My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Tugas


__ADS_3

Sorenya


Dean sedang duduk melamun memikirkan ucapan sahabatnya, beberapa saat yang lalu.


"Apakah benar, kau menikahinya demi warisan? aku tak yakin dengan hal itu, karena aku sangat mengenali dirimu." Kata kata Chalvin


Membuat Dean ikut bimbang dengan alasannya menikahi Adinda kala itu.


Tok...tok...tok....suara pintu diketuk.


"Masuk?" ucap Dean sambil menatap kearah pintu tersebut.


Dan masuk lah seorang wanita cantik dan sexy menghampiri mejanya, dia adalah Jovita seketaris Renof anak emas papanya.


"Permisi pak? maaf saya mengganggu, saya hanya mau memberikan laporan tentang perusaan dan keuangan." ucap jovita lembut sambil tersenyum manis.


"Terimakasih." jawab Dean sambil mengambil alih maf yang ada ditangan jovita saat itu.


Jovita kagum dan terpesona melihat ketampanan bos barunya itu, apa lagi ditambah dengan kemeja hitam lengan panjang menambah kesan sempruna dan maskulinnya Dean Sore itu.


Karena dipandangi seperti itu membuat Dean agar risih dibuatnya,. Apa lagi seketarinya itu dengan terang terangan memperlihatkan rasa kagumnya ke Dean.


"Apakah kau sudah selesai?" tanya Dean dingin. Membuat wanita yang ada dihadapan menjadi salah tingkah sambil menunduk malu, membuat Dean tambah kesal melihatnya.


Sebenarnya Dean sudah biasa melihat wanita yang malu malu dengan tatapan memuja untuknya, tapi tidak dia hiraukan malah sikap mareka terkesan murahan bagi Dean.


"Ah maaf pak, saya permisi?" jawab jovita malu sambil menepuk kepalanya menyesali kebodohannya sendiri.


.


.


.


Ditempat lain Dinda sedang duduk disofa, sambil menatap laptop yang ada dipangkuannya dengan serius.


Bagaimana tidak dia baru saja menerima tugas mendadak yang baru saja ia ketahuin dari salah satu teman kampusnya.

__ADS_1


"Banyak sekali?" keluh Dinda sambil menggaruk kepalanya prostasi melihat banyaknya tugas yang harus ia selesaikan kala itu.


"Ini semua karena Renof?" umpatnya kesal, bagaimana tidak? dia ijin kuliah kan gara gara Renof? makanya Renof yang salah atas kesialan yang dia hadapin saat ini.


"Semangat Adinda?" ucapnya lantang, memberi semangat untuknya sendiri.


Tak terasa malampun tiba, Dinda memutuskan untuk mebersihkan diri.


Dimana Dia sudah kelelahan, dan berniat untuk mandi malam itu.


Setengah jam kemudian Dindapun sudah selesai dengan ritual mandinya .


Ia saat ini sedang mengguna kaos putih dan celana pendek hitam selutut, memperlihatkan kakinya yang putih tampa cacat sedikitpun.


Membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona oleh kecantikan alami yang dimilikin Dinda saat ini.


Setelah merasa siap ia pun memutuskan untuk turun kebawah, berniat membantu bi Sri menyiapkan makan malam.


Tapi dia urungkan karena mendengar suara klason mobil, pertanda ada seorang yang datang.


Dinda pun memutusksn untuk membukakan pintu, dia melihat Dean berjalan sambil menenteng tas kerja dengan wajah lelah dan rambut acak acakan. Membuat Dinda tersenyum geli melihatnya, dan ia pun berinisiatif untuk membantu suami rasa iparnya tersebut, tidak lupa disalaminya suaminya itu.


"What is going on?" tanya Dean heran, Dinda hanya diam tampa menjawab ucapan Dean yang memandangnya penasaran saat itu. Melihat wanita dihadapannya yang bungkam tampa menjawab ucapanya itu membuat Dean menarik tangan Dinda sehingga membuat pandangan mareka bertemu.


Ada getaran aneh yang Dean rasakan ketika mata coklatnya menatap mata lejel Dinda, sehingga membuatnya jadi salah tingkah.


Dan bergegas mengalihkan pandangan takut bila kejadian malam kemaren terulang lagi.


.


.


.


Dinda membantu bi Sri membersihkan parabutan yang kotor, "Sudah non, biar bibi aja" ucap bi Sri tak enak.


"Gak apa apa bi, biar Dinda aja?" jawab Dinda tulus.

__ADS_1


"Bibi buatin minum aja buat papa Bima, sama Dean." kata Dinda pelan.


Bi Sripun mengiyakan perkataan Dinda, sambil berlalu pergi meninggalkan Dinda sendiri.


Beberapa menit kemudian bi Sripun kembali dengan secangkir teh hijau ditangannya. "Loh bi, koq gak diantar?" tanya Dinda heran "Tuan Deannya dikamar non, jadi sebaiknya non aja yang mengantarkannya." kata bi Sri sambil menyerahkan teh hijau ketangan Dinda.


Membuat Dinda menerimanya dengan setengah hati.


"Mereputkan saja?" umpatnya kesal.


"Hus...gak boleh gitu dengan suami?" Tegur bi Sri lembut.


Membuat Dinda hanya tersenyum kikuk, tak menyangka bila umpatannya didengar oleh bi Sri saat itu.


.


.


.Dinda memasuki kamar, namun tak ada tanda keberadaan Dean disana, Ia pun meletakkan teh itu dimeja rias yang terletak disebelah kanan tempat tidur.


.


.


.Bersambung


Maaf ya guys,


bila lama


upnya.


Karena kemaren kehapus terus jadi saya pusing dan menyerah pasrah.


Jangan lups like❀ n komentarnya ya?


Biar saya semangat nulisnya.

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2