
"Hallo ma?, iya sebenar lagi Dean pulang, iya dah...!" ucap Dean sambil mengakhiri panggilan tersebut.
Dan seketika itu juga senyumnya hilang dari wajah tampannya.
Ia menghela nafas berat, sambil menatap langit-langit ruangan kantor itu nanar, dan memejamkan manik coklatnya berlahan.
Bayangan wajah sedih Dinda menari-nari dibenaknya, kala ia memejamkan netranya.
dengan cepat-cepat Dean membuka manik coklatnya, dengan rasa resah yang mulai menyuak penyesalan dalam benaknya.
"AAKKHHHH...?!" Teriaknya frustasi, sambil mengacak-acak rambutnya kasar.
Sungguh ia bingung dan tak berdaya dalam situasi yang ia hadapi saat ini.
Andai ia tak mengacuhkan Dinda, andai ia lebih memilih istrinya, ketimbang pergi mengejar sahabatnya, AAKKHH!! sungguh ia merasakan serba salah.
Disatu sisi istrinya, dan disatu sisi sahabatnya.
Bila ia tak mengejar Cesya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, mungkin bisa saja nyawa sahabatnya bisa melayang.
Sungguh Dean tidak menyangka bila Dinda akan pergi meninggalkan dirinya.
Sungguh ia sangat kaget dengan sikap Dinda, ketika memintanya untuk memilih ia atau sahabatnya saat itu.
Dinda yang selalu bersikap Dewasa, dan acuh tak acuh terhadap dirinya itu.
Tiba-tiba bertingkah sangat posesif terhadap dirinya.
Bohong bila Dean tidak senang dengan sikap posesif istrinya itu, sungguh ia sangat-sengat senang.
Namun situasinya yang tidak mendukung saat itu, bagaimana tidak, disaat sahabatnya yang selalu menemani ia disaat-saat sulit, yang selalu membantu dirinya, bahkan memberi ia modal untuk usaha bengkel kecil-kecilan, dan sampai bisa berkembang pesat seperti ini
__ADS_1
Semua itu tidak luput dari dukungan Cesya dan Chalvin, bagaimana mungkin ia meninggalkan sobatnya itu disaat-saat sulit, sungguh tak tau balas Budi ia bisa melakukan itu.
Dean tetap memilih membantu, menyelesaikan komplit, antara Cesya dan sang suami, Nael, ia bersikap menjadi penengah disana, tidak lagi memaksa sobatnya itu, untuk meninggalkan suaminya, ia memposisikan dirinya sentral mungkin untuk mendengarkan cerita dari kedua belah pihak.
Mencoba meluruskan kesalah pahaman antara suami istri itu, dan menyuruh mareka menghadapinya dengan hati sabar.
...
Berminggu-minggu sudah berlalu
Dean sudah pulang ke apartemen miliknya, sambil duduk manis dibar mini miliknya, dengan wajah lelah.
Sampai saat ini pun, ia tak pernah mendapat kabar secara langsung dari sang istri. entah lah Dinda seakan enggan menghubungi dirinya, hanya Winalah satu-satunya alat komunikasi dirinya dengan sang istri untuk saat ini.
Itupun tidak bisa secara langsung, ia harus menanyakan dulu kepada Chalvin, karena gadis itu seperti tidak suka terhadap dirinya.
Terbukti dengan tidak pernah sekalipun ia membalas chat atupun telepon dari Dean, yang terkesan pura-pura tidak tau, bila ia menghubungi wanita itu.
Berbanding terbalik bila Chalvin yang menghubungi wanita itu, wanita itu akan menjawab dengan cepat, bahwa tidak sampai deringan yang kedua, panggilan itu pasti terjawab.
Pernah sekali, ia menelepon Wina, sampai berkali-kali, aktif, namun diabaikan dengan sadis, oleh wanita itu, entah ia sibuk, atau apa? hanya dia dan Tuhan yang tahu, dan saat Dean yang sudah frustasi, dan putus asa, ketika, Chalvin datang, dan menawaran bantuan, karena tak tega melihat keadanya sangat menyedihkan itu, Chalvin yang kebetulan sedang datang menjenguk dirinya kala itu,
Mulanya Dean merasa tak yakin bila Wina akan mengangkat panggilan sahabatnya itu.
Namun ternyata dugaannya itu salah, bahkan, tidak sampai dering kedua, panggilan tersebut sudah terjawab.
Bahkan dengan suaranya yang dibuat mendayu-dayu agar terkesan lembut dan menggoda.
Berbanding terbalik saat bicara dengan dirinya yang kala itu langsung menyeruput ponsel sobatnya itu.
Dan seketika itu juga, suara yang mendayu-dayu, dan lemah lembut itu, berubah menjadi sangar, mengalahkan singa betina, yang sedang kelaparan, membuat siapa saja yang mendengarnya, akan lari terbirit-birit, saking takutnya.
__ADS_1
Sungguh sangat mengerikan.
Membuat Dean seketika itu juga mengembalikan ponsel sobatnya itu, pasrah.
Tapi, tunggu dulu?
Dean terperengah, kaget, sambil berpikir keras, sehingga menimbulkan kerutan didahinya saat itu, sejak kapan sobatnya itu begitu dekat, dengan sahabat istrinya itu, sungguh ia baru tau.
Terbukti dengan sikap Chalvin yang terkesan malu-malu menjawab pertanyaan dari wanita disebrang sana membuat ia menyipitkan manik lezelnya curiga, dan merasa kecolongan saat mendengar, sahabatnya yang biasa irit bicara itu, seakan menjelma menjadi burung beo yang tak henti-hentinya, menguceh kepada wanita disebrang sana.
"Sejak kapan? tanyanya kepo dan hampir tak terdengar.
"Sudah Tiga bulan!" jawab Chalvin sambil mengangkat tiga jarinya.
membuat Dean hanya membulatkan bibirnya berbentuk hurup O.
Dean ia merasa senang, dan legah, dengan hubungan sahabatnya tersebut, karena berkat hubungan mareka ia bisa tau kabar sang istri tercinta disana.
Dean masih sering muntah-muntah, tapi hanya bila pagi menjelang saja, mulanya ia mengira, masuk angin, atau maagnya kumat saja, karena mengingat berapa hari, sejak meninggalnya sang kakak, ia kurang memperhatikan pola makannya yang kurang teratur.
Namun saat periksa, dokter bilang bahwa ia sangat-sangat sehat.
Mulanya ia bingung, namun kebingungan itu, terpecahkan saat mendengar bila istrinya saat ini tengah mengandung.
Mulanya Wina meminta Chalvin untuk tidak memberi tau kabar kehamilan sobatnya kepada Dean, ia merasa kurang pantas, bila Dean tau dari orang lain, biarlah Dinda sendiri yang akan memberi taukan suaminya itu, karena ia lebih berhak.
Namun melihat sikap keras kepala Dinda, yang terkesan bodo amat, dan lebih menjunjung tinggi gengsinya itu, tapi bila Dean tidak ada kabar, paniknya bukan kepalang, sehingga Wina harus meminta tolong Chalvin, untuk selalu mengintil kemana pun Dean pergi, agar rasa was-was sahabatnya itu, berkurang.
Dan itulah yang membuat Wina tidak tahan, Bila was-was sobatnya itu datang, ia akan menangis tersedu-sedu, dan saat Wina menyuruhnya menghubungi suaminya, ia langsung berkata, tidak, dengan tegas.
Dan akhirnya ia memperolehkan Chalvin memberi tau kabar bahagia itu kepada Dean.
__ADS_1
Agar Dean tau, dan lebih memperhatikan istrinya tersebut.
Bersambung