
Siangnya
Dean dan Dinda sudah sampai di apartemen elit.
Semua mata terpusat kepada mareka, ketika mareka memasuki apartemen itu.
Semua orang seperti terhipnotis oleh pasangan tersebut sehingga tampa sadar sudah terlalu lama mareka menatap pasangan serasih itu.
Sehingga membuat Dinda risih dan tak nyaman dibuatnya. Dean yang sadar akan keresahan wanitanya itu, dengan sigap mengenggam tangan Dinda lembut sambil menariknya pelan memasuki lift.
Dinda menatap Dean intans memperhatikan pria yang ada dihadapanya dengan tatap kagum. "Tampan." pikirnya tampa sadar sudah berapa lama menatap pria tersebut.
Sementara Dean yang sadar ada yang sedang diperhatikannya. Suntak menatap Dinda , untuk sesaat mata coklatnya berpadu dengan manik lejel Dinda sehingga ada getaran aneh yang mareka rasakan saat itu.
Sehingga membuat mareka sarentak mengalihkan pandangan ke arah lain secara bersamaan.
Tak ada kata yang mareka ucapkan saat ini, hanya suara detak jantung mareka yang seakan saling besautan. Mareka seakan hanyut dalam pikiran masing masing kala itu.
Suasana canggung menyelimuti keduanya menciptakan suasana tegang dan membuat keduanya membungkam satu sama lain.
Ting...suara lift berbunyi tanda mareka sudah sampai ke lantai yang dituju. Sehingga membuat mareka tampa sadar menarik nafas lega secara bersamaan.
Dean menarik tangan Dinda keluar membawanya masuk ke salah satu apartemen mewahnya ada dilantai 22 gedung tersebut.
Dinda menatap takjub apartemen itu, yang sangat luas rapi untuk ukuran tempat tinggal sorang pria lajang.
"Wow, apartemen mu sangat rapi?" ucap Dinda kagum.
"Iya karena aku menyewa asisten rumah tangga, biasanya dia datang tiga kali dalam seminggu. Hari Rabu Sabtu dan Senin!" jelas Dean sambil berjalan menuju meja bar mini yang terletak tak jauh dari ruang tamunya itu.
Dinda mendudukan dirinya disalah satu sofa yang ada diruang tamu tersebut, "cape?" tanya Dean sambil membawa dua canggir kopi chino ditangannya.
"Lumayan!" jawab Dinda canggung.
"Kopi?" tawar Dean lagi sambil menyudurkan sebuah kopi panas yang baru saja ia seduh.
__ADS_1
"Terimakasih!" jawab Dinda tulus dan canggung.
"O....ya...apartemen ini hanya memiliki dua buah kamar. Dimana Kamar utama yang aku tempati biasanya, dan kamar tamu yang ada di depan kamar utama." jelas Dean sambil menunjuk kamar tersebut. Suntak saja membuat Dinda melihat kearah yang ditunjuk suaminya itu. Dan melihat kamar yang terletak saling berhadapan itu,
"Aku akan tidur diruang tamu saja!" kata Dinda pelan sambil menundukkan kepalanya.
Dean menatap Dinda intens sambil menaiki alisnya.
"Tapi kau bisa tidur dikamar utama kok, kan kita sudah sah, bukan kah wajar suami istri tidur sekamar?" Tanya Dean dengan nada menggoda.
"T...tidak...t..t..termakasih, aku tidur diruang tamu saja!" jawab Dinda gagap sambil berlari membawa kopernya memasuki kamar yang Dean tunjukan tadi.
Sementara Dean hanya diam dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan,
karena melihat Dinda memasuki kamar utama. Membuat pria itu tersenyum senang.
."Apa dia salah masuk?" tanyanya pelan.
.
.
.Tak memerlukan waktu lama Dinda sudah menemuka dapurnya dan memdapati kulkas yang penuh dengan sayur sayur segar, "Kapan dia membelinya?"
tanya Dinda dalam hati.
"O...iya, kan ada asistennya!" katanya lagi sambil menepuk jidatnya sendiri.
Tak memerlukan waktu lama Dinda sudah selesai menyediakan makan siang untuk mareka berdua. Ia memasak Tumis kangkung, asam manis ikan asin talang, dan ayam goreng.
Dean yang kala itu sedang berada diruang keluarga untuk menonton TV, menghentikan aktivitasnya karena aroma yang menggugah selera, yang asli membuat perut keruncungan dibuatnya.
Diapun berjalan kedapur, dan duduk manis dimeja makan sambil menatap minat pada sajian yang ada dihadapannya tersebut.
"Apakah kau suka?" tanya Dinda ragu, karena dia tak tau menau makanan apa yang suaminya itu suka dan tak suka.
__ADS_1
"Apa aja aku suka, asal tidak ada racunnya." jawab Dean asal dengan nada bercanda sambil menerima nasi yang Dinda sudurkan dan makan dengan lahap.
Dinda yang melihat Dean makan dengan lahap, ikut duduk dan menyantap makan siang mareka dengan tenang dan hikamat.
Selesai makan Dindapun membersikan perabutan dibantu oleh Dean yang kala itu membantu menyusun perabutan yang sudah bersih ketempatnya. Sungguh bila orang tak tau pasti mengira mareka pasangan yang saling mencintai.
Karena kekompakan mareka itu,
"Terimakah sudah membantuku?" kata Dinda karena melihat cekatannya Dean dalam membantunya menyusun perabutan.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, karena kau sudah berkenan memasakkan makanan enak untukku!" jawab Dean tulus.
Sehingga membuat Dinda tersenyum senang, karena dipuji begitu. "Sama sama." jawab Dinda dengan sedikit rasa bangga dibenaknya saat 8tu.
Melihat tingkah istrinya itu Dean hanya tersenyum geli.
"Nanti malam masaki lagi ya, Ikan asin asam manisnya?" pinta Dean dengan nada memohon. Dinda menaikan alisnya
"Gak takut darah tinggi"? tanya Dinda heran sambil menatap Dean dengan pandangan tak percaya.
"Sekali dua kali gak apa apa kan?" jawab Dean tenang. Sebenarnya bukan itu yang ada dipikiran Dinda, Sebenarnya dia agak heran karena Dean menyukain masakan sederhananya.
"Ok." Sekas Dinda pasrah dengan permintaan Dean itu . Mendengar Dinda mengiyakan permintaannya Deanpun tersenyum senang.
Membuat Dinda terpana melihatnya "Manis sekali?" pikir Dinda senang dengan jantung yang berdetak kencang.
.
.
.Bersambung
Hay Guys jangan lupa tinggalkan Like n komentar kalian ya?
Termakasih
__ADS_1