My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Masalah Baru


__ADS_3

Sebelumnya


"Bahkan membalas pesanku saja kau tidak bisa, apakah. istrimu melarangmu?" tanya Cesya dengan raut wajah tak suka, bila memang yang dia tebak benar.


"Ini bukan karena Dinda, hanya saja, aku merasa ini kurang baik, karena kita sudah memiliki jalan hidup masing masing." jawab Dean dengan wajah sedikit tak enak saat mengucapan kalimat tersebut.


"Dean mengapa kau berpikir seperti itu?" tanya Cesya dengan wajah sedih, dan hampir menangis.


Dean hanya menghela nafas berat, sebenarnya dia tak tega melihat wajah sedih Cesya saat ini, namun Dean tak punya pilihan lain.


Dean berdiri dari duduknya sambil berkata.


"Cesya beberapa hari yang lalu, Noel datang menemuiku, dan dia menceritakan semua, bila akulah penyebab pertengkaran kalian selama ini, apa itu benar?" tanya Dean sambil menatap tajam sahabatnya itu.


Terlihat keterkejutan diwajah Cesya saat ini, akan perkataan yang keluar dari bibir Dean saat itu.


"Tidak!! itu tidak benar! kamu jangan merasa tidak enak begitu?" pinta Cesya dengan mata berkaca kaca saat itu.


"Ini bukan salahmu, Noel saja yang mudah cemburu, dan selalu menganggap dirinya hebat," Cesya menghentikan perkataannya kala melihat wajah lelah Dean saat ini.


Membuatnya bertanya tanya tentang apa yang sebenar Noel katakan padanya.


"Jujurlah padaku, apa sebenarnya yang dia katakan padamu?" tanya Cesya lagi.


"Dia hanya memintaku untuk tidak ikut campur, dan menyerahkan tanggung jawab dirimu seutuhnya padanya." jawab Dean jujur.


"Trus, kau setuju?" tanya Cesya penasaran


Dean hanya mengagungkan kepalanya mengiyakan tebakan sahabatnya itu.


Cesya hanya menghela nafasnya kasar, terlihat raut wajah kecewa diwajah cantiknya saat itu kala mendengar jawaban sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku menyerahkan mu sepenuhnya padanya, mungkin benar apa yang Noel bilang, bila akulah penyebab retaknya rumah tangga kalian, maafkan aku? selama ini aku tidak menyadarinya, aku seakan terlarut dengan janjiku kepada orang tua mu, sampai lupa bila kau sudah memiliki pendamping hidup." kata Dean terhenti kala Cesya memeluknya tiba tiba, sampai sampai tubuh Dean yang tidak siap terhuyung kebelakang olehnya.


Dean membalas pelukan Cesya saat itu kala merasakan tubuh wanita itu bergetar karena isaknya.


"Pulanglah, aku berjanji, bila Noel menyakitimu, akulah orang pertama yang akan menghukumnya?" janji Dean sambil menangkup kedua pipi Cesya saat itu.


Cesya hanya terdiam dengan perasaan hancur, entah mengapa ucapan Dean membuat dadanya begitu sesak, sampai sulit baginya untuk menghirup oksigen saat itu.


"Apakah sudah terlambat." Cesya tak mampu menahan air matanya kala mengerti akan maksud dari ucapan Dean saat itu.


"Maafkan aku, karena tak bisa menepati janjiku, yang akan selalu ada untukmu?" ucapa Dean terhenti saat Cesya memotong ucapanya saat itu.


"Apakah kau mencintai wanita itu? mengapa, bukankah dia hanyalah alat agar kau mendapatkan hakmu?" tanya Cesya setengah berteriak.


Tampamareka berdua sadari bila ada seseorang yang tengah menyaksikan perdebatan antara mareka saat itu.


Dia adalah Dinda yang saat itu bersandar dipintu, tiba tiba terduduk lemas, saat mendengar ucapan Cesya saat itu.


Dinda menutup mulutnya tak mampu menahan isaknya, dan dengan kekuatan yang tersisa dia pun memutuskan untuk pergi dari tempat yang membuatnya sesak itu.


Dean sangat terkejut mendengar ucapan Cesya saat itu.


"Dari mana kau bisa menyimpulkan seperti itu?" Tanyanya dengan menatap tajam Cesya saat itu.


"Aku tak sengaja mendengarnya dari Morren." jawab Cesya takut.


"Apakah dia menceritakannya padamu?" tanya Dean lagi.


"Tidak, aku hanya tidak sengaja mendengarnya saat mareka membicarakannya" jawabnya lagi


"Dean aku tau semuanya, bila tidak sepatutnya kau menikahinya bukan? Dean selama ini aku sudah menyadarinya, saat melihatmu dengannya, aku baru menyadarinya, bila aku tak bisa hidup tampamu?" ucap Cesya sambil menatap manik coklat Dean sedih.

__ADS_1


Hati Dean sakit bagai dipukul dengan palu saat mendengar perkataan Cesya saat itu.


Ucapan yang sudah sejak lama ingin dia dengar, tapi mengapa sedikitpun Dean tak merasa bahagia saat mendengarnya.


"Dean, bagaimana bila kita memulai lembaran baru, bersama?" pinta Cesya sambil mengenggam tangan kekar Dean saat itu.


Dean masih bungkam mendengarnya, membuatanya menjadi gundah saat itu, jujur saja Cesya adalah wanita satu satunya yang ada dihatinya sebelum kehadiran Dinda.


Namun bayangan wajah sekarat sang kakak membuatnya memghela nafad dan berkata.


"Maafkan aku!? namun ini sudah terlambat untuk kita bersama, kamu tau? saat ini Tenof sedang sekarat, dan dia menitipkan wanita yang paling berharga baginya kepadaku....?" perkata Dean terhenti.


"Tidak Dean! kamu tak boleh mengorbankan perasaanmu untuk orang lain?" pinta Cesya lagi.


"Tidak Cesya! ini bukan rasa kasihan ataupun sempati, tapi aku memang benar benar mulai mencintainya!!" ucapan Dean sukses membuat jantung Cesya seakan ditusuk ribuan jarum saat itu.


"Maafkan aku, mungkin kita memang ditakdirkan hanya sebatas sahabat, bukan untuk menjadi rekan hidup!!" ucap Dean lagi.


Yang membuat Cesya tak mampu lagi menahan air matanya saat itu.


"Baik baiklah bersamanya?" pinta Dean sambil menepuk pundak Cesya pelan.


Cesya mencoba untuk tersenyum, mendengar perkataan Dean yang sukses membautnya sakit itu.


Tampa menjawab Cesya berlari meninggalkan Dean tampa mengubis teriakan Dean yang memanggil namanya.


Saat itu.


Bersambung


Hay guys jangan lupa dukungannya ya?

__ADS_1


jangan lupa mampir ke novel keduaku judulnya


You Are My Soul Mate makasih


__ADS_2