My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Menyerahkan


__ADS_3

Dinda membuka matanya saat alarm disamping tempat tidurnya berbunyi dengan nyarinya.


Bukanya bangun Dinda malah menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, merasa terganggu, namun bunyi alarm itu masih bisa ia dengar, yang hampir membuat gendang telingannya itu pecah saat itu.


Dengan mata masih terpejam, Dinda bangun sambil meraba raba meja disamping tempat tidurnya, saat menemukan apa yang ia cari dangan cepat memencet tombolnya kemudian mulai terhanyut dialam bawah sadarnya lagi.


Namun dia tersetak kaget kala merasakan ada tangan kokoh yang baru saja memeluk pinggang rampingnya saat itu.


Dengan cepat ia membuka matanya dan menoleh kearah tangan itu.


"DEG" Jantung Dinda seakan berhenti berdetak kala melihat pria yang ada disampingnya saat itu.


Tampa berpikir dua kali, Dinda memeluk pria yang adalah suaminya itu dan membenam wajahnya didada bidang suaminya itu yang terasa sangat sangat nyaman untuknya.


Dean tersentak kaget, oleh apa yang Dinda lakukan padanya itu.


Tidak banyak bertanya Dean pun membalas meluk sang istri sambil mengelus lembut kepala Dinda.


Dengan senyum mengembang senang, dia mengira istrinya akan ngambek atau sebagainya, namun ternyata tebakkannya melesat, diluar dugaannya itu.


Dapat Dean rasakan tubuh Dinda yang bergetar, sehingga membuatnya melepaskan pelukannya untuk melihat wajah sang istri.


Dan benar saja, saat ini Dinda tengah menangis dengan air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.


Dean berlahan menghapus air mata Dinda lembut, sambil menyelipkan rambut yang menutupi wajah Dinda kala itu.


"Kenapa?" tanya Dean heran sambil memeluk Dinda sayang.


Ada perasaan sakit dihatinya kala melihat air mata Dinda saat itu.


"Ja-hat?" ucap Dinda terbata bata oleh isaknya.


"Kamu jahat Dean?" lanjutnya lagi, sambil memukul pelan dada bidang Dean saat itu.


"Maaf? karena telah mengabaikanmu?" jawab Dean menyesal.


Dia tak menyangka bila sikapnya itu telah melukain perasaan istrinya sampai seperti ini.


Dinda tidak menjawab ucapan Dean, dia hanya diam sambil mencium dada Dean yang memang saat itu tidak mengenakan baju.


Sehingga dia bisa menciun aroma tubuh Dean mulai memasukin indra penciuman Dinda saat itu.


Aroma yang sangat dia rindukan itu, seakan menjadikan Dinda seakan candu.


"Dean, jangan tinggalkan aku?" ucap Dinda dengan masih mencium dada Dean nakal.

__ADS_1


Membuat Dean merasa geli geli nikmat dibuatnya.


"Mengapa kau bicara begitu?" tanya Dean dengan suara tegas karena kaget dengan perkataan Dinda saat itu.


Dinda hanya diam sambil melepaskan pelukkannya untuk mendudukkan tubuhnya


Dean masih binggung dengan kelakuan Dinda saat itu.


"Jangan mencari wanita lain?" kata Dinda lirih sambil membuka kancing piama yang dia kenakan saat ini.


Sehingga membuat Dean bisa melihat kulit mulus dan payudaranya yang padat dan besar itu.


"GLEK." Dean menelan savilanya kasar, melihat pemandangan indah dihadapannya, yang tampa sadah membuatnya menahan nafas.


Dinda menatap manik coklat Dean tajam, dengan tubuh bergetar, entah karena takut atau karena malu dengan tindaknya saat itu.


Namun yang pasti dia ingin memuaskan hasrat suaminya itu, dengan tubuhnya.


Berharap hanya ada dia dihati Dean saat itu.


Dinda tak ingin Dean meninggalkannya, seperti yang dilakukan Renof dulu.


Bila itu terjadi Dinda tak tau apakah dia masih bisa menjalani hidup atau tidak.


Dan pagi itu Dinda menyerahkan dirinya seutuhnya untuk Dean.


Kali ini Dinda melakukannya dengan hati iklas . Ia membiarkan Dean menikmati tubuhnya saat itu dengan suka rela, melayani suaminya itu.


💐💐💐💐💐


Kini Dinda sedang membuat sarapan, dengan wajah memerah, saat mengingat sikap agresifnya tadi pagi.


"Oh Tuhan!! aku sangat malu?!" ucapnya sambil memegang kedua pipinya yang merona.


Dinda hanya bisa memasak nasi goreng hari ini, karena persediaan bahan mareka yang telah habis.


Hari ini Dinda tidak ke kampus, karena tadi dia baru saja menerima kabar dari Wina untuk berkumpul di kerumah sakit saja.


Selesai memasak nasi goreng, Dinda meletakkan nasi goreng itu ke wadah yang sudah ia sediakan.


Saat dia hendak meletakkan Nasi goreng itu ke atas meja, dia melihat Dean yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Saat manik mareka terpaut, dengan cepat Dinda mengalihkan pandangannya dengan kedua pipi merah merona.


Dean hanya tersenyum sambil berjalan mendekati Dinda.

__ADS_1


Kemudian "Cup." Dean memcium bibr Dinda pelan, dan menatap manik lejelnya,


"A-ku, buatkan minum?!" jawab Dinda salah tingkah sambil berjalan setengah berlari meninggalkan Dean yang terkikik pelan melihat tingkah polos istrinya itu.


Dean mendudukkan tubuhnya pelan sambil menunggu kedatangan sang istri, untuk sarapan bersama.


Beberapa menit kemudian Dinda datang dengan membawa mampan berisi cangkir diatasnya.


Memudian meletakkan cangkir berisi kopi itu kesamping suaminya itu, dan mengambil nasi goreng yang ia masak tadi ke atas piring, kemudian menaruhnya dihadapan Dean.


Dean hanya diam sambil memperhatikan Dinda dengan seksama.


Ingatannya menerawang akan kejadian beberapa jam yang membuatnya merasa bahagia.


Mareka sarapan sldengan diam, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara.


Dean duduk diruang tamu sambil memasang sepatnya.


Saat melihat Dinda berjalan menghampirinya Dinda memdudukkan diri bersebrangan dengannya, Dean pun menyuruh Dinda mendekat sambil melambaikan tangannya kearah istrinya itu.


Dinda menurut sambil berjalan kearah suaminya itu, tampa aba aba Dean menarik tangan Dinda spontan, Dinda yang kala itu belum siap, hilang keseimbangan dan alhasil dia jatuh dipangguang suaminya itu, yang saat ini melihatnya dengan tatapan mesum.


"Ehm, istriku mulai mesum ya? pagi pagi udah mengodaku untuk menerkamnya!!" goda Dean sambil memegang erat pinggang ramping Dinda yang hendak berajak dari pangkuannya.


"Dean lepas?" ucap Dinda sambil menunduk karena malu.


Sehingga membuat Dean bukannya melepaskan, malah mempererat pelukannya saat itu.


"Kau tenang saja, aku hanya ingin mempunyai istri cuma satu!!" ucap Dean sambil menatap manik lejel Dinda lekat dan dekat, sehingga membuat mareka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.


"Karena aku pernah berjanji dalam hidupku, dan tidak akan melanggarnya!" ucap Dean lagi sambil menyentuh hidung mancung istri menggunakan hidungnya.


"Bukan kah tuhan kita menghormati janji sakral itu? lalu mengapa kita umatnya harus melanggarnya?" lanjutnya dan kali ini Dean mengecup lembut bibir Dinda, sehingga membuat wanita itu terlena dan menutup manik lejelnya menikmati perlakuan suaminya yang mampu membuatnya


melayang itu..


💐💐💐💐💐


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


.


Hay guys jangan lupa Likenya ok😘😘😘


__ADS_2