
Hari-hari telah berlalu begitu saja, Dinda masih menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Dengan ditemani sahabat satu-satunya itu ia menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.
Dean sudah pulang, namun suaminya bagaikan selalu ada didekat dirinya.
Bagaimana tidak bila setiap saat, suaminya itu selalu mengirimkan pesan kepada dirinya. Ya walaupun isi pesannya sangatlah sederhana, namun kata-katanya mampu membuat hati Dinda tenang dan bahagia, dan bila menjelang malam suami itu selalu menelepon dirinya, membuat Dinda merasa bila suaminya itu masih ada didekatnya. Tak dipungkiri kadang rasa rindu menyuak masuk dikalbu, namun Dinda akan menjadi kan perasaan rindunya sebagai motivasi agar lebih giat menjalani hari-harinya kini.
...
Pagi ini Dinda sedang makan didapur , ia masih mengenakan daster, ditemani sahabatnya yang kala itu sudah rapi dengan seragam kebanggaan mareka.
Mareka makan dengan hikmat, tampa ada yang bersuara.
Hingga keheningan menyelimuti ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Dinda mengamati wajah cantik sahabatnya itu yang terlihat muram, sebenarnya Dinda sudah beberapa hari ini memperhatikannya, namun ia enggan menanyakannya, karena melihat wajah Wina yang masih bete. Namun tidak untuk kali ini.
"Kamu kenapa ada masalah?" tanyanya pelan, sambil menatap wajah cantik sahabatnya itu.
Wina yang mendengar pertanyaan sahabatnya itu, meletakkan Senduk yang sejak tadi ia pegang tampa ia gunakan itu.
__ADS_1
"HAH..." helanya panjang, sambil memutar bola matanya frustasi.
"Gak ada apa-apa, cuma lagi kesal aja." jawabnya sambil tersenyum paksa, ia tak ingin membuat bumil itu menjadi kepikiran oleh dirinya.
Dinda menyengit heran, "Gak ada apa-apa? yakin?" tanyanya penuh selidik.
"Hmm..." jawab Wina ragu.
Dinda hanya mengangkat satu alisnya, dengan ekspresi tidak percaya.
Membuat Wina hanya bisa menghela nafas panjang dibuatnya. "Aku lagi kesal sama Chalvin..." ucapnya sambil menyerka cairan bening yang membasahi pipinya mulusnya saat ini.
"Dia beberapa hari ini tidak pernah memberi kabar, kan akunya kesal!!" jawabnya dengan wajah sebal.
Dinda tersenyum geli melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Kenapa kamu tidak menghubungi dia lebih dulu?" usul Dinda lagi.
"Gak ah, nanti dianya ke ge'eran lagi!" tolak Wina sambil menggeleng kepalanya cepat.
Dinda tersenyum sumringah, "Biar aja dianya ke ge'eran, biar dianya senang?" ucapnya sambil menarik senyumnya lebar.
__ADS_1
"Malu?!" rengek Wina lagi, karena jujur, semejak hubungan antara Dinda dan suaminya membaik, ia sudah jarang berhubungan dengan kekasihnya itu.
Ya, karena dulu yang menjadi objek pembicaraan mareka ya sahabatnya itu, dan karena hubungan keduanya sudah membaik, jadi kini Wina bingung harus membahas masalah apa dengan pria tidak peka itu.
"Sebenarnya apa yang membuat ku suka dengan pria yang tidak peka itu?" pikirnya Wina sambil memijat pelipisnya pelan.
"Jangan malu, rindu itu berat tau?" godanya sambil mencolek dagu sahabatnya itu dengan ekspresi wajah menyebalkan.
Wina hanya mendengus sebel, melihat bayangan tubuh Dinda yang kian menjauh darinya.
"Padahal dia juga gitu!" gumannya pelan, sambil membayangkan tingkah sahabatnya kala tangan itu.
Wina menghela nafas berat, sambil meraih tas jinjing miliknya, dan beranjak dari tempat duduknya.
Ia berjalan menghampiri Dinda yang saat itu berada didalam kamar.
"Din aku berangkat ya? nanti bila ada apa-apa hubungi aja!!" perintahnya sambil berdiri diambang pintu, melihat wanita hamil itu sedang melakukan panggilan Vidio dengan suaminya.
Dinda mengangguk pelan mengiyakan ucapan sahabatnya itu.
Bersambung
__ADS_1