
"Yank, bukan pintunya, tanggung yank,?" Teriak Dean dengan wajah frustasi, sambil mengedor pintu kamar mandi, Dimana Dinda berada saat ini.
Dean mengusap wajahnya kasar, sambil menghela nafas berat, bagaimana tidak saat tengah asyik memanjatkan gunung kenikmatan, tiba-tiba istrinya memintanya untuk menghentikan permainan mareka, dengan alasan yang tidak jelas, dan berlari pergi meninggalkannya dengan hasrat yang sudah naik sampai ke ubun-ubun.
Hampir lima belas menit lamanya ia mengetuk pintu kamar mandi, memohon dan mengiba Tampa lelah, agar istrinya itu kasihan padanya, namun tidak dihiraukan oleh sang istri, yang seakan tidak mendengarkan permohonannya itu.
...
Dikamar mandi, Dinda lagi merendam tubuhnya dibathub, sambil mendengarkan musik menggunakan henset dikedua telinganya, sambil tersenyum puas, Karena berhasil mengerjai suami itu.
"Emang enak!!" ucapnya puas, sambil sesekali bersenandung, mengikuti lagu yang ia dengarkan saat ini.
Sekitar sepuluh menit, iapun keluar, hanya menggunakan handuk putih polos, yang membungkus tubuh seksinya, memperlihatkan paha mulus miliknya, dengan kulit putih Tampa cacat sedikitpun, tetesan air menambah kesan seksi dirinya, yang belum kering sepenuhnya, membuatnya semakin menggoda, siapa saja yang melihatnya, termasuk Dean yang hanya bisa mengerang dalam hati saja, melihat tubuh muntuk istrinya itu.
Diliriknya Dean yang terduduk lemas ditempat tidur, sambil menatapnya penuh damba, namun Dinda tak menghiraukannya, ia pura-pura sibuk dengan mengeringkan rambut dan tubuhnya yang basah, menggunakan handuk kecil, sengaja menggoda suaminya itu.
"Yank, kamu kok tega?" ucap Dean lagi dengan nada mengiba, meminta belas kasih istrinya itu.
Dinda melirik sekilas wajah frustasi, Dean yang terlihat sangat tersiksa itu, karena menahan hasrat yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, bukannya kasihan, Dinda malah tersenyum senang dibuatnya.
"Maaf ya, kayanya aku lagi datang bulan, jadi gak bisa, gituan!" bohong Dinda asal, sambil menangkap kedua tangannya, dengan wajah menyesal sok menyesal.
__ADS_1
Namun entah kenapa Dean seperti percaya dengan alasannya itu, yang membuat Dinda tidak bisa menahan suaranya tawanya lagi.
"Kira-kira kapan selesainya?" tanya Dean polos Tampa curiga sedikitpun, karena selama setahun bersama sang istri, tak sekalipun Dinda membohongi dirinya, kecuali hari itu tentunya, hahaha.
"Hahaha" tawa Dinda sambil memegang perutnya, saat melihat mimik wajah suaminya itu.
Dean memicing matanya curiga, "Kamu ngerjain aku?" tebaknya tepat sasaran, karena melihat tawa Dinda menggema di ruangan itu.
"Tidak... untuk apa aku melakukannya, aku saja juga ingin, gituan?" jawabnya pura-pura malu-malu, sambil menghapus cairan bening yang membasahi pipinya, karena terlalu lama tertawa.
Dean hanya diam sambil mengacak-acak rambutnya frustasi, dan berlalu kekamar mandi, untuk mendinginkan otaknya yang terlanjur memanas.
Hancur sudah rencana yang ia susun jauh-jauh hari, karena istrinya yang tiba-tiba dapat tamu bulanan.
"Tunggu?! emang orang hamil bisa haid?" ucapnya baru nyadar, bila lagi dikerjai sang istrinya.
"Dinda!!" geramnya dalam hati.
Sementara Dinda , sedang bersorak girang, penuh kemenangan, melihat wajah frustasi dirinya saat itu, ia tidak tahu saja, bila suaminya itu sudah mengetahui semua.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kini Dinda sedang ada diRS tempatnya bertugas, senyum manis tidak pernah lepas dari bibir mungilnya saat itu.
Entah mengapa ia sangat bahagia hari ini.
"Ehemm..." suara deheman keras, membuyarkan senyumnya saat itu, sambil melihat arah sumber suara itu berasal.
Terlihat Wina tengah menatapnya, sambil tersenyum menggoda.
Dinda mendengus pura-pura sebel. "Ciiee...Ada yang lagi bahagia nih...?Gimana berapa ronde?!" tanyanya sambil menarik turun kedua alisnya genit.
Dinda mendorong kening Wina pelan, geli melihat kelakuan sahabatnya itu, yang otaknya mesum abis. "ini anak perawan orang, otaknya kok mesum gini ya?" sindir Dinda dengan mimik muka penuh sindiran.
Wina hanya tersenyum, sambil mendudukkan tubuhnya disamping sahabatnya itu.
"Siapa lagi gurunya?" jawabnya Wina sambil melirik Dinda dengan nada mengejek, dan tak kalah nyebelin, karena melihat tanda merah dileher sahabatnya itu.
Replek Dinda menutupi lehernya kaget, " Ya Tuhan...kok bisa lupa?" pekiknya kaget, sambil mengambil cermin kecil dari tas jinjing miliknya.
"Dean...!!" ucapnya geram dengan suara tertahan, saat melihat banyak bercak merah dileher dan diatas dadanya saat itu, Wina hanya tersenyum geli melihat wajah cantik sahabatnya itu merah bak kepiting rebus.
"AAKKHH..." geramnya sebel, niat hati ingin mengerjain suaminya itu, malah terbalik dikerjain.
__ADS_1
Bersambung