My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Kepulangan mama


__ADS_3

Dean keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya.


Terlihat Dinda duduk ditepi ranjang sambil menatap Dean sehingga membuat pandangan mareka terkunci.


Dean memalingkan pandangannya dan berjalan menuju almari untuk mencari pakaian, yang akan di kenakan.


"Ehm...ini sudah aku siapin?" ucap Dinda sambil berdiri dan menyerahkan baju santai yang ada ditangannya untuk suaminya itu.


Sejenak Dean menatap Dinda sehingga sekali lagi manik coklatnya bertemu dengan manik lejel Dinda.


Sehingga menimbulkan gejolak aneh yang seakan mengebu di dalam diri keduanya saat itu.


Dean menyambut baju yang Dinda berikan itu tampa mengucapkan sepatah katapun, dan berjalan melewati istrinya yang masih mematung itu.


"Duh masih marah ya?" pikir Dinda sambil memperhatikan Dean yang sedang mengenakkan baju itu.


"Emm...Ayu kita makan malam? mama sudah menunggu!" ucap Dinda sambil tersenyum tipis kearah suaminya itu.


Dean hanya diam tampa mengubis ucapan istrinya itu dan berjalan lebih dulu meninggalkan Dinda sendirian, dia masih kesal dengan Dinda yang bertingkah seperti perawan desa pikirnya.


Dinda hanya tersenyum melihat kelakuan Dean yang terkesan kanak kanakan itu.


"Kita liat sampai mana kamu sanggup mogok bicara denganku tuan Anggara?" ucapnya pelan sambil berjalan menyusul Dean yang sudah pergi duluan itu.


.


.


.


.


Paginya mama Chinta dan papa Bima pamit untuk pulang lagi kebandung.


Dan jujur sebenarnya Dinda tak ingin mertuanya itu pergi.

__ADS_1


Begitu juga mama Chinta dia juga sebenarnya tak ingin meninggalkan menantunya itu, namun apa daya, dia harus pulang tidak mungkin dia membiarkan suaminya pulang sendirian bukan?


Dean sudah menggunakan baju kantornya ya, Dean ikut dengan orang tuanya kebandung.


Dan tinggallah Dinda sendiri sekarang diapartemen itu.


Dinda mendudukkan diri diruang tamu sambil menupang dagunya dengan satu tangan.


Dia merasa sangat sedih karena sejak kemaren Dean tidak menengurnya.


"Apakah aku salah ya?" pikirnya bingung.


"Tin nong, tin nong" (Suara bel ya)


Dinda berjalan dengan malas untuk membuka pintu itu.


Dan melihat ternyata mbak Sarilah yang datang.


Dinda mempersilahkan mba Sari untuk masuk, dan diangguki oleh mbak Sari itu sendiri.


.


.


.


Beberapa jam kemudia


Dinda melihat mbak sari tengah mengepel ruang tamu, terpintas suatu ide diotaknya.


"Mbak sini?" teriaknya sambil melambaikan tangannya ke arah mbak sari itu.


"Iya non?" jawab mbak Sari sambil berjalan menghampiri Dinda.


"Duduk sini?" pinta Dinda sambil mempersilahkan mbak Sari duduk disampingnya.

__ADS_1


"Tidak non, saya disini saja!" jawab mbak Sari sungkan dan masih berdiri.


"Ayulah mbak?" pinta Dinda dengan wajah memelas, sehingga membuat mbak Sari tidak tega melihatnya dan menuruti permintaan majikannya itu.


Dinda tersenyum melihat mbak Sari sudah duduk disampingnya.


"Ada apa non?" tanya mbak sari lagi dengan wajah penasaran.


"Begini mbak, Mmm mbak kan udah punya keluarga nie?" ucap Dinda ragu.


Mbak Sari hanya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Dinda.


"Mmm ini teman ku loe ya? Mmm dia bilang suaminya marah karena dia tidak mau disentuh, karena dia takut di..ituin mbak, katanya sakit?" kata Dinda panjang lebar sambil tersipu malu, dengan wajah bersemu merah itu.


Mbak Sari tersenyum geli mendengar perkataan majikannya itu yang sudah ia mengerti.


"Ya tentu marah non, karena bila tidak dituntaskan ya larinya kekepala! mengakibatkan sakit kepala yang luar biasa. dan tidak perlu takut karena tidak akan sakit terus koq non!" jawab mbak Sari sambil tersenyum geli melihat majikannya itu.


"Iihh...mbak, bukan Dinda mbak?" bantah Dinda malu melihat mbak Sari yang tersenyum padanya saat itu.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


Hay guys jangan lupa like❤ n komennya oke😘😘

__ADS_1


__ADS_2