
Dinda dan Wina menuju kantin, mareka baru saja keluar dari kelas, dan berniat untuk mencari makan, karena sekitar jam satu mareka harus sampai kerumah sakit untuk melakukan jaga kelumpuk disana, dan kebetulan hari ini Wina, Dinda, Selva dan Yudis yang bertugas, dari jam 13:00 sampai jam 19:00 jadi sebelum berangkat marekapun memutuskan untuk mengisi perut mareka terlebih dulu.
Dinda meraba isi tasnya untuk mengambil ponsel pintarnya, dengan berharap harap semoga ada pesan masuk dari Dean yang sudah berhasil mengubrak abrik pikirannya hari ini.
Namun Dinda harus kecewa kala itu, karena jangankan membalas, membuka pesan chat yang ia kirim tadi malam saja tidak.
Sehingga tampa sadar ia menghela nafas kasar karena kecewa bercampur khawatir yang bercampur jadi satu saat itu dibenaknya.
Membuat Wina yang dari tadi sibuk dengan laptop didepannya, menatap sahabatnya itu heran.
"Kamu kenapa? dari tadi aku perhatikan kaya ABG yang sedang galau?" tanya Wina sambil menghentikan aktivitasnya saat itu, sambil menatap manik lejel Dinda serius.
Dinda hanya menghelan nafas sambil menupang dagunya dengan kedua tangannya sedih.
"Bilang dong?" tegur Wina khawatir melihat mata Dinda yang mulai berkaca kaca itu.
"Bukan masalah yang besar koq, hanya saja dari kemaren siang Dean tak memberi aku kabar!." gumannya dengan wajah sendu.
"Emang dianya kemana?" tanya Wina lagi sambil mengucapkan terima kasih kepada ibu kantin yang kala itu sedang mengantar pesanan mareka.
Dinda hanya menggeleng lemah, "Makanya itu, aku khawatir? karena sebelum pergi dia tak memberi tau apapun!" jawab Dinda sedih.
Saat Wina ingin menanyakan lebih lanjut lagi, tiba tiba, Selva dan Yudis sudah menghampiri mareka, membuat Wina mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut saat itu.
"Boleh gabungkan? tanya Yudis sambil tersenyum kepada dua wanita cantik didepannya, di ikuti oleh Selva yang adalah adik sepupunya itu.
Wina dan Dinda suntak mengangguk secara bersamaan sambil tersenyum ramah.
Kemudian Yudis pun mengambil posisi disamping Wina sehingga membuatnya berhadapan dengan Dinda Cewek paling jutek dikampusnya itu.
Sedangkan Selva duduk disamping Dinda, karena hanya itu sisa bangku yang tersisa saat itu.
Tak ada yang tau tentang status Dinda dikampusnya, kecuali Wina sahabatnya itu.
Karena Dinda tidak mudah bergaul dengan seseorang, bukannya karena dia sombong, namun dia lebih memilih untuk lebih fokus dengan kuliahnya, mengingat orang tuanya yang sudah kembali ke sisi yang maha kuasa itu.
Membuatnya tak bisa mengikut pergaulan muda mudi seusianya saat itu.
Munafik bila dia bilang dia tidak tertarik, sebenarnya Dinda juga ingin mencoba hal baru.
Namun dia takut, takut mengecewakan amanah orang tuanya, makanya dia lebih memilih untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan.
💐💐💐💐💐
Saat ini mareka sudah sampai di salah satu rumah sakit swasta, dan berbagi tugas masing masing karena memang mareka ditugaskan dengan tempat yang berbeda beda.
Wina Dan Selva ditugaskan diruangan spasialis jantung, karena memang itulah bidan mareka ,dan ada dokter Mira yang membimbing mareka disana.
Sedangkan Dinda dan Yudis, mareka di UGD dan mareka dibimbing oleh Dokter Agus, yang usianya hampir setengah abad itu.
__ADS_1
Sebenarnya Dinda agak risih dengan keberadaan Yudis, karena Dinda yang tidak tau cara bergaul itu menjadi serba salah jadinya.
Berbeda halnya dengan Yudis yang terlihat saat bahagia kala itu.
Karena hampir 2 tahun Yudis menyimpan rasa kagum untuk Dinda, namun ia pendam karena Dinda yang seakan menjaga jarak dengan kaum lelaki itu.
jadi Yudis hanya bisa menyimpan rasanya untuk Dinda dalam hatinya saja.
Tampa ada niat untuk mengungkapkan perasaannya saat itu.
💐💐💐💐💐
Hari ini ruangan UGD yang biasanya padat dipenuhi oleh pasien itu, terlihat sepi, karena pasien yang akan menginap sudah para perawat antar keruangan mareka masing masing.
Sedangkan yang di rawat jalan hanya ada tiga orang saja kala itu.
Sehingga Dinda masih bisa duduk santai bersama dengan para perawat lainnya.
Sedangkan Yudis tengah berbincang bincang dengan dokter Agus yang ternyata adalah adek dari ibunya Yudis.
Sambil sesekali mencuri pandang kepada Dinda yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.
Namun tak berselang lama, karena tiba tiba mareka disibukkan dengan kedatangan mobil ambulan yang ternyata membawa pasien korban tabrakan kala itu.
Sehingga ruangan yang mulanya tenang itu berubah menjadi gaduh, Dinda membantu Dokter Agus untuk membawa perlengkapan medisnya dengan Yudis yang membantu mengangkat tubuh pasien itu ke brankar dorong yang sudah disediakan disana.
"Tolong Dokter aku tidak mau mati?" ucap pasien itu sambil memegang erat samping brankar dorong yang sedang membawanya kedalam itu untuk mengurangi rasa sakit akibat rubek dipaha dan juga dahinya itu.
"Bapa tenang saja, kami akan melakukan dengan segenap kemampuan kami, dan jangan lupa bapa berdoa kepada Tuhan agar diberikan kemudahan?" kata Yudis ramah sehingga membuat pasien itu terlihat lebih tenang dan pada sebelumnya.
Tak berselang lama mareka sudah selesai menjahit luka pasien tersebut dengan begitu cekatannya, sehingga kini Dinda dan perawat yang bernama Elin itu ditugaskan untuk membawa pasien itu kesalah satu ruang inap yang memang telah rumah sakit itu sediakan
Ketika mareka melewati Ruang Mawar, tampa sengaja Dinda melihat sosoknya sudah mengubrak porandah hatinya beberapa hari ini.
Siapa lagi kalau bukan Ardean Anggara prianya kini telah mengusik hatinya itu.
Setelah mengantar pasien tersebut keruang Anggrek, Dinda pun dengan cepat melangkahkan kakinya untuk menghampiri sosok yang ia lihat tadi, saat ia sudah berada diruangan Mawar diapun bertanya kepada salah satu perawat jaga disana sambil menceritakan ciri ciri sosok yang ia cari.
Kemudian perawat jagapun menunjuk salah satu ruangan yang tidak jauh dari tempat Dinda berdiri saat ini.
Berlahan namun pasti Dinda pun mulai melangkahkan kakinya dengan mantap.
Saat hendak membuka handle pintu, dia dikejutkan dengan suara yang saat itu tengah berteriak sangat nyaring, sehingga membuat mareka seketika menjadi pusat perhatian.
"Ngapain loe datang kesini?" tegur suara itu setengah berteriak.
Dinda yang kaget sontak memandang kesumber suara yang hampir membuat jantungnya copot itu.
Disana tengah berdiri seorang wanita cantik dengan menggunakan celana jens pendek sepaha dan baju hem warna biru langit sehingga menambah aura kecantikannya saat itu, namun wajahnya yang cantik seketika lenyap oleh rasa iri dengki yang sudah memenuhi pikirannya saat itu.
__ADS_1
Wanita itu adalah Siska teman SMA Dinda dulu.
"Mau apa loe keruangan kakak gue?" teriak Siska sinis yang saat itu sudah berdiri dihadapan Dinda sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Aku tadi melihat Dean, dan kata para perawat jaga dia ada disini?" jelas Dinda jujur, sambil melirik kesekitar ruangan terlihat banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mareka dengan wajah Kepo sehingga membuat Dinda merasa sangat malu.
"Jangan ganggu kakak gue, pergi loe dari sini? dasar wanita munafik, penjilat? aku gak tau pelet apa yang telah loe berikan kepada kak Dean sehingga dia mau menikahi sama loe, cewe kampung?" sindir Siska sinis dengan pandangan remeh. Kearah Dinda sehingga membuat darah Dinda mendidih mendengarnya.
Namun dia memilih untuk mengalah mengingat mareka sekarang berada dilingkungan rumah sakit.
"Aku heran sama kamu Sis? kenapa kamu begitu membenciku? sebenarnya apa salahku padamu?" tanya Dinda sambil menatap mata hitam Siska heran.
Ia tak habis pikir dengan Siska yang terlihat sangat begitu membenci dirinya dari dulu.
"Kesalahan loe? karena loe itu nyebelin, sok polos dan sok suci, padahal MURAHAN?" Jawab Siska sinis dengan menekan kata murahan sehingga membuat Dinda tak mampu lagi untuk mengontrol emosinya saat itu.
Sehingga. "PLAK." Dinda menampar Siska keras, sehingga membuat sudut bibir Dinda berdarah.
"Dinda? apa yang kamu lakukan?" tiba tiba Dinda dikejutkan dengan kedatangan Dean dan Moren disampingnya saat itu.
"Aku..." belum sempat Dinda membela dirinya Siska lebih dulu berbicara.
"Dia tak suka loe menjenguk kakak gue, dan dia datang untuk memperingati kakak gue agar tidak mendekati loe lagi?" jawab Siska dengan wajah sok tertindas itu. Sehingga membuat Dean menatap iba Siska lala itu.
"Bukan? dia bohong Dean?" bantah Dinda sambil menggeleng panik, dia bingung dengan situasinya saat ini.
"Cukup Dinda, aku tau aku salah, karena tidak menghubungimu, tapi bukan berarti kamu bisa melempiaskan rasa kesalmu padaku kepada orang lain bukan?" ucap Dean dengan sedikit bentak.
Sehingga membuat dada Dinda sakit mendengarnya, karena selama tiga bulan ini, baru hari ini Dean menatapnya dengan tatapan tak percaya padanya.
"Dean kamu salah, aku tak melarang kamu bergaul dengan siapa pun dia bohong...?"
"Cukup? sekarang sebaiknya kamu pulang oke?" perintah Dean sambil menarik tangan Dinda berniat untuk membawa istrinya itu pulang.
Tapi Dinda menangkisnya,
Sambil menatap suaminya itu dengan mata berkaca kaca.
"Kau tak perlu mengantarku, karena aku kesini karena sedang tugas!" ucapnya dengan suara bergetar sambil beranjak pergi dari meninggalkan Dean yang masih menatapnya kala itu.
💐💐💐💐💐
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hay guys sampai disini dulu ya?😘😘
jangan lupa Like ❤ n komennya oke😉😉