My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Sahabat Dinda


__ADS_3

Malamnya


Dinda membuka matanya, Dia menatap jam yang ada dilayar hapenya suntak ia kaget melihat jam sudah pukul 20:32 malam Dan ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari via whatsapp dan panggilan biasa, semua panggilan itu dari mama Chinta


dan beberapa Chat Semuanya dari sang mama.


isi Chat mama Chinta


"Inda sayang, kamu kemana? kok telepon mama gak diangkat?"


Dan masih ada banyak lagi yang isinya hampir sama dengan yang diatas.


"Astaga Dinda? kok bisa lupa mengabari mama Chinta kalau udah sampai sich?" ucap Dinda sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.


Dinda hendak mencet tombol hijau berniat untuk menelepon balik mama mertua nya itu.


Tapi belum sempat ia menekan tombol hijau Hapenya lebih dulu berbunyi.


Dan tertara nama mama mertuanya dilayar hape, panggilan Vidio call. Dinda menggeser tombol hijau, sambil mengarah kan layar hape kewajahnya.


"Sayang... kamu gak papa kan?" Tanya mama di seberang disana.


"Dinda gak papa kok ma!" jawab Dinda sambil mengucek matanya.


"Kamu abis nangis ya?" tebak mama Chinta tepat sasaran.


"Nggak!" jawab Dinda bohong.


"Kok matanya merah?" tanya mama lagi tak percaya. "Mmm, Dinda habis banggun tidur makanya matanya merah." elak Dinda berbohong.


"Oh...!" jawab mama Chinta ragu.


"Kamu udah makan?" tanya mama lagi dengan nada sayang.


"Belum." jawab Dinda singkat.


"Ya udah, kamu cepat makan gih, ini udah malam, nanti kamu sakit." perintah mama Chinta khawatir.


Dinda hanya mengangguk patuh.


"Ya udah mama matikan dulu ya?"


"Iya ma." jawab Dinda sambil menganggukan kepalanya.


"Bye?" kata mama sambil melambaiksn tanggannya.


Dindapun membalas lambaian mertuanya itu sambil tersenyum manis.


Setelah hapenya mati Dinda pun masuk kekamar berniat untuk membersihkan tubuhnya yang lengket akibat keringannya sendiri.


.


.


Beberapa menit kemudian Dinda pun sudah sagar dan fress, walau matanya masih agak sebab, tapi tak separah yang tadi.


Dinda hanya menggunakan daster tipis yang melekat pada tubuhnya saat itu, sedangkan rambut diikat kuda.


Mengingat ia hanya sendiri maka ia berani memakai baju yang agak seksi mungkin.


.


.


Dinda berjalan kedapur, untuk mengabil air mineral, Tapi dihentikan oleh bunyi bel tanda bila ada tamu yang datang.

__ADS_1


"Ting tong" (anggap aja suara bell)


"Iya sebentar?!" teriak Dinda tak sadar bila orang diluar gak akan mendengar karena ruang itu kedap suara.


"Dinda memutar handle pintu pelan dan menemukan seorang wanita asing dihadapanya , yang sedang membelakanginya kala itu.


"Maaf cari siapa?" tanya Dinda pelan.


Spontan wanita itu memalingkam tubuhnya menghadap kearah Dinda kaget.


"Kamu siapa? Apakah ini benar apartemennya Ardean Anggara?" tanya wanita itu ragu sambil menatap Dinda menilai, Dinda yang sadar dipandang begitu, sontak menutup bagian dadanya, karena saat itu ia tak memakai bra.


"Iya benar!" jawab Dinda singkat.


"Apa dia ada?" tanya wanita itu lagi, dengan mata menatap tajam Dinda seperti tak suka.


"Deannya tidak ada, ia sedang keluar." balas Dinda lagi.


"Oh..." ucap wanita itu dengan mata masih menatap tajam Dinda.


"Maaf kalau boleh tau kamu siapa?" tanya wanita itu penasaran.


"Saya, istrinya!" jawab Dinda ragu,


Sontak


wanita itu menutup mulutnya dengan mata terbelalak kaget.


"A...pa? mustahil, kamu pasti bercanda?" ucap wanita itu setenggah berteriak, karena kaget.


"Maaf nona, Apakah anda sedang melihat saya sedang bercanda?" tanya Dinda agak kesal dengan tinggah wanita yang ada dihadapanya itu.


Wanita itu hanya diam, dengan matanya yang mulai berkaca kaca, Dinda bisa melihat itu.


"Maaf nona sebenarnya ada perlu apa dengan suami saya?" tanya Dinda penasaran karena wanita itu terlihat sedih.


"Sudahlah." cuap Dinda sambil menutup pintu lagi.


.


.


.


Paginya Dinda sudah rapi, karena hari ini ia masuk kuliah,


Dia saat ini sedang menggunakan celana panjang kain dengan bahan karet, namun tidak ketat dan baju putih berkerah, tidak ketinggalan jas dokter kebanggaannya, yang melekat indah membalut tubuhnya yang yang tinggi semampai itu.


Saat Dinda hendak beranggat dia dihentikan oleh bunyi hapenya, kali ini bukan dari mama Chinta, tapi dari Ardean Anggara.


Dean


"Hay, nyonya Anggara banggun!"


Dinda menjengit kan dahinya melihat isi chat itu.


Dinda


"Terima kasih, tapi maaf, kamu terlambat, karena sekarang aku sudah cantik!" balas Dinda narsis. sambil menyimpan hapenya ditas yang ia gunakan saat itu.


Baru beberapa langkah hapenya udah berbunyi lagi tanda ada pesan masuk.


Dindapun meraih hapenya, tertara foto Dean disana.


Dean

__ADS_1


"Narsis."😲😲


Dinda


"Emg."😎


Dean


"Abang Rindu neng...?"😍😍


Dinda geli melihat balasan dari Dean, membuatnya merasa ada getaran aneh yang masuk di tubuhnya saat itu.


Sebuah kehangatan yang mulai memasuki hatinya saat itu.


Dinda tak membalasnya ia binggung mau memjawab apa, dan akhirnya dia menyimpan hepanya lagi, tidak lupa menggunci apartemennya.


.


.


.


Kini Dinda sudah sampai di Univesitas katolik atma jaya salah satu kampus swasta yang ada di jakarta.


Terlihat suasana kampus yang masih sepi.


Dinda berjalan menuju bangku taman yang tak jauh dari tempat saat ini.


Dinda menghentikan langkahnya kala mendengar namanya dipanggil.


"Aduh pagi pagi, semangat betul?" kata wanita cantik itu sambil berjalan menghampiri Dinda.


"Iya dong, balas Dinda semangat.


"Ciiee, yang udah nikah, ceria banget ya?" Goda wanita itu lagi sambil mengedip matanya centil.


Sehingga membuat Dinda tersenyum kecut.


wanita itu menyengit alisnya melihat aura Dinda yang berubah sedih saat itu,


ya wanita itu adalah Wina Lestari sahabat karib Dinda.


"Apa ada yang tidakku tau?" tanya sambil mengengagam tangan Dinda.


Dindapun membawa sahabatnya itu ke bangku taman yang kosong. dan menceritakan


tentang Renof yang kabur, dan digantikan oleh sang adik, ia menceritakan tampa ada yang ia tutupi.


"Yang sabar ya, Din?" katanya sedih sambil memeluk iba Dinda saat itu.


.Dinda mengaguk kepalanya. "Maaf karena aku gak bisa datang, kamu tau kan ayahku yang sedang sakit sakitan, makanya aku gak tega ninggalin dia sendiri." jelas Wina panjang lebar.


"Gak papa kok!" balas Dinda tulus.


Marekapun larut tentang tugas kampus, sehingga membuat Dinda sedikit melupakan kesedihan saat itu. "Ini..!" kata Wina sambil menyerahkan catatan yang sudah dicopynya ke Dinda kala itu.


"Makasih banget ya Win." kata Dinda senang sambil menyambut kertas itu dengan duka cita..


"Iya, sama sama." jawab Wina tulus.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


hay guys jangan lupa like nya ya,?


__ADS_2