My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Permintaan


__ADS_3

Setelah kepergian Dean, Dindapun memutuskan untuk masuk kedalam rumah tersebut, mama Chinta dan papa Bima masih berada dimeja makan. Dia enggan untuk menghampiri sang mertua, jadi dia memutuskan pergi kekamar, yang terletak dilantai dua rumah tersebut. "Dinda? sini dulu sayang, ada yang ingin mama dan papa bicarakan?"


ucap mama Chinta sambil melambaikan tangannya ke arah Dinda, Dinda yang mendengar namanya dipanggil menoleh kearah sumber suara, sambil berjalan males menghampiri sang mertua. "Mama tau kamu marah dan kecewa, tapi kamu harus tau bila ikatan pernikahan itu bukan lah yang bisa dipermainkan! dan mama mau kamu bisa menerima Dean sebagai suamimu nak?" ucap mama Chinta pelan. Setelah Dinda mendudukkan diri disampingnya. "Iya sayang, Dean itu anak kami yang baik, dan bertanggung jawab! jadi papa berani jamin kamu gak akan menyesal?" imbul papa Bima mantap. Sadangkan Dinda hanya memutar matanya malas, sebenarnya dia masih males membahas hal ini, dia masih sakit hati dengan anak sulung dari keluarga Anggara ini. Namun dia hanya diam, mendengarkan perkataan sang mertua saat ini. Melihat Dinda yang hanya diam membuat sang mama mertua memberanikan diri untuk memegang tangan Dinda. "Kamu maukan membuka hati untuk Dean?" tanya mama Chinta berharap. Dinda menatap mama Chinta dengan matanya yang berkaca kaca, ditatapnya mata coklat milik mama Chinta dalam, tak ada kebohongan disana, yang Dinda rasakan hanyalah kasih sayang dari seorang ibu, yang sudah lama tidak dia rasakan, spontan Dinda memeluk mama Chinta sambil menangis nyaring. "Apa salah Dinda mama? sehingga Renof tega mencampahkan Dinda seperti sampah, yang tak berharga?" tanya Dinda sambil terisak pilu, dibiarkannya air matanya keluar di sela tangisan agar bisa menghilangkan rasa sakit yang menyesak didadanya saat ini.


"Maafkan mama sayang, mama sudah gagal mendidik Renof?" ucapan mama Chinta terhenti oleh isaknya yang tak mampu dia tahan, bagaimana tidak, ia ikut merasakan apa yang Dinda rasakan saat ini.


"Tidak, mama tidak gagal! ini bukan salah mama, mungkin Renof memang bukan jodoh Dinda!" jawab Dinda disela sela isaknya. Papah Bima yang melihat drama dihadapnya hanya tersenyum pelik, sebenarnya dia malu dengan perbuatan si sulung, tapi disatu sisi dia bangga, ia tak bisa berbuat apa apa saat ini, biarlah waktunya akan menjawabnya pikir papa Bima, sambil menatap iba wajah kedua wanita yang ada dihadapanya saat ini.


"Nak Dinda, kamu maukan memberi kesempatan untuk Dean, membuktikan dirinya?" tanya papa Bima berharap.


"Bukan sebagai pengganti Renof, tapi sebagai Ardean Anggara, putra bungsu keluarga Anggara?" Sambung papa Bima penuh harap. Dinda terdiam, mendengarkan perkataan sang papa mertua,.


"Saya rasa, Dean tak ada hubungannya dengan ini semua, jadi saya tak bisa mengikatnya dengan hubungan yang seperti ini, dan lagi saya yakin diluar sana Dean pasti memiliki kekasih!" Jawab Dinda lirih.


"Dean tak memiliki kekasih nak, bila ada, pasti mama tau!" saut mama Chinta yakin.


*Memang tak ada kekasih, tapi orang yang dicinta ada!* lanjut mama Chinta dalam hari.


"Bagaimana? kamu maukan?" tanya papa Bima lagi. Sebenarnya Dinda ragu, tapi dia pikir tak ada salahnya untuk mencobanya, tuh Dean gak jelek jelek amat, malah bisa jadi kategori cowok tampan dan mapan lagi.

__ADS_1


"Baiklah!" jawab Dinda pasrah, mama Chinta yang mendengarnya memeluk menantunya itu sayang, sedangkan papa Bima, hanya tersenyum lega.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sementara ditempat yang berbeda, Dean sedang duduk dengan seorang pria yang sebaya dengannya disebuah kedai cofe sederhana, tapi memberi pemandangan yang indah.


"Kamu tega ya, menikah tapi tak mengundang teman sendiri?" Ucap pria itu sambil memanyunkan bibirnya kesal.


"Hey, apa apaan tingkahmu itu? bukankah aku sudah bilang, alasannya? dan kenapa kau bertingkah seperti seorang transgender begitu?" teriak Dean kesal melihat tingkah sobatnya itu. Membuat pria yang ada dihadapannya itu tertawa masam mendengar ucapan jujur Dean yang pedas sampai ketulang, tapi tidak untuk pria itu, pria bernama Chalvianos Pasya, itu sudah biasa dengan sikap dingin pria yang ada dihadapannya saat ini, Karena dia sudah mengenal Dean luar dalam. mareka udah bersahabat dari masih duduk disekolah dasar, makanya dia hapal dengan sikap dobatnya itu.


"Tapi bagus juga sih, kamu menikah, mudahan dengan kamu menikahi kakak iparmu, kamu bisa melupakan masa lalumu?" sambung Chalvin lagi sambil menggaruk hindungnya yang mancung.


"Sudah saatnya Dean, kamu sudah cukup lama menunggu tampa kepastian, dan aku rasa ini udah saatnya kamu membuka hati untuk wanita lain!" ucap Calvin Mantap.


Dean melirik sahabatnya itu ragu,


"Apakah kamu yakin? tadi malam aja aku sudah ditolaknya!" jawab Dean kesal perihal teringat kejadian semalam.


"Apa? kau ditolak semalam?" teriak Calvin tak percaya,

__ADS_1


"Siittt, kecilkan suaramu monyet!" saut Dean kesal, bagaimana tidak sekarang mareka sudah menjadi pusat perhatian mengunjung lainnya gara gara mulut sobatnya itu.


Suntak Calvin menutup mulutnya dengan tanganya sendiri.


"Bagaiman bisa kamu meminta suatu yang intim kepada seorang wanita yang baru kau kau kenal? ya jelas saja dia menolak kecuali dia sudah biasa dengan hal itu!" jawab Chalvin sambil menaikkan alisnya berpikir.


" Tapi menurutku dia gadis yang polos, buktinya saja waktu kucium dia tak bisa membalasnya, tapi, apakah aku salah? meminta hal tersebut kepada istriku," tanya Dean lagi.


"Salah sih, nggak, tapi kamu terlalu buru buru dalam hal tersebut, bagaimanapun juga diakan masih kecewa, atas perbuatan Renof, ditambah kamu lagi, kamu meminta jatah disaat yang tidak tepat, udah kebelet banget ya?" goda Chalvin sambil menaik turunkan alisnya.


Suntak saja dia menerima lemparan tissue bekas dari Dean, yang kala itu wajahnya seperti kepiting rembus akibat godaan sobatnya itu.


Chalvin yang melihat wajah sobatnya itu, hanya tersenyum senang, bagainama tidak sudah lama dia tak pernah melihat wajah malu malu sahabatnya tersebut.


Seakan memberi angin segar untuk kehidupan sobatnya itu.


*Semoga wanita yang bernama Adinda itu bisa menyembuhkan hati Dean yang luka!* ucap Chalvin dalam hati.


Bersambung

__ADS_1


Hay guys jangan lupa likenya ya?


__ADS_2