
Didalam kamar, Dean mengacak rambutnya frustasi, sambil mendudukkan tubuhnya dipinggir ranjang kamar tidur, tubuhnya bergetar hebat, dadanya terasa sakit, sehingga membuat cairan bening jatuh begitu saja dari kedua maniknya.
"Aakkhhh" teriaknya keras, sungguh ia tidak bisa mengontrol emosinya lagi, ingin rasanya ia membanting apa saja yang ada dihadapannya saat ini, untuk menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya saat ini, namun ia urungkan saat mengingat wajah takut istrinya tadi.
"Kenapa kamu tidak mengerti? hah?" Tanyanya sambil terisak perih, sungguh Dean tidak pernah membayangkan, bila Dinda akan mengucapkan kata-kata seperti ini.
Lama ia diam merenung, sambil sesekali menghapus cairan bening dikedua pipinya kasar, sungguh ia tidak ingin terlihat lemah, namun meskipun mencoba kuat, tapi tetap saja cairan bening itu mengalir dengan sendirinya tanpa persetujuan dari dirinya.
Dean menghela nafas kasar, mencoba untuk menata hatinya, dan mengatur nafasnya pelan, agar dapat mengontrol emosi yang terlanjur menguasai dirinya itu.
"Tenang Dean, tenang ok! kamu tidak bisa seperti ini!" ucapnya untuk dirinya, sambil memejamkan manik coklatnya berlahan-lahan.
Setelah dirasa cukup ia pun, bangkit dari duduknya, berjalan untuk menghampiri istrinya lagi.
"Tenang...kamu pasti bisa...!" ucapnya dengan nada suara bergetar. dan keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya saat ini.
Pelan ia membuka pintu kamar yang tadi sempat ia banting kasar.
Dan maniknya langsung tertuju kepada sosok wanita yang ia cari, Dean menghela nafas panjang, mencoba untuk berdamai dengan rasa takutnya saat ini.
Ia tatap istrinya yang masih duduk ditempatnya tadi, Tampa berubah sedikitpun dari posisi semuls.
"Kita perlu bicara?" pintanya saat sudah berdiri dihadapan istrinya itu.
__ADS_1
Dinda yang dari tadi hanya diam sambil menunduk dengan isaknya saat itu, dengan cepat menyerka cairan bening yang membasahi kedua pipinya itu.
Ditatapnya wajah suaminya itu dalam, yang sudah terlihat tidak ada lagi kemarahan dimanik coklat itu.
Cukup lama mareka saling berpadu pandang, seakan memberi kesempatan kepada satu sama lain untuk memulai percakapan terlebih dulu, sehingga berhasil menciptakan suasana hening dalam jangka waktu yang cukup lama, karena tidak ada diantara mareka berdua yang bersuara saat ini.
"Ehemm..." Dean berdehem pelan sambil mendudukkan tubuhnya tepat dihadapan Dinda, yang kini sudah menundukkan kepalanya pelan, memutuskan kontak netral mareka.
Terdengar helaan nafas panjang keduanya secara bersamaan.
"Ak...uu, ingin berbicara dengan mu?" ucap Dean gugup, entah mengapa rasa takut kehilangan istrinya itu membuatn suaranya jadi terbata-bata.
Dinda mengangkat kepalanya, pelan sambil mengusap kedua pipinya kasar, menghapus cairan bening yang membasahi kedua pipinya itu, menggunakan punggung tangannya.
"Maaf...Tolong maafkan aku? beri aku kesempatan, sekali saja?!" pinta Dean dengan nada suaranya yang sumbang, akibat menahan isaknya saat ini, yang entah mengapa tidak dapat ia kedalikan lagi, dan...isaknya pun pecah saat itu juga.
Dinda menatap wajah suaminya itu, yang terlihat sangat berantakan, sama seperti dirinya.
"Aku harap kamu memikirkannya baik-baik, karena...aku hanya ingin memberikan kamu kesempatan untuk bersama orang yang kamu cintai..." ucapan Dinda terhenti saat Dean bangkit dan berlutut dihadapan saat ini.
Membuat manik Dinda membola, karena terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya itu.
"Tol...ong jangan seperti ini?" pinta Dinda sambil berdiri dan mendekati suaminya saat ini, untuk memintanya berdiri, karena tak enak hati.
__ADS_1
"Kamu...kamu lah orang yang aku cintai...jadi tolong jangan meminta ku pergi?" mohon Dean sambil meraih kedua tangan mungil Dinda kini.
Dinda hanya diam membisu, sambil menatap manik coklatnya Dean, seakan menyelaminya, untuk mencari kesungguhan dari ucapan pria dihadapannya itu.
"Dean mencium punggung tangan Dinda lembut, "Kali ini saja...Demi anak kita berilah aku kesempatan, ijinkan aku membuktikannya ok?" pintanya dengan sungguh-sungguh.
"Aku tidak ada hubungannya apa-apa dengan Cesya...aku tidak sebajingan itu... percaya lah?" ucapnya sambil tak henti-hentinya mencium punggung tangan itu lembut.
"Bukan kah sangat mencintainya? waktu itu kau lebih memilih pergi mengejarnya, bukan?" jawab Dinda sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Maaf, saat itu dia sedang dalam masalah, makanya aku lebih memilih dia, aku takut dia akan berbuat nekat! tapi percayalah, aku tidak akan pernah mengkhianati mu, karena yang paling aku benci dalam hidupku adalah sebuah penghianatan, jadi tolong beri aku kesempatan?" lanjutnya sungguh-sungguh, Dengan tubuhnya yang bergetar hebat, oleh Isak tangisnya saat ini.
Dinda diam terpaku, sungguh ia tidak menyangka bila permintaannya itu, bisa membuat Dean bisa serapuh ini.
"Maaf...aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu, aku hanya ingin kamu bahagia!" jawab Dinda sambil memeluk tubuh bergetar suaminya berlahan, menghirup dalam aroma tubuh prianya itu.
"Bila kamu ingin aku bahagia, tolong tetaplah bersamaku?!" pinta Dean sambil melepaskan pelukan mareka untuk menatap wajah istrinya itu.
Hening kembali tercipta, saat manik keduanya kembali berpadu.
"Kamu mau kan?" tanya Dean lagi
"Hmm!" Dinda hanya berdehem sambil menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Bersambung