My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Merasa Tidak Berdaya


__ADS_3

Wina hanya diam, mendengar keluh kesah sobatnya itu dengan baik.


Sesekali ia mengusap bahu yang bergetar karena isaknya itu lembut dan penuh kasih.


Wajah geram tidak bisa ia sembunyikan, dari wajah cantiknya, sungguh ia sangat kesal mendengar cerita sahabatnya itu, namun tak ilang iapun kadang-kadang juga tersenyum gemes, mendengarnya.


"Menurutmu, apakah aku salah pergi Tampa pamit secara langsung darinya?" tanya Dinda dengan wajah sendu.


"Ya, menurutku kamu sangat salah, karena dengan kamu pergi, maka pelakor itu, jadi semakin leluasa terhadap adik ipar, manismu itu!" ucap Wina dengan mimik wajah geram, saat membayangkan wajah Cesya saat itu.


Membuat wajah cantik Dinda jadi tambah kecut, dalam hatinya pun ia membenarkan ucapan sobatnya itu, hingga tak terasa manik lezelnya pun mulai berkaca-kaca.


Terdengar helaan nafas berat keluar dari bibir mungil nya. Sungguh ia tidak memikirkan ini, sebelumnya, yang ada dibenaknya saat itu, marah, cemburu, dan merasa tak dihargai, sehingga membuatnya ingin sekali menghilang saat itu juga.


"Tapi aku juga tak membenarkan, perilaku Dean terhadapmu ini juga, menurutku, kamu pantas marah, jealous, dan jangan suka memendam apa yang ada di hatimu lagi, ok?" ucapnya lagi. Hening, tidak ada diantara mareka berdua yang bersuara, seakan larut dalam pikiran mereka masih-masing saat itu.


"Bila kamu tidak suka, jangan dipendam, karena kamu pantas mendapatkan perhatian, dari suamimu sendiri, Jangan pernah merasa minder kepada diri sendiri, karena kejujuran itu adalah kunci dari langgengnya sebuah hubungan itu sendiri!!"


"Karena tidak semua orang akan peka terhadap perasaan pasangan mareka...!" ucapnya lagi sambil menatap nanar wajah Dinda lembut.


Diusapnya bahu itu lagi, seakan memberikan sebuah kekuatan, agar membuat sahabatnya itu kuat.


"Dan satu lagi, aku percaya kepada Dean!" ucap Wina lagi sambil menatap manik lezelnya itu dalam dan memegang kedua bahu Dinda sehingga pandangan mereka menjadi sesajajar.


Dinda menatap manik sobatnya itu, terlihat dari mimik mukanya yang seperti meminta jawaban, dari ucapan sobatnya itu..

__ADS_1


Wina tersenyum gemes, saat melihat ekspresi keinginan tau sobatnya itu, yang seakan ingin meminta sebuah penjelasan.


Namun ia menggeleng pelan. "Tidak etis bila aku yang menjelaskan, sebaiknya kau minta menjelaskan dari orangnya secara langsung, tapi setelah kita pulang nanti tentunya?!" jawabnya usik sambil mengedipkan maniknya, sehingga membuat Dinda hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebel.


"Ayu...Nyonya Ardean, sekarang kita harus berangkat, nanti kau terlambat...?" ajak Wina yang sudah beranjak dari duduknya, dengan nada menggoda itu.


Dinda menatap tubuh sobatnya yang kian menjauh itu nanar, memang benar apa yang Wina katakan.


Ia sangat takut berkata jujur, dengan perasaannya selama itu.


Ia takut, bila Dean akan ilfil terhadapnya.


Makanya ia selalu menahan diri.


Sungguh sangat jauh berbeda dengan Cesya, yang sudah mengenal Dean jauh sebelum ia ada.


Memikirkannya saja ia sedih, namun itulah kenyataannya, dan menyadari hal itu membuat tidak berdaya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Dean mengejepkan kelupak matanya pelan, Ternyata ia sudah ada diatas kasur, ia memegang kepalanya yang terasa sakit, mungkin akibat benturan saat ia pingsan tadi.


Ia membuka manik coklatnya, pelan-pelan saat sadar melihat bayangan seseorang yang tertangkap netranya...


"Elo...? kenapa ada disini...?" tanyanya heran

__ADS_1


Chalvin hanya diam, tak merubah posisinya yang masih duduk dengan santai disofa yang tak jauh dari tempat Dean berada.


"Elo tadi pingsan, dan mbak Sari menelepon Gue, histeris, panik dia melihat majikannya pingsan tak berdaya." jawabnya dengan senyum mengejek.


Dean mengusap wajahnya kasar, saat melihat wajah sinis sobatnya itu.


"Gue udah ingatin loe De, jangan terlalu ikut campur urusan Cesya, tapi loe...?! AAHH...sudah lah... De!" ucap Chalvin sambil mengangkat kedua tangannya pasrah.


Sungguh ia lelah manasehati sobatnya itu, yang seperti masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri itu.


Dean hanya menunduk kan pandangannya, entah mengapa ia tak sanggup melihat wajah kecewa sobat itu.


Iapun menyesali perbuatannya selama ini, sungguh menyesalkan.


Sikapnya yang sempat mengacuhkan istrinya itu, sungguh iapun tak ingin sebenarnya, hanya saja, bila melihat wajah Dinda, selalu mengingatkannya kepada Renof, sungguh ia tak sanggup.


"TOK...TOK...TOK..." suara ketukan pintu, memecahkan keheningan yang tercipta saat itu. membuat keduanya spontan menatap sumber suara, terlihat mbak Sari masuk dengan membawa mampan ditangannya, berisi bubur dan teh hangat itu.


Pelan ia meletakkan mampan itu keatas meja samping tempat tidur.


"Dimakan dulu Den, biar cepat sembuh." ucap mbk Sari sopan.


"Iya mbak, terimakasih..?" jawab Dean tulus.


Mbak Sari hanya mengangguk pelan, sambil pamit keluar, menyisakan ia dan Chalvin disana yang masih diam tak bersuara.

__ADS_1


__ADS_2