
Malamnya Dinda bersama dengan mama Chinta sedang memasak didapur, sambil sesekali mareka bercanda tawa, membuat papa Bima yang sedang duduk manis dimeja makan yang tak jauh dari dapur, merasa lega.
Karena melihat keceriaan menantu dan istrinya itu.
Tapi tak berlangsung lama karena kini senyum bahagianya tiba tiba berubah menjadi murung.
Pov masa lalu
ππππππ
Arenof adalah anak dari hasil perselingkuhan papa Bima, yang terpaksa dia bawa pulang karena ibu dari Arenof meninggal dunia akibat kangker paru paru, ketika itu usia Dean menginjak delapan tahun, saat papa Bima membawa Arenof kerumah, yang kala itu berusia dua tahun lebih tua dari Dean sendiri.
Mulanya Dean merasa senang karena tiba tiba mendapat saudara, siapapun pasti akan senang bukan?
Tapi berbeda dengan mama Chinta terlihat murung.
Suatu pagi, ketika itu Dean pulang sekolah lebih cepat dari biasanya karena sedang sakit, saat dia melewati kamar orang tuanya Dean terkejut mendengar jeritan histeris dari sang mama, sehingga Dean memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut.
Betapa terkejutnya Dean melihat pemandangan didepannya saat itu, dimana mama Chinta tengah mengarahkan pisau kelehernya sendiri.
Sedangkan papa Bima bersempuh sambil memohon ampun.
"Maaf ma? papa hilaf?" kata papa Bima dengan suara bergetar.
"Kamu jahat? cepat ceraikan aku!" teriak mama Chinta histeris sambil menatap jijik papa Bima saat itu.
"Kita omongi baik baik ya?" bujuk papa Bima sambil berjalan mendekat sang istri.
Tapi mama Chinta yang saat itu sedang kalut tak mau mendengarkan papa Bima dan akhirnya pisau kecil itu berhasil menggores lehernya saat itu.
__ADS_1
Sehingga membuat Dean yang melihatnya berteriak histeris.
Dan itu berhasil membuat mama Chinta menghentikan niatnya, sambil menatap sedih anaknya saat itu, dan tak berselang lama tubuhnya ambruk seketika membuat Dean kecil menangis sejadi jadinya.
Sedangkan papa Bima dengan segap mengendung sang istri untuk membawanya kerumah sakit.
Hari demi hari berlalu, kini mama Chinta sudah mengiklaskan penghianatan sang suami padanya, dan mulai menerima keberadaan Renof dikehidupannya,
Itu semua dia lakukan untuk Dean seorang, andai dean tak ada mungkin dia akan memilih berpisah.
Walaupun setiap melihat wajah Arenof pasti akan mengiatkannya akan perbuatan papa Bima padanya, Namun mama Chinta mencoba tegar bagaimanapun juga Renof hanyalah anak kecil, sama halnya dengan Ardean, mareka korban dari berbuatan orang dewasa.
Sikap tegar mama Chinta, berbanding terbalik dengan Dean kecil, Dean yang mulanya suka bermain dengan Renof, kini mulai menjaga jarak,
Dan tak terhitung banyaknya dia mengerjai dengan cara mengurung Renof.
Tapi hukum dari sang papa membuat luka dihati Dean semakin parah, membuat kebenciannya kepada Arenof semakin bertambah.
Mama Chinta yang sadar dengan perubahan putranya itu.
Mencoba untuk mengajak Dean untuk bicara.
"Nak, kenapa kamu sering mengerjai kakakmu?" tanya mama Chinta lembut sambil mengusap pipi Dean sayang.
"Dia bukan kakak Dean, dia jahat, karena dia mama sering menangis tiap malam, makanya Dean memberinya pelajaran?" jawab Dean polos sambil memanyunkan bibirnya yang mungil.
__ADS_1
Mendengar jawaban Dean sukses membuat mama Chinta terharu dan kaget, karena anaknya tau akan kesedihannya, walaupun tak dia pungkiri ada perasaan senang lubuk hatinya yang paling dalam.
Orang tua mana yang tak akan senang menerima perhatian dari anak, walaupun caranya yang salah.
"Tidak boleh begitu sayang, bagaimanapun dia adalah kakak mu, jadi kamu harus menghormatinya," jelas mama Chinta dengan suaranya yang bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Dean hanya mengaguk pelan, sambil menundung kepalanya memandang sepatu sekolah yang dia kenakan saat itu.
.
.
.
.
Bersambung
.
.
Hay guys jangan lupa likeβ€komen n bintang limanya ya?
Makasih
__ADS_1