My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Bukan Sebuah Mainan


__ADS_3

Sebelumnya


"Baik baiklah bersamanya." pinta Dean sambil menepuk pundak Cesya pelan.


Cesya mencoba untuk tersenyum mendengar perkataan Dean yang sukses membuatnya sakit itu.


Tampa menjawab Cesya berlari meninggalkan Dean, tampa mengubis teriakan Dean yang memanggil namanya berkali kali saat itu.


Chalvin yang kala itu ingin masuk keruangan sahabatnyapun tersentak kaget kala tiba tiba dirinya bertabrak dengan seseorang.


Yang ternyata adalah Cesya itu, tubuh Chalvin tehuyung kebelakang dengan Cesya yang ada dihadapannya.


Sehingga Chalvin dengan jelas melihat wajah berantakkan Cesya saat itu.


"Kamu gak apa apa? lain kali tolong..?"


Ucapan Chalvin terhenti, dikala Cesya pergi


tampa meminta maaf atau pun basa basi lainnya. Cesya pun terus berlari meninggalkan Chalvin yang masih kebingungan melihatnya.


"Tok...tok...tok.." Chalvin mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu.


Dan melihat sahabatnya itu sedang berdiri di hadapannya saat itu seakan hendak keluar dari ruangannya.


"Hayo?? bini orang kamu apakan?" tanya Chalvin dengan nada curiga.


"Gak aku apa. apain." jawab Dean sedikit kesal dengan nada suara dari sahabatnya itu saat itu.

__ADS_1


"Loh? Mana Dinda?" tanya Chalvin sambil melirik keseluruh penjuru ruangan sahabatnya itu.


Dean menyengit bingung dengan perkataan sahabatnya saat itu.


"Dinda, dari tadi gak ada Dinda disini!" jawab Dean sambil menatap sahabatnya itu bingung.


"Gak mungkin Dean, tadi aku sendiri kok yang mengajaknya kesini?" jawab Chalvin mantap.


Sesaat dia menatap sahabatnya itu seakan meminta jawaban.


"Astaga, apa jangan jangan?" Dean tak melanjutkan ucapanya dan berlari mengambil ponsel miliknya yang ada diatas meja kerjanya saat ini.


Dean mencari kotak Dinda dan mencoba untuk menghubungi nomor sang istri.


Namun nomornya tidak aktif, Dean membuang nafasnya frustasi, sedangkan Chalvin hanya menyilangkan tangan didada, seakan paham dengan situasi yang terjadi.


Chalvin terkekeh melihat kemarahan Dean saat itu.


"Sorry, aku mana tau, kau lagi berduaan?!" ucap Chalvin sambil menaik turunkan kedua jarinya yang membentuk huruf v itu kearah sahabatnya itu.


"Tadi Dinda menghubungi aku minta alamat bengkel kamu, dan kebetulan aku mau servis mobil aku, ya ku ajak aja sekalian, pas udah nyampai tadi aku suruh dia masuk dulan, karena aku mau masukin mobilku kebengkel dulu, gak taunya udah ilang tuh bujah!" cerita Chalvin panjang lebar.


Dean hanya diam sambil mendudukkan tubuhnya yang seakan tidak bertenaga itu.


Ini memang bukan salah Chalvin, situasilah yang memang tidak berpihak padanya saat itu.


Dean yakin 100% bila Dinda pasti mendengar percakapan dirinya dan Cesya tadi.

__ADS_1


Memikirkan hal itu entah mengapa membuat Dean merasa takut tidak karuan, sehingga membuatnya jadi berkeringatan saat itu


"Aku pergi dulu!!" pamitnya sambil berlari meninggalkan Chalvin yang masih melungu melihat kepergian sahabatnya itu.


***


Dinda memutuskan untuk pulang keapartemennya saat itu, sesampainya diapertemen diapun memasukan dirinya di dalam kamar.


Dinda mengunci pintu kamar tersebut, dan mendudukan dirinya dilantai, sambil memeluk lututnya sendiri, ia menangis tersedu sedu.


"Apa salahku, mengapa aku merasa diriku seperti mainan?" pikirnya dengan isaknya yang semakin menjadi jadi.


Dinda sebenarnya sudah menduganya saat itu, kalau tidak mana mungkin Dean mau menikahi dirinya yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Namun meskipun sudah menduganya, tetap saja rasanya sakit.


Dinda memegang dadanya yang sangat terasa sakit, lebih sakit dari pada saat Renof mencampahkan yang dialtlar saat itu.


"Aku hanya ingin dicintai!" ucapnya dengan suara parau, akibat dari tangisannya tersebut.


Dinda tak habis pikir dengan memikiran Renof yang malah menyerahkannya kepada pria lain, mengapa tidak berkata jujur, bila dia berkata jujur mungkin Dinda tidak akan dalam situasi menyedihkan ini.


Dinda mendudukan tubuhnya dengan kaki ditelunjur kedepan.


Entah mengapa hari ini dia merasa sangat lelah sekali, tampa dia sadari diapun tertidur sambil bersandar dipintu kamar saat itu, dengan tampangnya yang saat beratakan, rambutnya yang tidak beraturan, dan keduan telupak matanya yang membengkak akibat terlalu lama menangis.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2