
Malamnya
Dinda sedang bergulat di dapur, mama Chinta baru saja menelponnya dan memberi tau kalau Dean udah pulang.
Jadi ia putuskan untuk memasak Ikan asin asam manis.
Mengingat ia sudah berjanji akan membuatnya kemaren.
Tak memerlukan waktu lama Dinda sudah selesai dengan masakannya ada tiga macam menu yang ia sediakan malam ini.
Ikan asin asam manis, Sayur Capcay, dan udang goreng tepung.
Dan kini Dinda memutus kan untuk membersikan diri, Sambil tersenyum senang melihat masakannya sendiri.
Sementara Ditempat yang berbeda
Dean sedang duduk disamping ranjang dengan Cesya yang tertidur pulas disana.
Dean Menatap sahabatnya itu dengan tatap sedih.
Sebenar Dean sudah sering mengutarakan perasaannya kepada Cesya, tapi setiap dia mengatakannya.
Cesya seolah olah tak mendengarnya dan seakan menghindar. Dean mengerti bila Cesya tak punya rasa untuknya.
__ADS_1
Dean memutuskan untuk pulang, mengingat hari sudah malam.
Diapun beranjak pelan dan hati hati takut membangunkan Cesya saat itu.
Sesampainya Diapartemennya Dean melihat Apartemannya kosong tak ia tak melihat keberadaan istrinya disana.
Dean pun memutuskan untuk masuk kekamar, dan melihat sang istri sedang duduk didepan cermin, sambil menggunakan Daster longgar dan tipis.
"Ah...? kamu udah pulang?" tanya Dinda canggung dan kaget, tapi segera ia tepis sambil mengoles cream pelembab di wajahnya kala itu.
Sementara Dean hanya mengagukkan kepalanya sambil melangkah masuk kamar mandi.
Dinda menyengitkan keningnya melihat tingkah suaminya itu.
"Apa dia ada masalah? sehingga wajahnya kusut kaya kain pel? guman Dinda pelan sambil melanjutkan aktivitasnya saat itu.
Dean pun selesai membersihkan diri, dia hanya menggunakan handuk yang melingkar dipinggangnya sehingga Dinda bisa melihat otot otot dan kulit coklatnya yang sungguh sangat menggoda.
Sehingga membuat Dinda terpana melihatnya, sambil membayangkan rasanya memegang otot tersebut? tapi segera ia tepis pikiran kotor yangada diotaknya saat itu.
Sambil menggelengkan kepalanya pelan dan menutup matanya dengan kedua tangan, sehingga membuat Dean melihat heran istrinya tersebut.
"Ada apa?" tanya Dean heran, :Apakah aku segitu menakutkannya, sehingga memandang ku saja kau tak mau!" lanjutnya lagi sambil berjalan mendekatin Dinda yang masih ada didepan meja rias.
__ADS_1
Dinda yang mendengar pernyataan suaminya itu dengan cepat membuka mata dan menatap suaminya itu.
"Apa yang kau katakan, Aku hanya malu, karena kau tak...?" Dinda menghentikan ucapanya ketika Dean sudah berada hadapanya.
Dinda bisa dengan jelas melihat titikan air yang menetes dari rambutnya yang basah.
"Glekk..." Dinda menelan savilanya ketika melihat pemandangan indah yang ada dihadapanya saat itu.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Dinda kaget ketika Dean sudah menariknya hingga merapat ditubuhnya. Dinda yang kala itu tak siap sempat kehilangan keseimbangan, tapi Dengan sigap Dean memeluknya, sehingga membuat kulit Dinda dan kulitnya menempel.
Dinda merasa bagaikan tersengat listrik dibuatnya.
Ada gelenjer asing yang Dinda rasakan kala kulitnya bersentuhan dengan Dean aroma mins menyebar memasuk indra menciuman Dinda saat itu.
"Kau cantik sekali malam ini?" goda Dean sambil memeluk Dinda erat, sehingga membuat Dinda tak bisa melepaskan diri dari Dean kala itu.
Dinda menatap mata coklat Dean yang hanya beberapa senti darinya, mata lejelnya terpaut sesaat dengan mata coklat yang ada dihadapannya.
Dan entah siapakah yang memulainya, kini bibir mareka sudah saling terpaut, ciuman yang mulanya ringan berubah menjadi lumatan lumatan yang begitu menuntut.
Tangan Dean menekan leher Dinda untuk memperdalam ciumannya, Sehingga membuat Dinda tersadar dan mendorong tubuh Dean, tetapi gagal karena tenaga Dean lebih besar darinya.
"Aku tak akan melepaskan mu lagi malam ini!" kata Dean sambil mengendong tubuh Dinda ketempat tidur.
__ADS_1
Terimakasih.