan."


Dinda menghela nafas berat, sambil memegang dadanya yang terasa sesak saat itu.


Berlahan cairan bening itu jatuh dari telapak matanya saat itu, sehingga membuat kertas yang ada ditangannya saat itu basa oleh air matanya sendiri.


Dinda mencoba membaca isi surat itu lagi.


"Mungkin saat surat ku ini ada padamu, mungkin aku sudah pergi meninggalkanmu.


Tapi aku meminta padamu, untuk jangan bersedih. Jangan pernah menyesali yang telah terjadi, terutama menyesali perkenalan denganku.


Berbahagialah bersama Dean, karena ia adalah adikku yang baik.


Aku yakin ia adalah pria yang tepat untuk mu.


Sampai disini dulu, maaf karena aku terlalu banyak bicara saat ini.


Oh iya, aku boleh meminta dua pemintaan?


Hehehe, permintaanku yang pertama adalah, jangan lupa untuk tersenyum, karena kau sangat cantik bila sedang tersenyum.


Dan yang kedua adalah, tolong simpan aku didalam hati minta?


Selamat tinggal kekasihnya Kadinda Putri, aku sangat mencintaimu.😊"


Dinda tak mampu menahan isaknya yang tiba tiba pecah seketika.


Ia tidak perduli banyak pasang mata yang sedang memandangnya dengan tatapan ingin tau saat itu.

__ADS_1


"Maafkan aku! aku bukan wanita yang layat untukmu." ucapnya sambil memeluk erat surat ditangannya saat ini.


Tubuhnya seakan lemah tak bertenaga saat itu.


Dinda tidak menyangka disela selah sakitnya Renof masih memikirkan kebahagiaannya.


Dinda berlari menghambur dari tempatnya dengan sisa tenaga yang ia miliki saat itu.


entah mengapa firasanya mengatakannya bila akan ada yang terjadi kepada Renof saat itu, sehingga membuatnya berlari dengan sekuat tenaga saat itu.


Saat sedang sampai diruangan rawat Renof, Dinda menghela nafas lengah saat melihat bila semua masih baik baik saja.


Dean yang saat itu ada disamping rajang rawat Renof menatap istrinya heran.


Masih bisa Dean lihat sisa pergi kanan air mata dipipi Dinda saat itu.


"Apakah Renof baik baik saja?" tanya Dinda panik sambil menatap sedih wajah pucat Renof saat ini.


Dean hanya mengangkat bahunya, ia tak tau harus menjawab apa saat itu, karena yang ia tau keadaan Renof tidaklah baik saat ini.


"Ada apa sayang?" tanya mama Chinta heran sambil menghampiri Dinda yang terlihat sedikit berantakan saat itu.


"Ia ada apa?" tanya papa Bima juga ingin tau saat itu.


Dinda hanya menggelengkan kepalanya sambil mencoba mengatur nafasnya saat itu.


Dean memberikan Dinda segelas air, dan Dinda pun meminumnya sampai tidak tersisa, kemudian menyerahkan gelas kosong itu pada suaminya lagi.


"Syukurlah Renof masih baik." pikirnya lega.


Entah mengapa setelah membaca surat itu, Dinda merasa sangat ketakutan saat itu.


Bersambung


Author mau bila novel ini mau tamat.


mungkin beberapa episode lagi.


Tapi jangan sedih.


Karena author sudah membuat novel baru, yang tak kalah seru.

__ADS_1


Judulnya You Are My Soul Mate, ini kisah anak anaknya Dean dan Dinda. ikuti ceritanya ya?😊


__ADS_2