
"Mengapa kau tak mengabariku? apakah mengabariku sesusah itu?" tanya Dinda sambil menatap manik coklat Dean lekat.
Dean hanya diam sambil menatap manik lejel Dinda sehingga membuat tatapan mareka terkunci.
Dean bisa melihat raut wajah cemas Dinda untuknya dan itu sukses membuat hatinya terenyuh melihatnya.
Sehingga tampa sadar tangan Dean sudah memeluk dan mencium bertubi tubi wajah Dinda saat itu.
Namun semuanya tak bertahan lama, karena dengan cepat Dean melepaskan pelukannya dan berlalu meninggalkan Dinda yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengan suaminya itu.
"Dean?" teriak Dinda ketika sudah memasuki alam sadarnya.
Dean menghentikan langkahnya tampa memalingkan tubuhnya sama sekali.
"Apa ini?" Tanya Dinda tak mengerti dengan suara bergetar.
Tapi bukannya memjawab Dean memilih masuk kekamar sambil merunggarkan dasinya masih melekat dilehernya saat ini.
Dinda masih bingung dengan tingkah suaminya itu, namun dia tak mau terlalu memikirkannya, dan memilih memanaskan masakan yang ia siapkan tadi di microwave.
Beberapa menit kemudian Dean sudah duduk dimeja makan dengan baju santainya.
Dinda memeberikannya secangkir teh hangat, tanpa berkata sepatah katapun dan mulai menyajihkan hidangan yang telah ia siapkan tadi dalam diam.
Dean hanya memandang lurus kedepan dengan wajah datar.
__ADS_1
Sambil sesekali mencuri panda kearah Dinda yang sedang sibuk memanaskan masakan itu.
"Wanita ini! benarkan milikku? apakah aku boleh memilikinya?" pikir Dean sambil mengusap wajahnya frustasi.
Dinda mengambilkan Dean nasi dan ikan kemudian memberikannya ke suaminya itu dengan masih bungkam.
Dean pun menyambutnya dengan diam tampa mengucapkan satu patah katapun.
Hanya suara senduknya menghiyasi kehiningan antara mareka saat itu.
Namun tiba tiba suara Dean memecahkan keheningan tersebut.
" Apa kah aku boleh bertanya sesuatu?" tanyanya sambil menatap lekat wajah istrinya saat itu.
"Boleh, mau tanya apa?" sahut Dinda sambil menghentikan makannya sambil menatap lekat wajah Dean saat itu, sehingga dia bisa melihat wajah frustasi Dean saat itu.
Dean pun menghembus nafas kasar dan kembali menatap wajah Dinda yang tampak khawatir itu.
"Apa? lanjutkan?" pinta Dinda karena Dean tak kunjung meneruskan ucapannya saat itu.
Sehingga membuatnya hampir mati katena penasaran dengan jantung berdegup dengan kencan was was dengan apa yang suaminya itu sampaikan.
Entah mengapa filing Dinda tidak baik.
"Tantang, ...?? Arenof, alasannya, pergi meninggalkanmu?" ucap Dean berat sambil memalingkan wajahnya kesembarang arah.
__ADS_1
Dean tak ingin melihat expresi Dinda saat dia menyebut nama Renof saat itu.
"Deg"
Jantung Dinda seakan berhenti berdetak, mendengar nama yang saat tidak ingin dia dengar saat itu.
"Bukan apa apa, aku hanya??" belum sempat Dean meneruskan kalimatnya namun berhenti karena tiba tiba Dinda berdiri dari duduknya.
Dean bisa melihat perubahan expresi wajah istrinya itu saat ini.
"Apa lagi aku yakin dia kabur bersama wanita lain?!" ucap Dinda sambil berlalu meninggal Dean sendiri.
Dean mengusap wajahnya frustasi sesekali memijat keningnya saat itu.
"Oh Tuhan apakah aku boleh egois?" ucapnya dengan wajah sedih tak berdaya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dinda masuk kekamar dan melemparkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya.
Matanya berkaca kaca yang bayangan pria yang telah tega mencampahkannya terlintas dalam benaknya saat itu.
"Aku benci!! sangat membencimu!! aku bersumpah tak akan pernah memaafkan penghinaan yang kau berikan Renof?!" guman Dinda dengan wajah sedihnya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa vote dan jempulnya.