My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Penolakan


__ADS_3

Dinda membantu mama Chinta memasak makan malam, ada bermacam menu yang mareka sajikan malam ini.


Ada sop kimlue, cumi goreng tepung, capcay, dan goreng tuna.


Dinda sangat takjub melihat ke alihan mama Chinta dalam memasak, karena jujur selama dua tahun belakangan ini dia tak pernah merasa masakan dari seorang ibu, semejak kepergian kedua orang tuanya itu.


Dan betapa bahagianya Dinda saat ini ketika bisa lagi merasakan masakan dari mama Chinta, yang asli bikin ketagihan pokoknya.


Dinda sudah selesai menyajikan masakan diatas meja, dan mulai bersiap melepads celemek yang masih melekat pada tubuhnya itu.


"Sayang panggil Dean gih? biar bisa makan bareng." perintah mama Chinta sambil berjalan keruang keluarga menghampiri papa Bima yang sedang menonton TV itu.


Dinda menganggukan kepalanya dan berjalan memasuki kamar, dan melihat pandangan yang sungguh indah menurutnya.


Karena melihat Dean sedang tak mengenakan baju, hanya mengenakan celana pendek saja, dan tubuhnya yang berotot basah dikarenakan keringat sehingga semakin membuat Dinda makin sulit mengontrol dirinya untuk tidak


menyentuh dada sixpacks suaminya itu.


"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Dean pelan sambil mengeringkan keringatnya yang masih bercucuran sehabis push up tadi.


Dinda tersadar dari hayalan mesumnya, dan tampa sadar memukul kepalannya sendiri.


"Apa yang aku pikirkan? kenapa aku sangat mesum?" pikirnya sambil menggelengkan kepalanya dengan kedua pipinya yang memerah.


Sehingga membuat Dean bisa menebak apa yang sedang ada diotak istrinya itu.

__ADS_1


Dean tersenyum miring, sambil menarik tangan Dinda, sehingga Dinda yang saat itu tidak siap tersentak dan hilang keseimbangan.


Dan alhasil ia jatuh tepat dipelukan Dean, dan membuat kedua mata mareka terkunci sehingga mempertemukan manik coklat Dean dan manik lejel Dinda.


"DEG"


Jantung keduanya berdebar tak beraturan sehingga membuat keduanya bisa mendengar suara jantung satu sama lain, dan membuat mareka berdua suntak tersenyum canggung dengan situasinya saat itu.


"Jangan menggodaku?" ucap Dinda sambil melihat ngeri senyum mesum suaminya itu yang sok dibuat cool.


"Aku tak menggodamu kok, ini mau beneran malah?" jawab Dean sambil meneguk salivanya sendiri ketika melihat kulit leher Dinda yang mulus dan sangat menggoda itu.


Dinda yang melihat Dean memandang penuh minat itu dengan cepat mendorong Dean, namun tak berhasil karena Dean masih betah dengan pusisi mareka saat ini.


"Jangan dilepas?" perintah Dean, sehingga berhasil membuat Dinda diam, dengan nafas tertahan.


Dean meremasnya pelan karena gemas,


"De-an jangan?" ucap Dinda kaget, sambil mencoba melepaskan dirinya, karena risih dengan tangan Dean yang mulai nakal itu.


"Diamlah sebenar!" ucap Dean dengan suara bergetar karena nafsu.


"Ta-pi?" belum selesai Dinda berucap Dean sudah lebih dulu melumat bibirnya sehingga membuat Dinda sulit bernafas.


Ketika Dean mulai menyentuh inti tubuh Dinda, dengan sigap Dinda mendorong tubuh tegap itu.

__ADS_1


Sehingga membuat Dean jatuh kelantai, dibuatnya.


"Maaf? aku tak bermaksud untuk menolakmu?" ucap Dinda dengan wajah menyesal.


Namun Dean yang terlanjur kesal hanya berlalu memasuki kamar mandi, tampa mengubis ucapa istrinya itu.


"Ya Tuhan! apa yang telah aku lakukan?" sesal Dinda sambil menepuk pelan dahinya panik.


"Tapi aku belum siap, aku takut karena rasanya sangat sakit!" ucapnya sambil menggigit ujung kukunya sambil mondar mandir seperti setrika itu.


.


.


.


Bersambung


.


.


.


Hay guys sorry baru up, sebenarnya kemaren author mau up, pas udah cape cape nulis eh malah kehapus.

__ADS_1


Jadi author urungkan karena mood yang terlanjur memburuk.


__ADS_2