
Wina hanya tersenyum geli, melihat mimik kesal sahabatnya itu.
"Cie...sadis banget, ternyata bang Dean! sampai bikin mata anak perawan orang ternoda?!" sindir Wina dengan mimik menggoda, ''aduh mata suci ku?" lanjutnya lagi dengan kedua tangannya memegang kedua pipinya, dengan wajah penuh drama.
Dinda hanya menatapnya kesal, sambil memutar bola matanya males. "Udah deh, mana fuondation?" pintanya, Tampa menanggapi ucapan sahabatnya itu, sambil menjulurkan tangannya dihadapan sahabatnya itu.
Wina mencibirnya, sambil merogoh tas tangannya, dan menyerahkan fuondation miliknya, kepada sahabatnya itu.
"Padahal bagus banget loh Din, karya suami mu? kok malah ditutupi?!" godanya lagi, semangat karena melihat wajah cantik Dinda sudah memerah seperti tomat.
Dinda hanya memicing manik lezelnya sebal, bukannya takut Wina malah tertawa terbahak-bahak melihatnya.
☘️☘️☘️☘️
Malamnya Dinda baru saja memasuki apartemennya, tampa Wina, karena wanita itu memilih pulang ketempat menginap yang memang disediakan oleh pihak kampus, berbeda dengan Dinda, karena ia sempat menunda keberangkatannya kala itu, Dinda menghentikan langkahnya saat langsung disambut oleh harum semerbak makanan, seketika itu juga membuat perutnya menjadi lapar.
Dilihatnya sekelilingnya, sudah tidak ada lagi dekorasi tadi pagi, semua bersih tampa sisa, terbesit rasa bersalah direlung hatinya, akan sikapnya tadi pagi, namun dengan cepat ia menggeleng.
Pelan ia melangkahkan kakinya menuju meja makan kecil yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Seketika ia menelan Salivanya dengan susah payah, kala melihat beraneka macam makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Yank, udah pulang? mandi dulu biar segar?" perintahnya, sambil mengiring tubuh istrinya itu pelan menuju kamar.
"Gak! aku mau makan?!" pinta Dinda sambil melepaskan tangan Dean dari kedua bahunya.
"Mandi dulu ya?!" perintah Dean tidak mau dibantah.
Dinda hanya mencibir bibirnya kesal, dan melangkahkan kakinya menuju kamar, dengan wajah cemberut. Dean hanya tersenyum melihatnya.
Beberapa saat berlalu, kini Dinda sudah selesai membersihkan tubuhnya, yang tidak sampai lima menit itu.
"Hmm" jawab Dinda pelan sambil mengambilkan, makanan yang menurutnya sangat menggoda.
Dean menatap manik lezel Dinda sendu, karena melihat perubahan sikap istrinya itu.
Dulu biasanya Dinda akan mengambilkan makanan terlebih dulu untuk dirinya, namun sekarang Dinda bersikap sangat acuh padanya, ditambah lagi, kala ia mengingat penolakan sang istri tadi pagi, entah mengapa mampu membuat hatinya berdenyut sakit.
Dinda menyantap makanannya dengan lahap, dan cepat, seperti orang yang sudah beberapa hari belum makan.
__ADS_1
Dean hanya tersenyum haru melihatnya, ada kelegahan didalam lubuk hatinya kala melihatnya, ia sangat bersyukur karena sang istri tidak seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya.
"Pelan-pelan dong makannya!" pinta Dean kala tiba-tiba Dinda tersedak, dengan sigap ia menyudurkan air putih untuk istrinya itu.
Dinda hanya diam, sambil menerima air tersebut, dan meminumnya hingga kandas tak tersisa.
Dinda menatap suaminya itu heran, "kamu tidak makan?" tanyanya heran, karena melihat suaminya itu hanya diam tampa menyantap makanannya.
"Suapi?" pinta Dean manja,
"Gak!" tolak Dinda sambil mencibir bibirnya.
"Ya udah gak usah makan, biar sakit, biar diobati dokter ku?" goda Dean sambil menarik turun kan kedua alisnya.
Dinda hanya menghela nafas panjang, sambil berjalan mendekati kursi suaminya itu, yang tadi tepat berada dihadapannya.
Ditatapnya manik coklat suaminya itu malas, namun ia tetap menuruti permintaan suaminya itu saat mengingat perbuatannya tadi pagi, yang entah mengapa membuatnya merasa sangat bersalah. Sungguh ia tak mampu untuk terlalu lama mengacuhkan suaminya itu, inilah yang membuat ia dari dulu berperinsip tak ingin mencintai seseorang terlalu dalam, karena menurut Dinda itu adalah kebodohan, namun apa daya sekarang ia telah mengalaminya, mengalami apa yang ia sebut sebagai kebodohan itu. Bukan tampa alasan ia begitu, karena kerasnya kehiduplah yang membuat Dinda berperinsip begitu, kehilangan kedua orang tuanya, yang sangat banyak meninggalkan luka yang sangat dalam, hingga ia selalu berkomitmen bila cinta hanya sebuah kebodohan belaka.
"Seharusnya tidak seperti ini?" pikirnya sambil menyuapi suaminya dengan telaten, ada rasa takut dihatinya, takut bila cinta ini suatu saat bisa melukainya, seperti waktu itu saja ia sudah sangat sakit, bagaimana bila lebih, membayangkannya saja ia tidak sanggup, sehingga tampa sadar ia menghela nafas berat.
__ADS_1
Bersambung