My sister - in- law my husband

My sister - in- law my husband
Ikuti isi hati


__ADS_3

Sebelumnya


Setelah sekian lama menumpahkan rasa yang ada didadanya, kini Dinda sudah mulai tenang.


Hening menyelimuti ruangan itu, Wina seakan memberi waktu untuk sahabatnya itu menenangkan dirinya.


Dean sudah pergi dari sana beberapa menit yang lalu, sehingga ia tidak menyaksikan kerapuhan wanitanya itu.


"Aku bingung Win, menurutmu, aku harus bagaimana?" Ucap Dinda dengan matanya yang masih berkaca kaca.


"Gak perlu kamu bingung, cukup kamu ikuti apa yang dihatimu, karena hatimu tidak akan pernah menipumu?!" jelas Wina sambil menunjuk dada sahabatnya itu.


Dinda hanya diam sambil mencerna apa yang diucapkan sahabatnya itu.


"Tapi bila mengikuti hati, aku merasa bersalah dengan Renof!!" ucap Dinda sambil memejamkan matanya, sehingga membuat genangan yang sejak tadi tertahan di kelupak matanya jatuh berderai, membasahi pipi mulusnya saat ini.


Wina memeluk tubuh sahabatnya yang terlihat sangat terpuruk itu.


"Hey...? jangan menangis, ok?" pinta Wina sambil menghapus air mata dipipi Dinda dengan ibu jarinya.


"Apanya yang bersalah!! dia sendiri yang meninggalkannya? bukan kamu, jadi untuk apa kamu merasa terbebani akan hal itu?" jelas Wina kepada sahabatnya itu.


Dinda hanya diam, memang benar apa yang sahabatnya katakan, tapi tetap saja dia merasa ada perasaan bersalah kepada Arenof, sehingga membuatnya hanya bisa menghela nafas berat.


"Hari ini kamu ke kampus gak?" tanya Wina lagi sambil menatap arloji yang ada ditangannya itu.

__ADS_1


Dinda hanya diam, terlihat sedang berpikir itu.


"Ke kampus aja, agar pikiran mu lebih baik?" pinta Wina sambil tersenyum manis, saking manisnya sehingga Dinda ingin sekali menjilatinya.


Dinda hanya mengangguk pelan sambil tersenyum membalas senyuman sahabatnya itu.


"Gitu dong!" kata Wina senang.


"Aku siap siap dulu." pamit Dinda sambil berlalu dari hadapan sahabatnya itu.


Wina hanya tersenyum simpul, sebenarnya ia pun tidak bisa membayangkan bila ada diposisi sahabatnya itu, bagaimana tidak, disaat ia baru saja bisa menerima kenyataan iparnya sebagai suaminya.


Namun disaat bersamaan pula Renof muncul mempurak puranda hati yang sudah susah payah ia yakini itu.


Sehingga membuatnya tersentak kaget dibuatnya saat itu.


"Ok?!" jawab Wina sambil tersenyum dan berjalan mengikuti Dinda yang sudah lebih dulu meninggalkannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dilain sisi, kini Dean sedang ada dibengkel miliknya.


Sebenarnya tidak ada yang ia kerjakan, hanya memeriksa barang suku cadang yang habis saja.


Namun itupun tidak ia lakukan pikirannya seakan penuh oleh bayangan Dinda, Sehingga membuat tidak pokus untuk berkerja.

__ADS_1


Dean menatap laporan yang terletak diatas meja kerjanya itu, dengan tatapan malas.


"Dia sedang apa ya?" pikir Dean sambil memejamkan matanya yang terasa berat itu.


Bila bisa jujur sebenarnya Dean enggan sekali untuk beraktivitas, namun mau bagaimana lagi.


Sebenarnya Dean lah yang meminta Wina untuk menemui istrinya tadi.


Dengan sedikit harapan agar bisa mengurangi kesedihan istrinya.


"Tok...tok...tok" suara pintu ketok, membuat lamanan Dean buyar.


"Masuk!" jawabnya sambil menatap kearah sumber asal suara itu.


Dan terlihatlah wajah Chalvin tidak lupa dengan senyuman tampannya saat itu.


Diikuti dengan Morren dan juga Remy dibelakangnya itu.


"Kusut bener bos kita ini?" sindir Remy yang langsung Duduk dihadapan Dean.


Sedangkan Chalvin dan Morren memilih untuk duduk di salah satu sofa yang memang disediakan untuk para tamu.


Bersambung


jangan lupa votenya ya guus?

__ADS_1


__ADS_2