
Sebelumnya
"Renof?" ucapnya dengan jantung berdetak kencang.
Namun tidak ada respons dari Renof saat itu sehingga membuat Dean ikut terjaga oleh teriakan dari istrinya itu.
"Ada apa?" tanya Dean sambil mengusap wajahnya pelan.
"Dean? tadi Renof menggerakkan tangannya?" ucapnya dengan wajah haru.
Dean menatap tubuh Renof yang masih berbaring dengan posisi semula itu.
"Dean aku tidak berbohong?" teriak Dinda kesal dengan reaksi Dean yang seperti meragukan ucapnya itu.
"Iya aku tau," jawab Dean sambil berjalan mendekati ranjang Renof saat itu, Dean terdiam sejenak memperhatikan Renof dengan seksama, terlintas rasa bersalah dihatinya mengingat kelakuannya selama ini tehadap kakaknya tersebut.
"Hey, aku harap kamu bangun? banyak yang ingin aku bicarakan denganmu...? k.a.k.a.k!!" Dean menjeda ucapannya saat menyebutkan kata kakak. Karena sungguh baru saat ini ia mengucapkan kalimat tersebut.
Dinda mengelus punggung suaminya saat itu, Dinda bisa melihat kesedihan manik coklat itu.
Dean menatap manik lejel Dinda dengan seksama, sambil tersenyum lembut, dibalas pula oleh Dinda saat itu.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Dean tiba tiba membuat Dinda yang mendengarnya menjadi gelabakan akan pertanyaan dari suaminya itu.
__ADS_1
Dean bisa melihat rasa gugup diwajah Dinda saat itu, dan kebongkaman Dinda membuatnya bisa menebak jawabnya saat itu.
Dean hanya tersenyum getir, entah mengapa hatinya terasa ngilu saat ini.
"Aku mengerti." ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan Dinda yang masih kalut dengan dengan pemikirannya sendiri saat itu.
"Brak" suara bantingan pintu menyadarkan Dinda dari lamunannya saat itu.
Dinda tidak pernah berpikir akan hal itu, bila dulu mungkin ia akan dengan lantang mengatakan bila ia lebih mencintai Dean, tapi saat ini berbeda? ia sudah tau alasan Renof meninggalkannya saat itu, sehingga membuatnya bingung saat itu.
"Oh Tuhan!! mengapa aku harus ada dalam situasi seperti ini?!" ucapnya sambil menatap Renof yang masih terbaring lemah saat itu.
Dinda mendudukkan tubuhnya dibangku yang ada disamping ranjang rawat Renof saat itu, terlihat jelas bila saat ini wanita cantik itu sangat frustasi.
"Aku tak mungkin meninggalkan Renof yang seperti ini?, namun aku sudah menjadi istri orang lain sekarang!" pikirnya dengan wajah sedih.
Sekitar pukul enam pagi, Sinta sudah datang keruangan tempat Renof dirawat saat itu.
Ia melihat Dinda tertidur dengan posisi bersandar dipinggir ranjang rawat Renof saat itu.
Bukan itu yang membuatnya kaget, namun karena tangan Renof yang berada diatas kepalanya, seakan sedang mengelusnya.
Membuat Sinta kaget penuh harapan saat itu, hingga membuatnya berjalan setengah berlari menghampiri kakak sepupunya itu dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
"Renof?" teriak pelan, namun mampu membuat wanita yang dari tadi tidur itu terbangun oleh, teriakannya saat itu.
"Ada apa?" tanya Dinda sambil mengucek matanya yang masih buram saat itu.
"Dinda? Renof?" ucap Sinta. sambil menatap Dinda yang saat ini sudah berdiri dihadapannya saat itu.
"Tadi, aku melihat tangan Renof ada diatas kepalanya, seperti sedang mengelus kepala
mu!" ucap Sinta lagi sambil memandang lekat Renof yang masih tidur lelap itu.
Dinda ikut mandang Renof saat itu. "Deg" tiba tiba jantung Dinda terasa sakit saat manatap wajah dari Renof saat itu, membuatnya teringat akan pertanyaan Dean tadi malam untuknya.
Dinda melirik kearah sofa yang terlihat kosong itu, sehingga membuatnya menghala nafas berat.
Sinta yang melihatnya, paham dengan apa yang ada dalam benak Dinda saat itu.
"kau mencari Dean? ia ada diluar!" kata Sinta sambil tersenyum ramah.
Dinda hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu.
"Jangan merasa bersalah, dan jangan merasa iba, karena kak Renof sangat tidak suka dikasihani." ucap Sinta datar tampa menatap lawan bicaranya itu.
Dinda hanya diam, karena ia juga tidak tau dengan yang ia rasakan saat itu.
__ADS_1
Bersambung
hay guys, minta like dan votenya ya, makasih.